KampungBerita.id
Headline Madrasah Teranyar

Ratusan Pemuda dari 22 Negara Ikuti AYIC, JK: Indonesia Tempat Belajar Toleransi

Wakil Presiden, Jusuf Kalla saat menghadiri ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) di Islamic Center Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum (Unipdu), Jombang, Minggu (29/10).

KAMPUNGBERITA.ID – Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) menghadiri acara ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) di Islamic Center Universitas Pesantren Tinggi Darul ‘Ulum (Unipdu), Jombang, Minggu (29/10). Dalam kesempatan itu, JK menyatakan bahwa Indonesia adalah negara yang tepat untuk dijadikan tempat pembelajaran tentang toleransi.

Pernyataan tersebut disampaikan JK di hadapan peserta AYIC. “Indonesia memang sering menjadi tempat pembelajaran bagaimana menjalankan toleransi,” kata JK.

Menurut JK, toleransi itu bisa dilihat dari hari raya keagamaan yang diakui pemerintah. JK menyebut ada 15 hari raya resmi yang diakui pemerintah.

“Ada 15 hari raya resmi, 3 yang bersifat nasional, lainnya hari raya agama Islam 5, Kristen 3, Buddha Hindu dan Konghucu masing-masing 1. Buddha yang pemeluknya kurang dari 1 persen pun ada hari rayanya. Ini tidak terjadi di negara apapun di dunia ini. China dan Thailand mayoritas Buddha dan Hindu tak ada Idul Fitri,” jelasnya.

Tak hanya itu, bagi JK, toleransi antar umat beragama tampak pula dalam formasi Kabinet Kerja. JK mengatakan para menteri itu memiliki latar belakang agama yang berbeda-beda. “Di kabinet semua agama ada. Islam tentu, Kristen, Katolik, Hindu, Tionghoa, semua ada. Walaupun mayoritas Islam, gubernur semua boleh. Ada 9 gubernur nonmuslim di Indonesia, sekarang 7. Itu menandakan kita tak membeda-bedakan,” lamjutnya.
JK pun mengingatkan pada para generasi muda untuk membina toleransi, salah satunya dengan memahami sesama. JK pun mencontohkan ketika dia menjalankan forum kerukunan beragama di Makasar.

“Pertemuannya harus di rumah ibadah. Harus di masjid, di gereja, di kuil dan sebagainya. Pertama tuan rumah menceritakan tentang agamanya, di masjid meceritakan Islam, di gereja menceritakan Kristen. Baru saling memahami, kemudian baru respect menghargai perbedaan itu,” ungkapnya.

“Agama pada ujungnya adalah peradaban dan akhlakul karimah. Peradaban berasal dari kemajuan dan akhlak berdasarkan keimanan bersama-sama kita semua. Harapan semua pertemuan ini menjadi bagian dari kerja sama, toleransi dan bagian pengertian kita semua dalam memahaminya,” imbuh JK.

Kegiatan AYIC digelar selama 3 hari di Unipdu Jombang, yakni 28-30 Oktober 2017. Peserta kegiatan ini adalah 150 pemuda dari 22 negara. Selain dari Indonesia, ratusan peserta datang dari Kamboja, Malaysia, Filipina, Vietnam, Thailand, Singapura, Laos, Brunei Darussalam, Jepang, Pakistan, Madagaskar, Lithuania, Mesir, Maroko, Hungaria, Amerika Serikat, Tanzania, Korea Selatan, Libya, Belanda dan Inggris.

Sementara Direktur Pusat Studi ASEAN Unipdu Zahrul Azhar mengatakan, selama mengikuti program ini, para peserta akan menginap di lingkungan pesantren.

“Istilahnya, mereka sedang nyantri di Darul Ulum sekaligus belajar tentang toleransi. Makanya para peserta dari berbagai negara itu kita minta tidur di pondok,” katanya.

AYIC 2017 merupakan sebuah konferensi pemuda selama dua hari dan diakhiri dengan pertunjukan seni budaya. Adapun hari ketiga akan dihabiskan untuk sesi kunjungan lapangan ke sejumlah tempat religius di Jawa Timur.

AYIC 2017 bertujuan memperkenalkan tindakan pencegahan terhadap intoleransi dan radikalisme agama kepada peserta. Selain itu, acara ini akan memberikan akses bagi pemuda terhadap informasi yang berkaitan dengan keberagaman agama dan praktik toleransi di kawasan ASEAN.

Konsep Islam Nusantara juga akan diperkenalkan dalam AYIC 2017 sebagai jenis toleransi dalam keragaman di antara orang-orang di Indonesia.KBID-MZA

Related posts

Dirut PDPS Tak Kunjung Terisi, Awey: Pemkot Lakukan Pemborosan Anggaran

RedaksiKBID

Kendarai Motor Trail, Forkopimda Sidoarjo Gelar Vaksinasi di Wilayah Terpencil

RedaksiKBID

Tiga Pelaku Penyiraman Asam Sulfat di Sidoarjo Diamankan Polisi

RedaksiKBID