
KAMPUNGBERITA.ID – Jalan-jalan di pemukiman penuh warna di Kampung Warna Warni cukup membius wisatawan untuk berlama-lama di lokasi tersebut. Sebelumnya, wisata yang terletak di Kampung Jodipan, Malang tersebut merupakan sebuah area kumuh yang kusam.
Berawal dari ide sejumlah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang ingin mengubah wajah kumuh tersebut melalui lukisan murah dan mewarnai tembok-tembok luar rumah warga di sana.
Sekarang, hampir setiap bagian dari Kampung Jodipan menjadi tempat yang sempurna bagi para fotografer dan pecinta selfie. Beberapa spot yang terkenal di antaranya pemadangan dari Jembatan Embong Brantas. Di sini, bisa disaksikan rumah penuh warna bak pelangi dari Kampung Warna-Warni dan mengambil gambar-gambar pemandangan yang penuh warna ini.
Selain itu, ada spot penyeberangan sungai di atas jembatan mendebarkan lantaran jembatan terbuat dari kaca. Jembatan ini menghubungkan antara Kampung Jodipan dengan Kampung Tridi. Jembatan yang melintas di atas Sungai Brantas tersebut memiliki dasar kaca dan disebut-sebut mirip dengan jembatan kaca di Zhangjiajie, Cina.
Ada juga Balai Payung. Balai Payung terletak di komplek utama Juanda. Tempat ini biasanya ramai dipenuhi oleh para wisatawan karena tempatnya yang sempurna untuk
Kampung Warna Warni juga dilengkapi dengan spot Lukisan 3D. Selain tembok penuh warna, wisatawan juga bisa menemukan tempat yang terdapat mural 3D dengan gambar hiu, gorilla, T-Rex, dan binatang lainnya.
Dilukis dengan indah, lorong tangga ini dihias dan diciptakan untuk membuat spot foto yang menarik. Turunlah melalui tangga ini dan nikmati suasana penuh warna dari kampung ini.
Selain spot-spot tersebut, sejumlah pengunjung juga berkeliling gang-gang sempit di dalam kampung yang berada bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, sementara warga di sana tetap beraktivitas seperti biasa. Sesekali para wisatawan mengambil foto suasana kampung ataupun ‘selfie’.
Para wisatawan itu, ada yang masuk ke dalam permukiman ataupun berfoto di atas jembatan dengan latar belakang Kampung Jodipan.
Seperti dilansir BBC, Ketua RW 2 Kelurahan Jodipan, Soni Parin tak menyangka kampungnya yang dulu dikenal sebagai permukiman kumuh menjadi obyek wisata alternatif.
“Saya yang punya kampung bingung sendiri, apa ya yang mereka lihat?. Ada orang Belanda dan Australia juga yang ke sini,” kata Soni.
Sekitar 107 rumah warga di sini tampak dicat dengan 17 sarana, dengan gambar yang dilukis komunitas mural.
Koordinator Guyspro,kelompok mahasiswa UMM yang mencetuskan ide Kampung Warna Warni, Nabila Firdausiyah mengaku awalnya ingin mengubah perilaku warga di bantaran sungai yang membuang sampah ke sungai, Jodipan dipilih lantaran terlihat memiliki lanskap yang bagus dilihat dari jembatan Jalan Gatot Subroto.
“Kami melibatkan komunitas mural dan seniman untuk melukis dinding rumah warga,” katanya. Dikerahkan sebanyak 30 tukang cat untuk mengubah wajah kampung kumuh Jodipan. Dia mengaku tak menyangka Jodipan kemudian menjadi tujuan wisata.
Awalnya pengecatan kampung dilakukan agar rumah-rumah di sana tak terlihat ‘kusam’ dan agar masyarakat memperhatikan masalah sanitasi. Usulan itu pun disampaikan kepada Soni, yang kemudian meminta persetujuan dari tokoh masyarakat di kampung tersebut.
Pengecatan dilakukan oleh masyarakat dengan bantuan tentara dan juga bantuan salah satu produsen cat di Malang pada Juni 2016.
“Warga membantu secara sukarela, ya membantu mengecat ada yang membantu konsumsi,” kata Soni.
Kampung ini mulai dikenal luas sejak fotonya dibagikan ke media sosial.
Meski secara fisik kondisi rumah warga di kampung ini sudah diperbaiki dan temboknya dicat warna-warni, tetapi masalah utama di permukiman ini yaitu sanitasi belum dapat teratasi pada awalnya.
Soni mengatakan tak semua rumah memiliki toilet dan warga sering membuang sampah di sungai. Tetapi rupanya, kedatangan para wisatawan justru mengubah perilaku warga.
Sebuah toilet umum digunakan warga secara bergantian. “Dulu membuang sampah ya ke sungai, sekarang malu banyak orang datang masa perilakunya tetap,” kata Soni.
Sejumlah tempat sampah untuk menampung sampah warga dan pengunjung. Sampah-sampah itu akan diangkut petugas kebersihan setiap hari.
Kampung Jodipan dihuni warga pendatang yang mendirikan rumah di tanah milik Negara tersebut. Soni mengaku telah mendengar kampung ini terancam digusur dan warga akan direlokasi ke rumah susun.
“Kami memang menempati tanah negara, tapi setiap tahun tetap membayar pajak bumi dan bangunan,” jelas Soni. KBID-NAK

