
KAMPUNGBERITA.ID-Sentra Wisata Kuliner (SWK) menjadi salah satu penopang peningkatan ekonomi warga Surabaya. Bahkan, Pemkot Surabaya banyak membangun SWK-SWK yang tersebar di Surabaya.
Hanya saja, tidak semua SWK yang dibina Pemkot Surabaya itu ramai dikunjungi pengunjung. Salah satu contohnya adalah SWK Wonorejo.
Meski mampu menampung 80 orang namun setiap hari hanya belasan pengunjung yang terlihat duduk di SWK Wonorejo.
Warsito, salah seorang pedagang makanan khas desa, seperti nasi jagung, nasi tiwul, punten pecel mengatakan, setiap hari pengunjung SWK Wonorejo memang sepi.
“Saya baru beberapa minggu jualan mas, ya memang masih sepi. Kalau hari Sabtu dan Minggu atau hari libur memang agak ramai,” jelas dia ditemui di SWK Wonorejo.
Warsito berharap agar Pemkot Surabaya ikut memikirkan mencarikan solusi agar tempat wisata kuliner ini bisa ramai, padahal lokasinya sangat strategis. “Kalau bisa pintu keluar atau pintu masuk ke area Kebun Bibit Wonorejo dialihkan melewati area SWK, sehingga pengunjung tahu kalau di situ ada sentra kuliner. Karena lokasi SWK tertutup bangunan kantor pengelola Kebun Bibit, sehingga meski dipasang papan petunjuk pengunjung tidak tahu,” tandas dia.
Sementara Ketua Paguyuban Pedagang SWK Wonorejo, Poniman sangat menyayangkan sentra kuliner di kawasan Kebun Bibit Wonorejo ini sepi pengunjung. Di sisi lain masih ada PKL liar yang berjualan di luar (pinggir jalan) dibiarkan saja.
“Pengunjungnya masih sepi, kasihan para pedagang yang ada di SWK,” jelas dia.
Poniman mengaku
SWK Wonorejo yang berada di area kawasan Kebun Bibit Wonorejo ini, sebenarnya memiliki prospek cukup bagus. Tapi lantaran view area depan SWK yang tidak eye catching (menarik perhatian) sehingga kurang menarik minat masyarakat.
Selain tertutup rimbunan pepohonan, juga ada tembok bangunan pengelola kebun bibit yang menghalangi pandangan SWK, sehingga pengunjung tidak tahu kalau di area Kebun Bibit Wonorejo ada sentra kuliner yang menyediakan menu makanan lengkap dan enak serta murah.
“Jika pintu masuk atau keluar ke Kebun Bibit dilewatkan SWK sini, saya yakin bisa ramai. Apalagi di SWK ini ada 17 stan yang menjual makanan dan minuman. Banyak menu di sini yang bisa diandalkan dan dinikmati pengunjung, bahkan rasanya tak kalah enak dengan rumah makan. Seperti rawon rasa setan, pecel punten, sambel Cak Bonek, dan lain lain” ungkap dia.
Karena itu, dia ingin Pemkot Surabaya menertibkan PKL yang masih tumbuh subur berjualan di pinggir jalan.
Poniman menjelaskan, berdirinya SWK Wonorejo ini kan untuk menampung PKL di pinggir jalan. Biar arus lalu lintas di kawasan tersebut tidak macet. Karena itu, para pedagang dimasukkan ke SWK.
“Sebelum 2015, saya jualan di luar (pinggir jalan) dengan omzet Rp 1,5 juta per hari. Begitu masuk di SWK omzet saya anjlok. Bahkan pada hari pertama saya hanya mendapat Rp 90 ribu. Sekarang ini omzet saya paling tinggi Rp 750 ribu,”ungkap dia.
Untuk bisa meramaikan SWK atau mengembalikan omzet seperti jualan di luar, kata Poniman, dirinya dan para pedagang telah melakukan berbagai upaya.Di antaranya, jualan lewat online atau gofood. Bahkan, dirinya juga mengunggah di media sosial (medsos) seperti Facebook,
Tiktok, Instagram dan lain-lain.
“Itu usaha sementara saya dan para pedagang untuk meramaikan SWK Wonorejo,” ungkap dia.
Selain itu, lanjut Poniman, juga harus ada perhatian dari pemangku wilayah atau Pemkot Surabaya terutama untuk menertibkan PKL yang di luar. ” Kita masuk ke SWK, tapi PKL liar dibiarkan tumbuh di jalan. Makanya, pemkot harus melakukan penertiban, ” tandas dia.
Lebih jauh, dia berharap, Pemkot Surabaya dalam hal ini Dinas Koperasi untuk merenovasi bangunan SWK yang disebut-sebut kumuh.
“Memang ada rencana direnovasi, dan kita berharap dipercepat. Kalau bisa sesudah Lebaran,”tandas dia.
Setelah nanti direnovasi, lanjut Poniman, pihaknya berharap Pemkot Surabaya membantu untuk mempromosikan keberadaan SWK Wonorejo. “Ya, misalnya nanti kalau pemkot punya event bisa diadakan di sini. Sebab tanpa campur tangan pemkot, SWK ini sulit berkembang,” tandas dia. KBID-BE

