
KAMPUNGBERITA.ID-Ketua DPC PDI-P Kota Surabaya, Armuji menginisiasi pembuatan sekitar 100 titik lubang teba di berbagai wilayah Kota Surabaya. Program ini bagian dari gerakan nasional PDI-P dalam memperingati Hari Sampah Nasional yang akan dilaksanakan serentak 14 November 2026
Armuji menjelaskan, teba adalah lubang pengolahan sampah organik yang konsepnya menyerupai biopori. Sampah sisa makanan dan bahan organik rumah tangga dimasukkan ke dalam lubang untuk diurai menjadi pupuk.
“Di PDI-P namanya teba. Ini merupakan gerakan yang diinisiasi Dewan Pimpinan Pusat (DPP). Nantinya seluruh DPC, DPD, anggota fraksi DPR provinsi, DPRD kota maupun kabupaten diinstruksikan membuat teba,”ujar Armuji, Selasa (3/11/2026).
Menurut dia, program ini bukan sekadar alternatif pembuangan sampah. Teba diharapkan mengurangi volume sampah yang selama ini berakhir di TPS dan TPA.”Gunanya, selain untuk pembuangan sampah organik, nantinya hasil penguraiannya bisa dimanfaatkan menjadi pupuk. Kalau sudah terurai jadi pupuk, lahan tersebut bisa ditanami tanaman-tanaman produktif,” jelas Armuji yang juga Wakil Wali Kota Surabaya.
Ukuran lubang teba disesuaikan dengan lahan. Untuk lahan luas dibuat ukuran 3 x 3 meter dengan kedalaman 3 meter. Sementara di kampung atau sekitar pasar menggunakan ukuran 1,5 x 1,5 meter dengan kedalaman 1,5 meter. “Di Surabaya sekitar 100 titik. Tersebar di semua tempat yang memungkinkan ada lahannya untuk digali dan dibuat teba,”ungkap dia
Pengelolaan teba di kampung akan diserahkan kepada masyarakat setempat. Namun Armuji menekankan pentingnya pengawasan dan keberlanjutan agar tidak hanya jadi proyek fisik.
Gerakan ini sejalan dengan dorongan Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya Eri Irawan yang meminta Pemkot membagikan komposter dan menyediakan lubang biopori di setiap RT/RW.
“Gerakan ini perlu kita dorong. Saya sendiri secara pribadi sudah menggerakkan,”kata Eri Irawan.
Dia menyebut pembuatan lubang biopori sangat murah. Satu lubang hanya habis Rp 20 ribu, bahkan bisa lebih murah sekitar Rp 10 ribu, tergantung pipanya. “Kalau model komposter agak lebih mahal,”tandas dia.
Mantan jurnalis ini menyebut lubang biopori dapat dimanfaatkan untuk mengolah sampah makanan menjadi material organik yang selanjutnya diproses menjadi pupuk. Dia menyarankan penggunaan tetes tebu dan eco-enzyme untuk mengurangi bau dan mempercepat penguraian sampah menjadi pupuk cair maupun padat.
Dengan target 100 titik teba dan dorongan fasilitas di tingkat RT/RW, efektivitas pengurangan sampah di Surabaya akan bergantung pada konsistensi pelaksanaan, keterlibatan warga, dan kepastian pengelolaan. “Tantangan sesungguhnya bukan hanya menggali lubang dan membangun fasilitas, melainkan memastikan sampah organik benar-benar terolah secara berkelanjutan dan tidak menjadi persoalan lingkungan,”pungkas dia. KBID-BE

