KampungBerita.id
Headline Olahraga Teranyar

Lagi-lagi Persebaya Tak Miliki Home Base, Legislator: Stadion Bukan Sekadar Prasasti!

Stadion Gelora Bung Tomo.@KBID2021

KAMPUNGBERITA.ID – Polemik soal boleh tidaknya Persebaya menggunakan Stadion Gelora Bung Tomo dan Stadion Gelora 10 November membuat para anggota DPRD Surabaya berkomentar. Mereka menilai, semestinya persoalan politis sudah selesai dan harus dikesampingkan demi kemajuan persepabolaan di Surabaya.

Pada periode sebelumnya, Persebaya juga terkatung-katung tak memiliki home base dengan beragam alasan mulai rumput stadion, renovasi dan lain sebagainya termasuk ‘didiamkanya’ stadion lantaran akan digunakan untuk ajang Piala Dunia waktu itu meski akhirnya batal digelar.

Kali ini, Persebaya pun tak memiliki home base menghadapi Piala Menpora dan menjelang bergulirnya Liga 1 Indonesia. Hal ini lantaran surat pengajuan sewa stadion yang diajukan Manajamen Persebaya tak juga mendapat jawaban pasti. Lagislator menilai, ada muatan politis terkait tertundanya pemberian izin stadion untuk Persebaya.

‘”Saya mengatakan tertunda, karena masih ada hitung-hitungan politik, padahal menurut saya persoalan politis sudah selesai, sekarang saatnya membangun bersama, bukan saling menyingkirkan,” kata Anggota Komisi A DPRD Surabaya, Arif Fathoni, Sabtu (20/3).

Menurutnya, bagaimanapun juga, Persebaya adalah denyut nadi warga Surabaya, untuk itu tim kebanggaan ini harus mendapatkan perlakuan khusus dari Pemkot Surabaya, terlepas ada polemik dengan Manajemen, itu harus segera diselesaikan

Arif Fathoni mengatakan, bahwa sejak dahulu kala, masyarakat pecinta bola di Surabaya sudah mengetahui bahwa Surabaya adalah kandang Persebaya. Bahkan saat itu ketika ada Asyabab dan Niac Mitra semuanya berkandang di Surabaya dan tidak ada hambatan untuk menggunakan stadion.

“Surat Pemkot yang menolak secara halus digunakannya 2 stadion di kota Surabaya untuk home base Persebaya tentu sesuatu yang mengagetkan dan melukai perasaan masyarakat pecinta Persebaya,” ujarnya Sabtu (20/3).

Menurut pria yang juga Ketua Golkar Surabaya ini dua stadion tersebut dibangun dengan menggunakan uang pajak dan retribusi rakyat. Tentu bertujuan menimbulkan kebanggaan warga Surabaya mana kala gedung tersebut dipakai berlaga tim kebanggaan warga Surabaya. Stadion tersebut dibangun tidak untuk digunakan hanya sebagai prasasti.

“Kalau ada kebuntuan komunikasi antara Pemkot dengan Manajemen Persebaya sebaiknya diselesaikan dengan duduk bersama untuk mencari kata mufakat. Karena kalau terjadi kebuntuan yang dirugikan adalah masyarakat pecinta bola di Kota Surabaya,” lanjutnya.

Menurut mantan wartawan ini manfaat ketika dua stadion tersebut dipakai home base Persebaya maka Pemkot akan mendapatkan pemasukan dari pajak dan retribusi secara reguler. Yang bisa digunakan untuk biaya perawatan stadion.

“Karena kalau hanya mengandalkan uang dari APBD untuk biaya perawatan maka OPD tersebut patut diduga tidak memiliki inovasi untuk mengembangkan aset yang dibangun dengan dana ratusan milyar. Yang lebih penting kasihan rakyat uang pajaknya dipakai untuk membangun dan merawat tapi tidak bisa menikmati suguhan olahraga,” imbuhnya.

Terpisah Sekretaris Komisi B yang juga Ketua Pansus Pemanfaatan Barang Milik Daerah, yang di dalamnya membahas penyewaan stadion, Mahfudz mengatakan, sikap yang sudah ditunjukkan Dispora Pemkot Surabaya itu adalah tanda bahwa mereka tak memiliki niat baik atau goodwill terhadap kemajuan sepakbola lokal, khususnya Persebaya. Ia juga melihat Pemkot ada niat untuk mengenyampingkan Persebaya.

“Pemkot ini tidak ada niat baik. Sekecil pun tidak ada. Kemarin-kemarin ketika Pansus, kami di DPRD terima saja. Karena memang untuk sepakbola dan Persebaya. Lha kok sekarang malah begini. Menelan ludah sendiri ini kayaknya pemkot,” lanjut pria yang juga Ketua DKC Garda Bangsa Surabaya ini.

Menurut dia keputusan tak memberi lampu hijau kepada Persebaya menjadi atensi khusus Komisi B DPRD Kota Surabaya, dalam pembahasan pansus sewa Gelora 10 Nopember. Dia menegaskan akan mengawal dan menekan Pemkot agar memberikan atensi kepada Persebaya yang selama ini sudah mengharumkan nama Surabaya.

Apalagi, menurut Mahfudz, selama ini Persebaya sudah dianak tirikan. Mereka tak bisa menggelar latihan di Surabaya. Biasanya di lapangan Polda Jatim, lapangan Gelora Delta Sidoarjo, maupun di lapangan Bumimoro. Ini tanda bahwa Pemkot tak welcome kepada Persebaya. KBID-DJI-BE

Related posts

Minta Lanjutkan Kepemimpinan Risma, Puluhan Warga ‘Geruduk’ Rumah Wawalì Whisnu Sakti

RedaksiKBID

Gelar Aksi, GMNI Jatim Minta Sindikat Mafia Pupuk Bersubsidi Diberantas

RedaksiKBID

Optimalisasi Penanganan Banjir, Pemkot Siapkan Bozem di Tubanan

RedaksiKBID