
KAMPUNGBERITA.ID – Pansus Raperda Penyelenggaraan Perpustakaan mengundang dua pakar literasi, Rabu (25/8/2021), guna mengkritisi draft raperda, sekaligus memberikan masukan dan gagasan agar raperda ini betul-betul menjadi solusi terhadap keluhan makin menurunnya minat baca masyarakat,
stigma negatif terhadap perpustakaan, dan tantangan dunia digital yang semakin berkembang.
Kedua pakar literasi tersebut adalah Sinta Yudisia Wisudanti, seorang pemerhati literasi, psikolog, dan penulis buku. Kemudian Edy Suprayitno, praktisi dan kepala perpustakaan ITS .
“Kedua pakar literasi tersebut kita hadirkan sebagai narasumber
guna belanja masalah istilahnya. Semoga nanti ada banyak masukan yang bisa mempertajam pembahasan pasal per pasal bersama Bagian Hukum dan Dinas Arsip dan Perputakaan, kata Sekretaris Pansus Raperda Penyelenggaraan Perpustakaan, Fatkur Rohman.
Sinta Yudisia Wisudanti, yang juga merupakan Founder Ruang PELITA (Pendampingan Psikologi dan Literasi) mengawali paparannya dengan menunjukkan hasil sebuah polling yang dilakukan. Dia menemukan fakta bahwa secara umum publik masih suka datang ke perpustakaan. Hanya saja ada pergeseran perilaku publik yang membuat mereka memiliki harapan baru dan berbeda terhadap perpustakaan.
Menurut dia, di benak publik ada harapan bahwa perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca buku atau mencari informasi saja tapi juga bisa menjadi tempat kumpul, rekreasi bahkan ekspresi.
“Sehingga perpustakaan itu perlu make over dan tempatnya juga bisa di rebranding. Misalnya, menjadi studio baca, kafe buku, one stop learning atau sekadar di ubah menjadi perpustak@an. Ada penambahan @ di papan namanya,” jelas Sinta.
Dia menjelaskan, bahwa stigma perpustakaan di mana pustakawannya serius, tidak boleh bicara, dan banyak tumpukan buku tua, harus diberikan solusi. Perpusatkaan harus _User Friendly_ sebagaimana sudah berkembang di luar negeri seperti Korea atau Finlandia.
Di kedua negara tersebut, pengunjung boleh ngemil, duduk santai, bahkan ada kafe di area perpustakaan. Sarana prasarananya, kata Sinta, juga berbasis teknologi IT.
“Ada banyak event menarik seperti peluncuran buku, musik, bedah film termasuk banyak _friendly space_ yang disukai anak muda,” jelas dia.
Sementara Edy Suprayitno menuturkan, hasil sensus penduduk 202 menunjukkan bahwa 50,83 persen penduduk Surabaya adalah kategori gen Z dan milenial. Salah satu ciri dari generasi ini adalah penggunakan smartphone dalam kehidupan mereka, 15.4 jam/pekan untuk Gen Z dan 14.8 jam/pekan untuk milenial.
Menurut dia, kebijakan ke depan harus menuju digitalisasi perpustakaan dan betul-betul memanfaatkan teknologi IT dalam pelayanannya. Untuk itu, dibutuhkan SDM pustakawan yang bisa berperan sebagai _content creator_, bisa menghidupkan _digital culture_ dan memiliki kemampuan _communication skill_ yang bagus.
“Jadi, bukan mereka yang butuh kita, tapi kita yang butuh user,”ungkap Edy.
Lebih jauh, Edy mengatakan, layanan perpustakaan masa kini tidak dapat mengandalkan layanan klasik, namun harus berinovasi agar bisa dikunjungi secara fisik maupun maya.
Ketersediaan Akses wifi yang kuat, support hardware komputer canggih, layanan _self service_ dalam peminjaman dan pengembalian, fasilitas untuk penyandang disabilitas, tersedianya ruangan yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat serta layanan konsultasi offline dan online, sekarang ini sudah menjadi kebutuhan.
Untuk Ketersedian koleksi, kata Edy, ITS bisa menjadi pilot project untuk dilakukan kerja sama agar Pemkot Surabaya bisa memiliki akses ke seluruh koleksi perpustakaan di perguruan tinggi dan bisa diakses dari manapun.
“Jika kita lihat di perpustakaan yang bagus di luar negeri atau di beberapa kampus seperti UI atau ITS, ada ruangan khusus diskusi, ada _co-working space_, ada ruangan untuk tempat praktik atau ekspresi bagi pengunjung. Bahkan jika diperlukan ada interior khusus yang didesain menarik yang membuat orang suka untuk berkunjung. Saya pikir Surabaya sudah waktunya memiliki perpustakaan seperti itu, ” ungkap Edy.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Surabaya, Musdig Ali Suudi mengaku senang mendampatkan banyak masukan dari dua narasumber. Dia berharap ini akan bisa di follow up pada pembahasan pasal per pasal raperda.
“Saya sepakat apa yang disampaikan kedua narasumber dan sebagian ide sebenarnya sudah kita jalankan. Yang belum nanti bisa menjadi masukan di raperda. Kita juga sudah pernah merumuskan bersama seorang doktor dibidang arsitek, bagaimana konstruksi dan desain khusus untuk perpustakaan. Kita juga ada program gobuk, program antar buku ke warga. Betul perpustakaan masa kini harus _user friendly_ dan support digital,” tandas Musdiq.
Fatkur Rohman menegaskan, semua masukan-masukan ini nantinya akan menjadi bahan pembahasan pasal per pasal raperda dan kemudian bisa disahkan menjadi perda serta menjadi payung hukum dalam mewujudkan perpustakaan Surabaya yang menjawab tantangan zaman, perpustakaan yang user friendly dan mengikuti era digital.
“Terima kasih kepada kedua narasumber yang telah memberikan ide dan masukan yang luar biasa.
Semoga Surabaya ke depan betul-betul bisa menghadirkan perpustakaan-perpustakaan baik secara mandiri atau berpartner dengan perguruan tinggi bahkan dunia usaha. Ide ada perpustakaan di mal atau di tempat-tempat keramaian sangat menarik, ” pungkas wakil ketua Fraksi PKS DPRD Kota Surabaya ini.KBID-BE

