Resolusi Jihad jadi Pemantik Semangat Juang Seluruh Lapisan Masyarakat

foto:
KH Hasyim As’yari memimpin rapat para kiai hingga tercetusnya Resolusi Jihad. Hal ini digambarkan dalam film Sang Kiai.@KBID2019

KAMPUNGBERITA.ID – Sejarah telah mencatat bahwa santri telah berperan penting dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Untuk itu, pemerintah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Seruan menggelegar dari Bung Tomo melalui radio saat pertempuran dahsyat di Surabaya mampu membangkitkan semangat rakyat untuk berjuang melawan tentara asing. Namun, bagi warga Nahdliyin, ada seruan lain yang lebih hebat dan membangkitkan semangat juang mereka, yakni Resolusi Jihad.

Resolusi Jihad inilah yang menjadi pemantik semangat juang seluruh lapisan rakyat hingga pemimpin di Jawa Timur terutama di Surabaya untuk berjuang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari Belanda dan pihak asing lainnya yang mencoba merongrong kembali kemerdekaan bangsa.

Resolusi Jihad memiliki pengaruh yang besar dalam menggalang umat Islam khususnya untuk berjuang mengangkat senjata. Seruan yang dikeluarkan oleh NU yang ditujukan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan umat Islam Indonesia untuk berjuang membela Tanah Air dari penguasaan kembali pihak Belanda dan pihak asing lainnya beberapa waktu setelah kemerdekaan diproklamirkan.

Melalui pesantren yang didirikannya dan juga jam’iyah NU, KH Hasyim Asyari menanamkan nasionalisme dan patriotisme yang kelak mengobarkan api perlawanan rakyat terhadap kolonialisme yang telah mengakar berabad-abad lamanya.

Sekadar diketahui, 10 November 1945, terjadi pertempuran dahsyat arek-arek Surabaya melawan tentara sekutu NICA (Netherlands-Indies Civil Administration) dan sekutunya. Jika melihat kilas balik, peristiwa itu terjadi bukan secara tiba-tiba, melainkan ada pemantik yang menimbulkan peristiwa bersejarah itu terjadi.
Belum lama setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945, terjadi peperangan hampir di semua kota penting di Jawa untuk mempertahankan kedaulatan negara. 74 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 22 Oktober 1945, terjadi peristiwa penting dalam rangkaian sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan kolonialisme.

Delegasi NU se-Jawa dan Madura mengadakan pertemuan di kantor PB ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) di Jl. Bubutan VI/2 Surabaya pada tanggal 21 Oktober 1945, pertemuan yang dipimpin langsung oleh pendiri NU, Kiai Hasyim Asy’ari, menyatakan perjuangan kemerdekaan sebagai jihad (Perang Suci) dan menentang kembalinya Belanda adalah kewajiban setiap Muslim (fardhu ‘ain).

PBNU menetapkan satu keputusan dalam bentuk resolusi yang kemudian terkenal dengan sebutan Resolusi Jihad yang dimaklumkan pada tanggal 22 Oktober 1945.

Sejak dimaklumkan tanggal 22 Oktober 1945, Surabaya guncang oleh kabar seruan jihad dari PBNU ini. Dari masjid hingga mushalla di setiap desa menyiarkan seruan jihad yang dengan sukacita disambut penduduk Surabaya yang sepanjang bulan September sampai Oktober telah meraih kemenangan dalam pertempuran melawan sisa-sisa tentara Jepang yang menolak tunduk kepada arek-arek Surabaya.

Resolusi jihad inilah yang kemudian memicu peristiwa bersejarah 10 november 1945 di Surabaya yang menurut William H. Frederick (1989) sebagai pertempuran paling nekat dan destruktif yang tiga minggu di antaranya sangat mengerikan jauh di luar yang dibayangkan pihak Sekutu maupun Indonesia.

Dugaan Mayor Jenderal E.C.Mansergh bahwa kota Surabaya bakal jatuh dalam tiga hari meleset, karena arek-arek Surabaya baru mundur ke luar kota setelah bertempur 100 hari.

Sayangnya peran santri dan para ulama pada peristiwa tersebut tidak ditulis dalam sejarah nasional Indonesia. Sehingga ada catatan penting yang hilang, yaitu catatan mengenai Resolusi Jihad sebagai konteks peperangan yang akhirnya ditandai secara nasional sebagai Hari Pahlawan.

Sejarah telah mencatat bahwa santri telah berperan penting dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Kini para santri diharapkan dapat meneladani semangat jihad cinta tanah air, rela berkorban untuk bangsa dan negara sebab berjuang membela Tanah Air adalah wajib.

Peringatan Hari Santri merupakan penghormatan atas jasa para santri yang turut berjuang memerdekakan Indonesia dan menumbuhkan rasa patriotisme di kalangan generasi bangsa Indonesia. Dan santri dimasa kini harus memiliki konsep dan gagasan untuk mengisi kemerdekaan. Tentunya, perjuangan pada saat ini tidak sama seperti zaman dulu, dimana perjuangan menggunakan fisik dan mengangkat senjata untuk mengusir penjajah.
Penasehat Eksekutif Pusat Kajian Pemikian Hasyim Asy’ari Tebuireng, Dr H Mif Rohim Syarkun, MA mengingatkan, Hari Santri Nasional (HSN) — yang jatuh pada 22 Oktober itu — jangan hanya diisi dengan hiruk pikuk (seremonial) belaka. Tantangan bangsa ini, semakin kompleks. Butuh reaktualisasi, revitalisasi pemikiran dahsyat Mbah Hasyim dalam berbangsa dan bernegara.

“Tanggal 22 Oktober itu hari Resolusi Jihad. Saat itu (22 Oktober 1945 red.), Kiai Hasyim Asy’ari mengeluarkan maklumat ‘wajib jihad’ melawan kolonialisme dan imperialisme. Dasar ijtihad beliau ini harus diwariskan kepada generasi bangsa. Ini kalau kita masih cinta Indonesia,” demikian disampaikan Dr H Mif Rohim Syarkun, MA, Wakil Rektor 3 Universitas Hasyim Asy’ari (UNHASY).

Menurut Dr Mif, fatwa Resolusi Jihad yang dicetuskan Kiai Hasyim itu, telah menjadi inspirasi bagi seluruh elemen bangsa untuk meneguhkan kedaulatan Indonesia. Maka, sebagai santri (khususnya), umat Islam Indonesia (umumnya), perlu tahu dasar pemikiran Kiai Hasyim.

“Mengapa beliau sampai berani mengeluarkan fatwa wajib jihad? Ini tidak sembarangan. Apalagi dalam fatwa itu, beliau tegaskan, siapa yang membangkan boleh dibunuh. Coba! Belum ada ulama zaman sekarang yang mampu berpikir seperti beliau,” tambah Pendiri dan Mantan Ketua PCI NU Malaysia ini.

Dia berpesan, memperingati Hari Santri Nasional (HSN) jangan sekedar hiruk pikuk. “Silakan menggelar gerak jalan massal, silakan mengibarkan bendera, silakan. Tetapi, yang lebih penting adalah bagaimana memahamkan pemikiran (ijtihad) Mbah Hasyim ini kepada generasi sekarang. Ini yang terpenting,” tegasnya.KBID-berbagai sumber