
KAMPUNGBERITA.ID – Gempa berkekuatan 7,7 skala richter (SR) mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah. Gempa terjadi sekitar pukul 17.02 WIB, Jumat (28/9). Akibat gempa tsunami terjadi di Palu dan Donggala.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, gempa tersebut terjadi di 0.18 lintang selatan dan 119.85 bujur timur. Tepatnya di 10 km barat laut Donggala.
Pusat gempa berada di kedalaman 10 km. Gempa besar itu berpotensi memicu tsunami. Peringatan dini tsunami untuk wilayah Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah pun dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika ( BMKG).
Melihat laman BMKG, ternyata Donggala tak hanya diguncang sekali gempa berkekuatan besar.Dari catatan BMKG, setidaknya ada 7 kali gempa yang mengguncang Donggala. Gempa pertama terjadi tepat pukul 2 siang dengan kekuatan 5,9 skala richter. 28 menit kemudian, gempa kedua terjadi dengan kekuatan 5.0 skala richter dengan kedalaman yang sama yakni 10 km. Gempa ketiga terjadi pukul 15.25 WIB dengan kekuatan 5.3 SR. Gempa keempat adalah gempa berkekuatan 7,7 SR dengan potensi tsunami.
Akibat peristiwa tersebut, sementara dilaporkan hingga pukul 16.30 WIB, 11 orang dilaporkan menjadi korban. Satu di antaranya meninggal.
“BPBD Kabupaten Donggala tercatat satu orang meninggal dunia, 10 orang luka-luka dan puluhan rumah rusak,” ujar Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Humas BNPB, dalam keterangan tertulis, Jumat (28/8).
Menurut Sutopo, gempa tersebut dirasakan di wilayah Donggala, Palu, hingga Poso. Sutopo menambahkan, sebagian besar korban tertimpa reruntuhan bangunan.
“Korban tertimpa oleh bangunan yang roboh. Evakuasi masih dilakukan oleh petugas. Pendataan dan penanganan darurat masih dilakukan,” ujar Sutopo.
Kabupaten Donggala diguncang gempa berturur-turut. Tercatat, dalam 90 menit, tiga gempa mengguncang. Pusat gempa dirasakan warga dengan intensitas getaran yang kuat.
Sementara di Palu, warga yang terimbas gempa Donggala, menyebut lindu terjadi di sekitar Donggala, Sulawesi tengah, menyebabkan tanah retak dan ombak meninggi di Palu, Sulawesi Tengah.
“Saya kan enggak terlalu jauh dari laut, air tuh sampai naik,” ucap Daniel, warga Palu, Jumat (28/9) sore.
“Ombak itu bukan tsunami tapi, mungkin efek guncangan,” imbuhnya.
Sebagai bukti, ia menyebut kantor Pertamina, yang berhadapan langsung dengan pantai di Palu, Sulteng, sempat tertelan gelombang.
“Petugas Pertamina barusan lewat, dia kena hantaman ombak,” aku Daniel.
Selain berdampak pada gelombang laut, ia menyebut gempa itu membuat tanah di sekitar tempat tinggalnya retak.
“Tanah di sekitar saya retak semua,” ucapnya.
Di samping itu, gempa Donggala juga disebut membuat listrik mati total. Ia juga mengaku bahwa sinyal telepon seluler sulit didapat saat gempa.
Hingga saat ini, aku Daniel, gempa masih terus terasa. “Kadang terasa lebih kecil, atau malah lebih kuat, atau sama saja,” aku dia.
Ia menambahkan bahwa rangkaian gempa itu membuat warga Palu berhamburan menuju tempat yang lebih tinggi demi menyelamatkan diri dari potensi tsunami.
“Semuanya keluar rumah dan pada takut akan terjadi tsunami dan mungkin kota ini kehilangan warga lari ke gunung semua,” ungkap dia.
Terpisah, Dirga Maulansyah, warga Luwu Timur, Sulsel, menyebut warga sempat berhamburan keluar rumah saat gempa mulai mengguncang.
“Sekitar pukul 6 sore, warga bersiap di masjid. Ketika terasa ada gempa, warga berhamburan, saya juga, ke jalan. Terasa sekali dan ikut bergoyang,” tuturnya.
Selain di Palu, getaran juga terjadi di Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel). Informasi dihimpun, getaran gempa dirasakan warga di Kecamatan Nuha, Towuti, Malili, Angkona, Wotu dan Tomoni. Getaran gempa berlangsung sekitar 10 detik, getarannya sangat terasa.
Banyak warga yang berlarian keluar rumah saat gempa sedang terjadi. “Sampai retak dinding rumah kostku karena gempa,” kata warga Malili.
“Lumayan keras juga dirasakan kami di Sorowako,” tutur Wahyu warga Desa Sorowako, Kecamatan Nuha.
Getarang kuat akibat gempa Donggala juga terjadi di Gorontalo. Sejumlah warga Gorontalo mengakui turut merasakan getaran gempa bumi, Jumat (28/9). Sejumlah warga di Kelurahan Tomulobutao ke luar keluar rumah, setelah merasakan guncangan gempa tersebut yang terjadi hampir sekitar lima menit.
“Guncangannya sangat terasa dan cukup lama, dari guncangan kecil ke guncangan besar lalu semakin pelan. Kami memutuskan ke luar rumah untuk menyelamatkan diri,” kata salah seorang warga, Wawan Akuba.
Meski demikian, setelah gempa reda warga tak lagi merasakan panik dan beraktivitas seperti biasanya. Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Gorontalo Fathuri mengatakan pusat episenter gempa tidak terdapat di daerah tersebut, namun penjalaran gelombang atau energinya dirasakan sampai ke wilayah Gorontalo.
Sementara Badan Meteologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, Gempa Bumi Donggala susulan itu berpusat di 27 kilometer timur laut Kabupaten Donggala dan berpotensi tsunami.
Sejumlah daerah bahkan dinyatakan berstatus siaga dan waspada terhadap potensi tsunami akibat Gempa Bumi Donggala.KBID-NAK

