
KAMPUNGBERITA.ID-Anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya, Yuga Pratisabda Widyawasta, mengapresiasi keberhasilan Perusahaan Umum Daerah Kebun Binatang Surabaya (Perumda KBS) dalam program peminjaman Komodo ke iZoo, kebun binatang reptil terbesar di Jepang. Penandatanganan kerja sama dilakukan Rabu (29/4/2026).
Menurut dia, hal ini merupakan capaian besar di bidang konservasi satwa langka. “Alhamdulillah, ini tanggapan yang luar biasa. Komodo adalah salah satu satwa yang berhasil ditangkarkan KBS,” ujar Yuga di Gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (4/2/2026).
Yuga yang juga pernah menjabat Ketua Pansus DPRD Kota Surabaya itu menjelaskan, sejak dulu dirinya berpikir bagaimana Komodo ini bisa memberikan manfaat langsung bagi warga Kota Surabaya. Salah satu caranya melalui skema pertukaran satwa, atau tepatnya peminjaman satwa.Ternyata berhasil dengan iZoo Jepang. “Ke depan mungkin akan dipikirkan bagaimana caranya untuk mengembalikan lagi ke habitat asalnya,”ungkap dia.
Politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini menegaskan, keberhasilan penangkaran internal di KBS sangat luar biasa dan menjadi kunci. Jika suatu saat Komodo hasil tangkaran bisa dilepasliarkan kembali ke habitat aslinya, maka itu adalah bentuk konservasi yang sangat berhasil. Apalagi KBS memang memiliki fungsi sebagai lembaga konservasi, bukan hanya tempat rekreasi,” tandas dia.
Soal perbedaan iklim, Yuga menyebut pemerintah Jepang dalam paparannya sudah menyiapkan kandang khusus indoor dengan sistem pemanas yang meniru habitat asli Komodo. Mulai dari suhu, batuan, hingga lanskap savana buatan sudah disiapkan. Sama dengan kondisi di sini (Surabaya). “Jadi ada permainan teknologi. Lokasinya, batuannya, padang savana dibuat secara indoor tapi ada pemanasnya. Cuacanya disamakan dengan di sini, makanya bisa untuk tukar pinjam,”beber dia.
Bagaimana pemantauan kesehatan Komodo nantinya, Yuga mengaku pemantauan kesehatan Komodo juga dilakukan bersama. Pihak Jepang berkewajiban memberikan laporan berkala ke KBS, begitu pula sebaliknya untuk satwa Jepang yang dipinjamkan ke Surabaya. Hubungan ini tidak berhenti pada satu kali pertukaran pinjam ini. “Ke depannya mungkin ada lagi peminjaman seperti ini, terutama untuk koleksi satwa yang belum dimiliki KBS,” lanjut Yuga.
Ditanya jangka waktu peminjaman Komodo, Yuga mengaku belum mendapat informasi detail. Namun dia menekankan pentingnya transfer knowledge dari kerja sama ini. Dia berharap Komodo yang dipinjamkan berhasil berkembang biak di Jepang. “Kalau beranak-pinak di sana, tetap di sana. Jadi milik Jepang. Sebaliknya yang satwanya di sini, kalau sudah berkembang biak milik Surabaya,”ucap dia.
Kerja sama ini diharapkan menjadi model konservasi ex-situ, yakni metode konservasi atau pelestarian flora dan fauna yang dilakukan di luar habitat aslinya, yang tidak hanya menjaga kelestarian satwa, tetapi juga memperkuat hubungan ilmiah antar lembaga konservasi internasional.
Sebelumnya Direktur Operasional Perumda KbS, Nurika Widyasanti mengatakan, dua komodo yang dipinjam kan merupakan asli dari KBS hasil pengembangbiakan, berusia antara 8-12 tahun.
Peminjaman tersebut, lanjut dia, sudah dievaluasi Pemerintah Pusat dan tidak mengganggu breeding atau proses kembang biak Komodo di KBS.
Usai lima tahun masa peminjaman, lanjut dia, Komodo akan dikembalikan lagi ke KBS. “Setelah penandatanganan kerja sama berikutnya kami akan mulai secara administrasi,” tambah dia.
Lebih jauh, Nurika menjelaskan, peminjaman satwa itu sebagai bentuk hubungan baik antar lembaga konservasi saling mengembangbiakkan, dan kewajiban melepasliarkan satwa. “Setelah dipinjamkan, masih ada 50 ekor lebih Komodo di KBS,” ujar dia.
Lebih jauh, dia menambahkan, proses administrasi peminjaman Komodo itu masih berjalan. Dia menyebut kemungkinan dalam waktu dekat Komodo tersebut akan dikirim ke Jepang, menunggu sebagian satwa pinjaman dari iZoo dikirim terlebih dahulu ke KBS. KBID-BE

