
KAMPUNGBERITA.ID – Pada Pileg 2019 perolehan kursi Partai Nasional Demokrat (NasDem) di DPRD Surabaya meningkat. Jika periode 2014-2019 hanya dapat satu kursi, namun pada periode 2019-2024 memproleh tiga kursi.
Tiga kader Partai NasDem yang menjadi wakil rakyat adalah Imam Syafi’i, Hari Santoso, dan Syaiful Bahri. Namun, dari tiga kader Partai NasDem itu, hanya Imam Syafi’i yang vokal dan berani mengkritisi kebijakan Pemkot Surabaya yang dinilai tidak benar atau melenceng. Sementara Hari Santoso dan Syaiful Bahri yang diharapkan ikut mewarnai, ternyata belum menunjukkan taringnya.
Bagaimana DPD Partai NasDem Surabaya menyikapi ini? Ketua DPD Partai NasDem Surabaya Robert Simangunsong ketika dikonfirmasi tak bisa berkomentar banyak. Dia menilai, tiga kadernya yang ada di DPRD Surabaya itu selama ini sudah bekerja cukup baik. “Memang yang kami tunjuk untuk menjadi juru bicara partai hanya satu orang, yakni pak Imam Syafi’i, ” ungkap Robert.
Jika toh yang lain belum bersuara kritis, lanjut dia, mungkin masih menunggu waktu saja. Karena mereka baru beberapa bulan menjadi wakil rakyat. “Apalagi kinerja pemkot sendiri sudah cukup bagus,” ungkap dia.
Sementara mantan anggota DPRD Surabaya periode 2014-2019 dari Partai NasDem, Vinsencius Awey yang dikenal vokal dan kritis menyoroti program atau kebijakan Pemkot Surabaya, ketika dikonfirmasi soal kiprah masing-masing kader Partai NasDem di DPRD Surabaya yang bertolak belakang mengaku jika kemampuan masing-masing personel itu berbeda. Ada yang kooperatif, ada yang tidak.
“Seperti Mas Syaiful Bahri (komisi C) ketika dulu di PPP (periode 2014-2019) memang sudah bawaanya diam, ” tutur dia.
Meski demikian, untuk kepentingan daerah pemilihan (dapil), konstituen Syaiful Bahri sangat banyak membantu. “Hanya saja, memang orangnya tidak suka banyak bicara,” tandas Awey.
Sementara Hari Santoso, politisi kawakan itu pernah menjadi anggota DPRD Surabaya fraksi PDIP periode 2004-2009.
“Mas Hari ini cukup kritis saat hearing di komisi D. Ya, mungkin belum ada kesempatan wawancara dari media saja. Di komisi D kan lebih banyak ke Khusnul Khotimah, Ibnu Shobir, dan Herlina Suharsono Njoto, sehingga peran mas Heri jadi tidak nampak,” tutur Awey yang kini menjabat wakil ketua DPW Partai NasDem Jatim.
Dia mengakui, tiap periode pasti ada anggota dewan yang jadi media daring. “Ya…mungkin tahun 2019 ini eranya mas Imam Syafi’i. Apalagi beliau kan jurnalis kawakan, lama di Jawa Pos, pimred JTV tentu tahu konten apa yang menarik bagi media. Sehingga dapat tempat di hati media, ” imbuh dia. KBID-BE

