KampungBerita.id
Surabaya

Dari Sampah Jadi Telur, Inovasi Pakan Ayam dari Sisa Makanan Antar RW 06 Dukuh Kupang Lolos 500 Besar Kampung Pancasila

KAMPUNGBERITA.ID – RW 6 Ngesong Dukuh Kupang, Kelurahan Dukuh Kupang, Kecamatan Dukuh Pakis, berhasil lolos dalam 500 besar Kampung Pancasila. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran aktif Kader Surabaya Hebat (KSH) dan kekompakan warga, khususnya di RT 5 yang telah menjalankan program Kampung Madani secara lengkap.

Ketua RW 6 Ngesong Dukuh Kupang, Iswianto, mengatakan optimisme lolos 500 besar sudah muncul sejak awal karena RW 6 memiliki KSH yang aktif.

“Kenapa kami sangat yakin sekali dengan lolos 500 besar, karena kami punya KSH. Jadi selama ada launching RW 6 itu memang berguna sekali,” kata Iswianto.

RW 6 sendiri memiliki 5 RT. Dari jumlah tersebut, RT 2 dan RT 5 menjadi motor penggerak kegiatan lingkungan.

“Dari 5 RT itu yang aktif untuk lingkungan itu 2, RT 2 sama RT 5. Tapi RT 5 itu semua program dari kampung itu sudah dilaksanakan,” ujarnya.

Menurut Iswianto, RT 5 Kampung Madani sudah berjalan secara menyeluruh, mulai dari pemilahan dan pengolahan sampah, ketahanan pangan, hingga penataan lingkungan yang rapi.

Salah satu program unggulan di RT 5 adalah ternak ayam petelur yang digagas bersama pihak kecamatan. Program tersebut bermula dari pelatihan yang diberikan Camat dan langsung diterapkan warga.

“Itu sebuah kebetulan, camat kita itu baru, program di kecamatan kalau tidak salah itu dilatih di sini diterapkan di sini, langsung per satu minggu dia dilatih di sini, langsung dikasih edukasi warganya, tapi langsung warganya itu respon,” jelas Iswianto.

Hasilnya, dalam waktu kurang lebih 2 bulan, ternak ayam tersebut sudah menghasilkan banyak telur.

Uniknya, pakan ayam berasal dari sisa makanan warga yang dikumpulkan setiap hari.

“Untuk makanannya diambil dari sisa makanan warga, jadi warga dihimbau pagi hari ataupun sisa makanan malam itu disimpan, paginya langsung ditaruh di tempat yang sudah disediakan, diolah sedikit, lalu dikasihkan. Tapi tidak bau sama sekali,” katanya. Pengelolaan dilakukan sepenuhnya oleh warga RT 5, RW 6.

Selain pengolahan sampah, RW 6 juga aktif dalam bidang pendidikan melalui kegiatan belajar bersama di Balai RW 6. Terdapat sanggar tari, sanggar membaca, hingga sanggar lukis yang rutin digelar.

“Kegiatan itu mulai sanggar tari, sanggar membaca, terus sanggar lukis, itu kita ada semuanya dan rutin di balai RW 6,” ucapnya.

Iswianto mengakui, mengedukasi warga soal pemilahan sampah memang tidak mudah. Namun, pihaknya terus mendorong, seperti pengumpulan botol plastik di setiap gang.

Tradisi gotong royong melalui jimpitan juga masih terjaga di RW 6. Setiap RT memiliki strategi sendiri untuk mengumpulkan jimpitan setiap bulan.

“Tradisi gotong royong jimpitan di sini kita ada, tiap bulan itu kita ada, masing-masing RT itu punya strategi sendiri. Tapi Alhamdulillah setiap RT ini rutin setiap bulan,” katanya. Sabtu (17/10/2026).

Dana jimpitan tersebut dimanfaatkan untuk santunan warga yang meninggal, sakit, hingga membantu anak putus sekolah.

“Kalau ada orang meninggal itu dapat santunan, orang sakit dapat santunan. Bahkan pernah menjalankan Kampung Madani juga kita pernah. Jadi ada anak putus sekolah, itu kita berusaha untuk mengasih santunan dari santunan warga tersebut,” pungkas Iswianto.

Dengan modal KSH dan kekompakan warga, pengolahan sampah yang hampir lengkap, ketahanan pangan, pendidikan warga, hingga tradisi jimpitan, RW 6 optimis bisa melaju lebih jauh di ajang Kampung Pancasila.

Sementara itu di tempat terpisah, Ketua RT 05 RW 06, Kelurahan Dukuh Kupang, Kecamatan Dukuh Pakis, Sri Sunarti Setianingsih, terus mengembangkan program ketahanan pangan di lingkungannya. Program tersebut menjadi salah satu upaya yang diandalkan dalam mengikuti seleksi lomba Kampung Pancasila di Kota Surabaya, yang diikuti sebanyak 1.360 RW dan kini memasuki tahap seleksi 500 besar.

Sri Sunarti mengatakan, program ketahanan pangan di wilayahnya bermula dari lomba ketahanan pangan yang digelar Tim Penggerak PKK Kota Surabaya. Dalam kegiatan tersebut, setiap kelurahan diminta mengirimkan perwakilan RW untuk mengikuti perlombaan.

Sebelumnya, RW 01 telah mewakili wilayah kelurahan di tingkat kecamatan. Sementara itu, pada tahun ini, giliran RW 06 yang ditunjuk untuk mewakili Kelurahan Dukuh Kupang di tingkat kelurahan. Lokasi pengembangan ketahanan pangan kemudian dipusatkan di RT 05 RW 06.

“Sejak awal kami merintis bagaimana bisa menjalankan ketahanan pangan ini. Meskipun tidak menjadi juara, kami tetap melanjutkan programnya,” ujar Sri Sunarti, Minggu (18/10/2026).

Di lingkungan RT 05, warga mengembangkan beragam tanaman produktif, mulai dari cabai, terong, kemangi, pegagan, melon, hingga tomat. Tanaman tersebut dipilih karena dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Pegagan, misalnya, dapat diolah menjadi tumisan maupun keripik. Dengan memanfaatkan lahan yang tersedia, warga berupaya menciptakan lingkungan yang lebih hijau sekaligus produktif.

Selain tanaman pangan, warga juga memelihara ayam jenis Elba. Ayam tersebut merupakan bantuan dari pihak kelurahan yang kemudian dikembangkan secara mandiri oleh warga.

Sri Sunarti mengungkapkan, pada awal pemeliharaan, warga harus menunggu hingga ayam tumbuh dan mulai bertelur. Setelah sekitar satu setengah bulan, ayam mulai menghasilkan telur. Dalam perkembangannya, ayam-ayam tersebut bahkan sudah menghasilkan sekitar 20 butir telur.

Untuk memenuhi kebutuhan pakan, warga memanfaatkan sisa makanan yang disumbangkan masyarakat.

“Alhamdulillah, warga punya inisiatif menyumbangkan sisa makanannya. Ada juga yang memberikan uang seikhlasnya untuk membantu membeli pakan ayam,” jelasnya.

Tidak hanya berfokus pada tanaman pangan dan peternakan, RT 05 RW 06 juga mengembangkan pengolahan sampah organik. Sisa potongan sayuran, buah-buahan, serta daun kering dikumpulkan untuk diolah menjadi produk pupuk yang bermanfaat.

Dalam prosesnya, sisa sayuran dan buah dimasukkan ke dalam alat pengolahan, kemudian dicampur dengan air dan diproses sesuai tahapan pengolahan. Warga juga memanfaatkan daun-daun kering yang dimasukan kedalam Komposter  sebagai bahan kompos.

Pengumpulan sampah organik tersebut melibatkan partisipasi masyarakat. Setiap warga yang menyumbangkan bahan organik didata, termasuk identitas penyumbang dan jumlah bahan yang diberikan. Pencatatan ini dilakukan sebagai bagian dari pelaporan kegiatan.

Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi sampah rumah tangga sekaligus menghasilkan produk yang berguna untuk mendukung kegiatan penghijauan dan ketahanan pangan.

Sri Sunarti menuturkan, program ketahanan pangan ini juga memberikan perubahan pada kondisi lingkungan. Area yang sebelumnya terlihat kurang tertata kini mulai dipenuhi tanaman hijau.

“Dulu tempat ini juga digunakan untuk menjemur pakaian. Kalau dilihat, rasanya kurang nyaman. Sekarang, perlahan-lahan menjadi hijau dan enak dipandang. Selain memperindah lingkungan, kami juga bisa menghasilkan sesuatu,” tuturnya.

Di luar program ketahanan pangan, Sri Sunarti memastikan kegiatan sosial melalui Kampung Madani tetap berjalan. Salah satunya adalah pengumpulan dana secara sukarela melalui kegiatan arisan Dasawisma yang rutin digelar setiap Sabtu malam.

Di RT 05 RW 06 terdapat tiga kelompok Dasawisma yang turut menjalankan kegiatan tersebut. Warga menyisihkan uang seikhlasnya untuk dikumpulkan bersama. Setelah jumlahnya mencukupi, dana disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan, seperti lansia, janda, dan anak-anak.

Penyaluran bantuan dilakukan secara berkala, biasanya dalam rentang dua hingga tiga bulan, menyesuaikan jumlah dana yang terkumpul.

Menurut Sri Sunarti, kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya menjaga semangat gotong royong di tengah masyarakat.

Ke depan, Sri Sunarti berharap program ketahanan pangan di wilayahnya dapat terus berkembang. Ia juga memiliki keinginan untuk menambah kegiatan produktif, salah satunya budidaya ikan lele, meski masih perlu memikirkan ketersediaan lahan.

Dengan berbagai program yang telah berjalan, RT 05 RW 06 Kelurahan Dukuh Kupang berupaya menunjukkan bahwa ketahanan pangan, pengelolaan sampah, penghijauan, dan kepedulian sosial dapat dikembangkan secara bersamaan melalui partisipasi warga.

Bagi Sri Sunarti, keberlanjutan program menjadi hal yang tidak kalah penting dari hasil perlombaan. Ia berharap upaya yang telah dirintis bersama warga dapat terus memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat, terlepas dari hasil akhir seleksi Kampung Pancasila.

Sementara itu, Ketua Pansus Kampung Pancasila DPRD Surabaya, Ashar Khafi, mengapresiasi langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang menggelar lomba implementasi Kampung Pancasila di tingkat RW se-Surabaya. Namun, ia menekankan agar lomba tersebut tidak berhenti pada seremonial semata, melainkan harus ada keberlanjutan.

“Jadi niat dari Pemkot membuat lomba terkait implementasi Kampung Pancasila itu kita apresiasi,” kata Ashar Khafi. Selasa (20/10/2026).

Menurutnya, saat ini RW-RW se-Surabaya telah membuat ikon kampungnya masing-masing dengan berbasis dimensi yang ada dalam Kampung Pancasila. Di antaranya berbasis smart ekonomi, smart lingkungan, hingga smart government.

Ia menegaskan, lomba harus memiliki tindak lanjut yang jelas. Pasalnya, infrastruktur kampung seperti RW, RT, LPMK, hingga masyarakat lintas generasi, mulai dari generasi muda hingga tokoh masyarakat, telah terlibat.

“Lomba ini jangan hanya seremonial, akan tetapi keberlanjutannya ada. Pemahaman dari infrastruktur kampung ini kan ada RW, RT, kemudian LPMK semua terlibat di sini dan masyarakat baik lintas generasi. Ini harus ter-follow up, ada kelanjutannya,” ujarnya.

Ashar menilai, lomba yang diikuti 1.360 RW se-Surabaya dan kini mengerucut menjadi 500 besar memiliki potensi yang bagus. Karena itu, pemerintah perlu menjaga kelebihan masing-masing kampung sekaligus membantu kekurangannya melalui intervensi nyata.

“Lomba ini kan dari 1.360 RW terus kemudian tereliminir 500 kemudian menjadi ada yang juara. Yang 500 ini kan potensinya ada, bagus berarti. Tolak ukurnya bagaimana? Lombanya sudah, tapi tolak ukur pemerintah melihat RW tadi yang sudah 500 RW, dijaga kelebihan kampung, kelemahannya juga dibantu intervensi pemerintah,” jelasnya.

Intervensi tersebut, lanjut Ashar, tidak hanya berupa pendampingan, tetapi juga dukungan sarana dan prasarana (sarpras). Ia mencontohkan, dana aspirasi kelurahan atau Dana Kelurahan (Dakel) untuk sarpras harus berbasis Kampung Pancasila.

“Contoh kalau ketahanan pangan ada support, lingkungan ada support, ada fasilitas yang diberikan. Karena kalau mengandalkan kemampuan kampung antar kampung tentunya berbeda-beda,” katanya.

Untuk dimensi lingkungan, dukungan bisa berupa pemilahan sampah, komposter, dan bibit tanaman. Sedangkan untuk ketahanan keamanan, dukungan berupa CCTV, penguatan satgas warga, hingga revitalisasi pos kamling.

“Pengamanan, kita sudah ada satgas, warga dimulai untuk apa yang kurang. Saya rasa posko itu sudah seharusnya ada, pos kamling. Kalau sudah ada poskonya, rutinitas di RW itu ada,” pungkasnya.KBID-JUP

Related posts

Siap Gelar SPMB 2026, Dispendik Surabaya Pastikan Lulusan SD Tertampung di Semua SMPN dan Swasta

DJUPRIANTO

Gelar MDS Di Polrestabes, GP Ansor Surabaya Deklarasi Perangi Hoax

RedaksiKBID

Anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya dari Fraksi Demokrat-Nasdem Berpulang

RedaksiKBID