
KAMPUNGBERITA.ID – Banjir yang kerap melanda Surabaya saat musim penghujan harus dicarikan solusi. Pasalnya, banjir musiman tersebut terus terjadi dan belum ada solusi yang benar-benar bisa meminimalisir genangan air saat banjir. Hal ini menjadi perhatian serius kalangan DPRD Surabaya.
Sekretaris Komisi C DPRD Kota Surabaya, Alif Iman Waluyo mengatakan, perlu ada Kerjasama yang intens berbagai kalangan Surabaya guna mengatasi masalah tersebut. Menurutnya, tanpa melibatkan sejumlah pihak yang terkait, mustahil banjir bisa tertangani dengan baik.
Salah satu solusi yang perlu dilakukan adalah dengan menambah rumah pompa. Seperti diketahui, saat ini Surabaya memiliki 77 rumah pompa. Sebanyak 16 di antaranya baru dibangun tahun 2023-2024.
Selain rumah pompa, kata dia, keberadaan bozem atau waduk mini juga cukup efektif untuk mengendalikan banjir di satu perkampungan. Dia mencontohkan di wilayah Kebraon yang memiliki bozem dan cukup efektif mengendalikan banjir.
“Yang jelas, saluran-saluran pembuangan air ke sungai- sungai besar, khususnya di Sungai Brantas, memang harus diperbanyak. Selain itu, saluran tersebut tidak mampet atau tersumbat sampah, sehingga air dari perkampungan atau kompleks perumahan segera bisa terurai,” tandas Alif, Jumat (7/2/2025).
Untuk itu, ujar dia, hal ini akan dibahas panitia khusus (Pansus) dari Komisi C untuk membahas Raperda Pengendalian dan Penanggulangan Banjir yang merupakan Raperda Inisiatif DPRD Kota Surabaya.
Terkait akan dimulainya pembahasan raperda tersebut, dia meminta kepada Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM) Surabaya untuk segera melakukan aksi nyata guna mengatasi permasalahan banjir tersebut.
“Ya, mungkin perlu ada pembangunan drainase atau saluran air pada titik-titik yang skala banjirnya memang tinggi atau menjadi langganan banjir. Ya, nanti daerah- daerah seperti itu akan kita tinjau,” ujar dia, Jumat (7/2/2025).
Dia menjelaskan, lantaran Surabaya merupakan daerah dataran rendah yang banyak memiliki anak sungai maka pansus nanti akan fokus menanggulangi banjir melalui hilirnya atau ujungnya lebih dahulu.
“Apakah di sana (hilir, red) ada kendala atau tidak. Apabila muara-muara yang menjadi pembuangan air tersebut dapat terselesaikan, maka kita akan merambah ke daerah-daerah perkampungan ataupun ke daerah yang memang mempunyai anak sungai atau got besar, “beber dia.
Meski Pemkot Surabaya telah berupaya keras mengatasi permasalahan banjir, namun Alif melihat masih belum maksimal. Dalam artian, banjir di sejumlah lokasi yang di situ dilakukan pembangunan drainase, ternyata hingga akhir 2024 belum ada hasil yang nyata. Karena sejumlah daerah atau lokasi masih menjadi langganan banjir.
Untuk itu, Alif mendorong Pemkot Surabaya untuk terus menambah pembangunan rumah-rumah pompa baru di sejumlah titik untuk mengurangi risiko banjir dan meningkatkan infrastruktur drainase. Lantaran rumah pompa ini dinilai efektif bekerja untuk mempercepat laju air dari daratan kota menuju ke laut. Sehingga saat terjadi banjir atau genangan bisa lebih cepat dan mudah surut.
“Rumah pompa ini bisa menjadi solusi mengatasi permasalahan banjir di Surabaya karena sangat efektif mengurai air dari beberapa perkampungan atau kompleks perumahan. Selanjutnya, air dialihkan ke sungai-sungai besar menuju laut. Saya rasa pembangunan rumah pompa memang harus ditambah,” tegas dia KBID-PAR-BE

