KampungBerita.id
Surabaya Teranyar

Tolak Perubahan Nama Jalan, Mas TRIP dan GPRS Datangi Gedung Dewan

Ketua Pansus, Fathul Muid saat menerima veterangan perang MASTRIP

KAMPUNGBERITA.ID – Puluhan warga yang tergabung dalam Gerakan Peduli Rakyat Surabaya (GPRS) melakukan aksi di depan gedung DPRD Surabaya, Jumat (10/8). Mereka menolak perubahan nama jalan Dinoyo dan Jalan Gunugsari.

Selain GPRS, Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) atau yang lebih sering disebut dengan MASTRIP, mendatangi gedung dewan. Mereka juga menolak perubahan sebagian Jalan Dinoyo menjadi Jalan Sunda dan Gunungsari menjadi Jalan Prabu Siliwangi.

Korlap GPRS Yanto Banteng mengatakan, penolakan rencana perubahan nama jalan harga mati. Dua jalan itu memiliki nilai sejarah yang kuat dan tidak bisa dihilangkan. Perubahan itu tidak memiliki dampak siginifikan. Sebab, Jawa Barat dan Jawa Timur sudah berdamai sejak dulu. “Bonek (Persebaya) dan Viking (Persib) merupakan contoh konkrit Surabaya dan Bandung saling bersaudara,” ujarnya.

Menurutnya, Gunungsari memiliki sejarah yang tinggi. Gunugsari merupakan pintu arek-arek Surabaya memperjuangkan kemerdekaan dari para penjajah kolonialisme. “Betapa berkhianatnya sampyan (pansus) apabila aspirasi rakyat tidak didengar, kami merasa tidak memiliki wakil disini, jangan pernah mengaburkan sejarah,” katanya.

Aksi damai dilakukan menjelang rapat paripurna tentang perubahan nama jalan yang diagendakan Sabtu (11/8) hari ini. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Menolak keras perubahan nama jalan”.

Sejumlah perwakilan mereka diterima oleh Fatchul Muid, mantan ketua pansus Perubahan Nama Jalan dan Perubahan Nama sebagian Ruas Jalan. Pun dengan Mas Trip hanya ditemui oleh legislator dari Partai Nasdem ini.

Diketahui, pansus Raperda perubahan nama jalan merupakan Komisi D DPRD Surabaya. Dari 12 anggota yang membidangi kesejahteraan rakyat ini, hanya satu, yakni Fatchul Muid yang menolak perubahan nama jalan.
11 anggota pansus yang menyetujui itu adalah Khusnul Khatimah (PDIP), Junaedi (Demokrat), Dyah Katarina (PDIP), Reny Astuti (PKS), Agustin Poliana (PDIP), Sugito (Hanura), BF Sutadi (Gerindra), Ibnu Shobir (PKS), Lembah Setyowati Bakhtiar (Golkar),Laila Mufidah (PKB), dan Sudirjo (PAN).

“Jangan ubah nama jalan Gunung Sari dan jalan Dinoyo, nama jalan itu bersejarah dan keramat,” kata Muharjo sesepuh MASTRIP dengan suara serak karena usia yang sudah senja.

Anggota MAS TRIP lainnya R. Muharjo Kartodirdjo menyampaikan, banyak kota di Indonesia yang memiliki nilai heroisme karena menjadi tempat perlawanan bangsa terhadap penjajah. Seperti kota Semarang, Ambarawa dan lainnya.

Hanya saja, dari sekian kota itu, hanya Surabaya yang ditetapkan sebagai kota pahlawan. Jenderal Malabi tewas di tangan Arek-arek Surabaya. “Lah kalau dipreteli tempat heroisme itu (Gunungsari) nanti bisa jadi Surabaya bukan lagi kota pahlawan,” jelasnya.

Sementara itu Edi Firmanto dari GPRS mengajak supaya anggota dewan khususnya anggota pansus yang setuju dengan perubahan nama jalan tidak dipilih di pemilihan legislatif 2019. Sebab, mereka tidak bisa menampung aspirasi masyarakat. “Ngak usah pilih anggota dewan kayak gitu,” jelasnya.
Fatchul Muid di depan para pengunjuk rasa, mengaku tetap akan berjuang menolak perubahan nama jalan. “Meski sudah tidak lagi menjadi ketua pansus, saya akan tetap berjuang menolak perubahan nama jalan saat sidang paripurna nanti,” tegasnya.

Menurutnya, dukungan dari berbagai elemen masyarakat ini menambah energi untuk terus berjuang. Selama ini, hanya dia anggota pansus yang getol menolak perubahan sebagian jalan. KBID-NAK

Related posts

Tiga Tahun, Ning Ita Selamatkan 192 Aset Potensial Kota Mojokerto

RedaksiKBID

Polisi di Sidoarjo Gandeng Wartawan Masifkan Vaksinasi Bagi Masyarakat

RedaksiKBID

Ditengarai Gratifikasi, Capim KPK Kritik Keras Langkah Risma Beri Hibah ke Polda Jatim

RedaksiKBID