KampungBerita.id
Surabaya Teranyar

Terdampak Pembangunan Box Culvert Semolowaru, 4 Tahun Warga Perumahan Dosen Untag Kebanjiran saat Musim Hujan

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya Aning Rahmawati.@KBID2021

KAMPUNGBERITA.ID – Gegara pembangunan box culvert di jembatan Semolowaru pada 2017, rumah warga Perumahan Dosen Universitas17 Agustus (Untag) kerap kebanjiran hingga ketinggian air mencapai 60-70 cm di kala musim hujan.

Bosan dengan kondisi seperti itu, mereka pun mengadu ke Komisi C DPRD Kota Surabaya, Selasa (27/4/2021).

“Empat tahun lebih kami kebanjiran.Bahkan, kalau hujan waktu malam kami was-was dengan perabotan rumah. Apalagi sudah banyak yang rusak. Bahkan, kadang kami harus tidur di musala. Ini karena kamar kita pakai untuk menyimpan barang-barang, ” ujar M Sholeh, Kasi Lingkungan RT 6/RW 3 Rungkut Kidul usai hearing.

Dia mengakui, penyebab utama perumahan tersebut tenggelam akibat di bawah jembatan Semolowaru ada box culvert yang melintang dan menutup aliran air. Akibatnya, air mengarah ke Perumahan Dosen Untag.
“Kalau box culvert itu dibongkar mungkin tidak akan terjadi banjir,” tandas dia.

Namun sebelum dilakukan pembongkaran,lanjut dia, akan dilakukan kajian dari Pemkot Surabaya dan Untag untuk me cari solusi terbaik. Nanti hasilnya dipadukan.

Sementara Achmad Edy, Kasi Pemeliharaan Pematusan PU Bina Marga Surabaya mengatakan, akan dilakukan kajian terkait genangan di Perumahan Dosen Untag.

“Mudah-mudahan dari kajian ini nanti kita bisa menentukan arah aliran dari Untag bisa dialirkan kemana. Sehingga ke depan perumahan tersebut tak banjir lagi, “jelas dia.

Tapi yang jelas, lanjut dia, dalam waktu dekat akan ditempatkan pompa portabel di sana, sehingga ketika terjadi genangan bisa dipompa keluar.

Apa yang jadi tuntutan warga? “Warga perumahan hanya ingin rumahnya tak kebanjiran. Makanya, kita akan menunggu hasil kajian yang mana pemkot diberi waktu dua Minggu, ” ungkap dia.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya Aning Rahmawati menuturkan, sebelum hearing, dirinya sudah turun dan mempelajari kondisi di lapangan. Dari turba tersebut, Aning melihat apa yang dirasakan warga itu betul.

“Jadi aliran air dari arah barat (Untag) itu tidak bisa mengalir ke timur ke Kelurahan Semoluwaru. Air hanya bisa mengalir ke arah selatan, yakni ke Perumahan Dosen Untag. Ini karena di bawah jembatan Semolowaru yang sekaligus berfungsi sebagai jalan, ada box culvert besar yang menutupi aliran,”ungkap Aning.

Karena, lanjut politisi perempuan PKS ini, kalau konsep dari Bappeko Surabaya memang dibuat sistem talang. Sehingga aliran air itu diharapkan ketika sudah memasuki batas atas bisa mengalir ke timur. Namun kenyataan di lapangan, air tak pernah mengalir ke timur tapi me ngarah ke selatan yakni ke Perumahan Dosen Untag. Dampaknya perumahan tersebut banjir.

Kondisi seperti itu, lanjut Aning, sudah berlangsung 4 tahun atau sejak 2017 sebagai dampak pembangunan box culvert dari jembatan Semolowaru ke arah timur dan seterusnya.

Sementara saluran air yang menuju ke arah timur, di mana di situ dibangun box culvert justru kering. Tidak ada air yang mengalir ke situ. Padahal pompa yang dibangun di sebelah timur itu untuk mengambil air dari saluran air sebelah timur.
“Tapi tidak ada yang diambil karena airnya mengarah atau mengalir ke selatan. Jadi pompa itu tidak berfungsi untuk menyelesaikan masalah yang ada di Perumahan Dosen Untag,” tandas Aning.

Ditanya posisi Perumahan Dosen Untag apa lebih rendah, Aning mengakui memang lebih rendah. Sebenarnya di perumahan itu ada saluran air besar dan dalam. Tapi kenapa masih banjir? Karena semua aliran air mengarah ke situ. Ada sudetan juga mengalirnya ke situ karena posisinya memang lebih rendah dari jembatan. Dengan kondisi seperti itu otomatis banjir.

“Pemkot sudah membangun empat pompa, tapi pompa-pompa tersebut tidak berfungsi untuk mengalirkan air yang di bawah jembatan. Ini karena posisinya tidak berkaitan dengan jembatan yang di situ ada box culvert di bawahnya, ” beber Aning.

Guna mengatasi banjir tersebut, dikatakan Aning, ada beberapa solusi yang ditawarkan. Yakni, Komisi C akan membuat surat ke Untag untuk membuat kajian. Mengingat mereka adalah salah satu yang terdampak dari banjir. “Kita beri waktu 14 hari, pimpinan komisi yang akan membuat surat ke Untag yang di tandatangani ketua DPRD Surabaya, ” tambah Aning.

Selain ke Untag, Komisi C juga meminta kepada Bappeko dan Dinas PU membuat kajian. Mereka juga diberi waktu 14 hari. Setelah Lebaran, lanjut dia, Komisi C akan mengundang semua untuk melihat hasil kajian. Komisi C akan terus mengawal agar proses solusi terhadap yang ada di Semolowaru segera teratasi.
“Jadi pembongkaran itu sebagai solusi terakhir ketika tidak teratasi. Komisi C akan mengawasi terus sampai proses pengendalian banjir di kawasan ini yang sudah berjalan empat tahun bisa terkendali,” ucap dia.

Dan,selama menunggu proses kajian itu, Aning berharap pemkot memasang pompa sementara, sekaligus menutup saluran dari arah utara. KBID-BE

Related posts

Beri Stimulus Pelaku UMKM, Gubernur Khofifah Serahkan Bansos dan Modal Usaha di Trenggalek

RedaksiKBID

Demokrat All Out Kawal Suara Khofifah-Emil

RedaksiKBID

Pasca PSBB, PKS Surabaya Tekankan Protokol Kesehatan dan Budaya Sehat Mandiri

RedaksiKBID