KampungBerita.id
Kampung Raya Peristiwa Surabaya Teranyar

Surabaya Masuk PPKM Level 2, Pemkot Protes Kemenkes

Plt Ketua BPBD Kota Surabaya, Ridwan Mubarun dan Kadinkes Surabaya Nanik Sukristina protes Kemenkes karena Surabaya masuk PPKM Level 2. @KBID-2022

KAMPUNGBERITA.ID Berdasarkan Instruksi Mendagri (Inmendagri) Nomor 24 Tahun 2022 yang berlaku mulai 10-23 Mei 2022, status Kota Surabaya menjadi salah satu daerah di Jawa-Bali yang berstatus PPKM Level 2.

Tak pelak, ini memicu protes keras dari Plt Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya, Ridwan Mubarun. Dia menegaskan, jika assessment Kemenkes untuk Kota Surabaya pada 8 Mei masuk Level 2. Penyebab Level 2 itu, salah satu indikator tracing-nya nol atau terjun bebas.

“Kita punya aplikasi Silacak, posisi kita pada 8 Mei itu kita sudah tracing 1: 31. Artinya, satu orang positif tracing ke 31 kontak erat. Ketika kita protes, Kemenkes janji akan memperbaiki, muncul pada tanggal 9, dan tanggal 10 sudah diubah ke level 1,” jelas dia saat press conference, di Kantor Humas Pemkot Surabaya, Kamis (12/5/2022)

Hal tersebut, menurut Ridwan sangat merugikan Surabaya. Jika disebutkan pada Inmendagri terbaru Surabaya level 2, padahal secara faktual Surabaya seharusnya berada di level 1.

Terkait penambahan kasus Covid-19 tidak signifikan, Ridwan menjelaskan, bahwa di Surabaya hanya ada 1-2 kasus. Bahkan, Hotel Asrama Haji sebelum dikembalikan ke Kemenag statusnya sudah nol pasien.

“Kalau kasus aktif bisa dibuka di aplikasi LawanCovid jumlahnya sekitar 25 orang, mereka tidak sakit. Tapi sewaktu dites positif.
Mereka pun memilih isolasi di rumah. Jadi sesuai delapan indikator di Kemenkes itu kita betul-betul berada di Level 1 sebenarnya,” ungkap dia.

Hal senada diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya Nanik Sukristina. Dia pun segera melakukan konfirmasi ke Public Health Emergency Operations Center (PHEOC) Kemenkes RI terkait rasio tracing di aplikasi Indikator PPKM Darurat Kemenkes.

Di aplikasi tracing milik Kemenkes, kata Nanik, tercatat rasio tracing Surabaya di angka 0, sedangkan di aplikasi Silacak milik Pemkot Surabaya datanya melebihi target.

Nanik Sukristina mengaku, pihaknya setiap hari secara rutin melakukan pemantauan aplikasi di PPKM Darurat Kemenkes.“Terakhir pada 28 April masih level 1, kita masih masuk belum cuti dan masih level 1. Kemudian kasus konfirmasi 253, rawat inap rumah sakit 0,72, semua masih normal dengan posisi tracing kita memadai 1.767,”ujar dia

Dia menjelaskan, pada saat cuti bersama pihaknya tidak bisa mengakses aplikasi PPKM Darurat Kemenkes. Meski cuti bersama, kata dia, namun teman-teman P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) tetap memberikan laporan. “Karena saya juga harus laporan ke Pak Wali setiap hari,” tegas Nanik.

Lebih jauh, dia mengungkapkan, jika data pada aplikasi PPKM Darurat Kemenkes kosong pada 29 April hingga 7 Mei, karena cuti bersama sehingga data tidak bisa dimasukkan.

Kemudian 8 Mei, data Kota Surabaya sudah bisa tampil di aplikasi PPKM Darurat Kemenkes dengan angka tracing nol.“Kita punya aplikasi Silacak yang selalu kita input setiap hari dengan rasio tracing 31 pada 8 Mei. Kita juga sudah konfirmasi ke Kemenkes dan dijanjikan akan dicek lagi. Dan kita tidak tahu tiba-tiba pada 10 Mei itu Inmendagrinya turun, kita sudah di Level 2,” papar Nanik lagi.

Pada 9 Mei, lanjut Nanik, aplikasi PPKM Darurat Kemenkes sudah pulih dan data tracing Surabaya pun terlihat pada angka 31.

“Jadi meski di Inmendagri kita disebut level 2 tapi the real nya kita di level 1. Ini terjadi karena kesalahan sistem,” jelas Nanik.

Terkait protes ini, kata Nanik, Pihak PHEOC merespons akan melakukan pengecekan dan verifikasi kembali. KBID-BE

Related posts

Timnas Indonesia Siap Tempur Ladeni Myanmar di Piala AFF U-19

RedaksiKBID

Heboh, Penikmat Kuliner Serbu WTS di Sidoarjo

RedaksiKBID

Kemenkeu Mengajar Digelar Serentak di 52 Kota di Indonesia

RedaksiKBID