
KAMPUNGBERITA.ID-Himpunan Mahasiswa Administrasi Bisnis (HIMABIS), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas WR Supratman (Unipra) menggelar seminar nasional keamanan data dengan tema “Membangun Keamanan Data
Konsumen dan Tata Kelola Perusahaan yang Inovatif dan Adaptif di Era Digital Abad 21”, Rabu (14/1/2026).
Ketua Program Studi (Kaprodi) Administrasi Bisnis, Muthowif menyampaikan, bahwa seminar nasional tersebut mendapat respons positif dari kalangan pelajar SMK/SMA dan mahasiswa di Surabaya. “Alhamdulillah, peserta seminar dari berbagai kalangan, mulai dari SMA/SMK hingga mahasiswa baik dari kampus Unipra maupun dari luar kampus. Kalangan dosen juga hadir hingga acara selesai,” ujar dia.
Dia menegaskan, sebagai ketua prodi administrasi bisnis, dirinya akan berusaha semaksimal mungkin mempersiapkan mahasiswa administrasi bisnis dengan berbagai kegiatan, mulai dari seminar seperti ini, praktek kewirausahaan maupun praktek perpajakan.
Lebih lanjut, Muthowif mengapresiasi kinerja panitia pelaksana serta kualitas narasumber yang dihadirkan dalam kegiatan tersebut. Pemateri yang
dihadirkan para praktisi di bidang tata kelola perusahaan. Seperti Muh. Samsul Hadi (Direktur dan Founder CV Gilang Pratama), dan seorang ahli di bidang Masterplan Teknologi Informasi dan Software Development, Hartono ( Direktur dan Founder PT Bensae Kreasi Indonesia.
Muthowif berharap, kegiatan semacam ini bisa memberikan dampak positif bagi peningkatan daya saing mahasiswa administrasi bisnis ke depan, sehingga lulusan administrasi bisnis mampu bekerja perusahaan privat maupun perusahaan publik. “Harapan kami, mahasiswa administrasi mampu bersaing dengan lulusan kampus yang lainnya, dan mampu bekerja perusahaan privat maupun perusahaan publik,”ungkap dia.
Dalam pemaparannya, Hartono menyebut bahwa ancaman terhadap keamanan data tidak semata-mata berasal dari serangan eksternal, melainkan justru banyak dipicu oleh perilaku keseharian masyarakat dalam bermedia sosial.
”Memang teknologi itu ada risiko keamanan data dan risiko-risiko lainnya, tetapi bukan berarti kita harus parameter terhadap teknologi itu juga,”tandas dia.
Hartono menegaskan, penggunaan teknologi harus dibarengi dengan pemahaman terhadap potensi dampak buruk yang ditimbulkan.
“Makanya, sekali lagi saya menekankan bahwa kita menggunakan teknologi tetapi kita tetap harus aware, harus perhatian terhadap data yang kita gunakan,” tegas dia.
Tak hanya itu, dia juga menyoroti kasus kebocoran data pribadi yang terjadi selama ini bukan disebabkan oleh kelemahan teknologi, melainkan lebih banyak berasal dari faktor sumber daya manusia (SDM) dalam menjaga keamanan data pribadinya. “Sekali lagi saya sampaikan, selama ini permasalahan besar itu timbul bukan dari pembobolan secara teknologi, tapi dari sisi SDM dan perilaku konsumen sendiri,”ungkap dia.
Dia mencontohkan kasus dugaan pembobolan data rekening dana nasabah (RDN) Panca Global Kapital di PT Bank Central Asia Tbk (BCA), menurut Hartono, kasus tersebut lebih disebabkan oleh kelalaian individu yang tidak memiliki kesadaran terhadap pentingnya keamanan data. ”Kalau saya amati itu bukan kegagalan teknologi tapi itu perilaku individu yang tidak aware terhadap keamanan data. Sehingga yang seperti itu pondasi merugikan masing-masing. Bank pun akhirnya juga terdampak meskipun kesalahannya saya lihat bukan ada di sisi banknya. Ini kalau melihat kronologisnya,” kata dia.
Untuk itu, Hartono berpesan agar masyarakat meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap perlindungan data pribadi sebagai aset yang sangat berharga seperti mengubah password yang spesifik, serta sering di-update secara berkala password-nya.
“Saya berharap masyarakat semakin peduli bahwa data itu aset, bisa berpotensi bahaya kalau kita tidak peduli terhadap data kita sendiri,” pungkas dia.KBID-BE

