KampungBerita.id
Headline Kampung Raya Surabaya Teranyar

Tak Ada Event Musik di Surabaya, Fraksi PSI Tuding Pemkot Abaikan Pembinaan terhadap Seniman

Anggota Komisi D DPRD Surabaya dari Fraksi PSI, Tjutjuk Supariono.@KBID-2023.

KAMPUNGBERITA.ID-Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Tjutjuk Supariono menengarai pembinaan terhadap musisi atau grup band di Surabaya hampir tidak ada. Karena itu, Pemkot Surabaya harus memperbanyak festival atau pentas musik untuk menyalurkan hobi anak-anak muda.

Tidak adanya pembinaan terhadap musisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan musik di Surabaya. Tak heran, sampai sekarang belum ada musisi atau grup band yang muncul ke blantika musik Indonesia. Terakhir grup band yang terkenal adalah TIC Band.

“Terus terang ini kan warning bagi Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya. Dalam artian, bagaimana pembinaan terhadap musisi di Surabaya, “ujar Tjutjuk, Senin (18/12/2023).

Ketua Fraksi PSI ini memberikan contoh penyanyi Sara Fajira. Penyanyi kelahiran Surabaya yang membawakan lagu berbahasa Jawa “Lathi” yang viral di medsos itu justru terkenal dari Jakarta, bukan dari Surabaya.

Kenapa demikian? Menurut Tjutjuk, ini karena di Surabaya jarang ada event yang melibatkan anak-anak muda untuk pentas musik.

Dia mengaku, pernah mengusulkan agar Surabaya mengadakan event musik yang besar, terserah nama eventnya apa? Bisa mirip seperti JakCloth Jakarta dan lain sebagainya yang digelar tiga hingga lima hari.

Dengan begitu, lanjut dia, anak-anak SMA atau musisi-musisi muda bisa pentas di atas panggung. Sementara space di kanan kiri panggung bisa diisi dengan stan-stan UMKM dari para entrepreneur.

“Ini kan satu kesatuan yang kuat. Surabaya banyak anak muda yang berpotensi jadi
entrepreneur. Musisi juga bisa digandeng. Dengan begitu, bisa menunjukan kalau kota Surabaya adalah kota musik dan kota layak untuk pemuda,” ungkap dia.

Lebih jauh, Tjutjuk menjelaskan, beberapa hari lalu sejumlah pemuda mendatanginya. Mereka mencontohkan pada acara HEROck Mob banyak musisi di Surabaya pentas dan masyarakat menunjukkan antusiasme cukup tinggi. Bahkan, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang hadir di acara tersebut menyampaikan kalau bisa acara seperti ini bisa digelar rutin setiap bulan.

“Lha… Ini omongan Mas Wali Kota kita tagih,”tegas dia seraya berharap Gedung Balai Pemuda benar-benar difungsikan sebagai tempat anak muda berkreasi. Misalnya, Senin digelar musik underground, Selasa musik jazz dan lain-lain, sehingga semua bisa pentas.

Untuk itu, lanjut Tjutjuk yang juga anggota DPRD Kota Surabaya, dirinya meminta kepada Pemkot Surabaya untuk menyediakan waktu, ruang, dan kesempatan bagi para musisi muda untuk menunjukkan eksistensinya dalam bermain musik.

“Yang diminta teman-teman musisi itu tidak muluk-muluk. Hanya tempat dan izin untuk menunjukkan karya seni. Saya yakin kalau (soal perizinan) itu terpenuhi mereka bisa cari sponsor sendiri kok, “beber dia.

Lebih dari itu, Tjutjuk juga mengusulkan setiap kafe di Surabaya memberikan tempat atau panggung untuk musisi. Istilahnya untuk ngamen. Dari pada memutar musik MP3. Selain itu, di tempat itu juga
disediakan kotak (ngamen) dan Q-ris untuk musisi

“Saya rasa ini jauh lebih baik ketimbang Pemkot Surabaya membagikan bantuan langsung tunai (BLT) kepada seniman. Lebih baik menyediakan tempat mereka untuk berekspresi. Jika ini terealisasi, Surabaya akan banyak musisi atau seniman dan kehidupan mereka tersalurkan,” tandas dia.

Pasca pandemi Covid-19, Tjutjuk mengajak para pemuda berkumpul untuk menggelar event. Mengingat, bangsa Indonesia akan mendapat bonus demografi pemuda yang banyak. Karena itu, seharusnya Pemkot Surabaya menyediakan sarana prasarana (sarpras).

Tjutjuk yakin jika kegiatan positif ini diadakan terus menerus, maka di Surabaya tidak ada yang namanya gang motor atau tawuran antar pelajar.”Karena apa? Karena energi mereka terserap atau terkuras untuk kegiatan positif tersebut,” tegas dia.

Dia menegaskan, generasi Gen-Z ini kan perlu dibina, jangan sampai dibiarkan. Tapi karena di kota sendiri mereka diabaikan, maka lari ke kota lain.

“Jujur saja pergerakan musisi di Malang lebih bagus dibanding Surabaya karena diberi space oleh Pemkot Malang,” imbuh dia.

Tjutjuk yang juga punya hobi seni ini juga meminta kepada Pemkot Surabaya untuk menyediakan ruang bagi para musisi maupun seniman muda.Lantaran banyak anak muda punya potensi bermain musik. ” Ya, kita tinggal tunggu Pemkot Surabaya mencetak Ahmad Dani atau Mus Mujiono lagi. Lha, bagaimana mencetak itu ya dengan kompetisi atau festival musik yang masih di Surabaya,” pungkas dia. KBID-BE

Related posts

Layanan Terpadu Polresta Sidoarjo di Car Free Day Disambut Positif Masyarakat

RedaksiKBID

BEM Unair Ingin Dilibatkan dalam Pembangunan, DPRD Surabaya: Kami Terbantu dengan Pikiran Mahasiswa untuk Kemajuan Kota

RedaksiKBID

AMTI Keberatan dengan Rarif Cukai Rokok hingga 8,9 Persen

RedaksiKBID