KampungBerita.id
Kampung Raya Olahraga Peristiwa Surabaya Teranyar

Perhatian dari Pemkot Minim, Pecatur Andalan Surabaya Pilih Pindah ke Daerah Lain dengan Jaminan Masa Depan

 

Ketua Percasi Kota Surabaya, Budi Leksono bersama pecatur Surabaya yang berlaga di arena Porprov Jatim VII/2022.@KBID-2022.

KAMPUNGBERITA.ID-Minimnya perhatian Pemkot Surabaya terhadap atlet- atlet berprestasi di Kota Pahlawan membuat sejumlah atlet memilih pindah ke daerah lain yang menjanjikan jaminan masa depan lebih baik.

Situasi seperti ini dirasakan oleh sejumlah cabang olahraga (cabor), di antaranya adalah cabor catur. Di arena Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim VII/2022, Persatuan Catur Seluruh Indonesia ( Percasi) Kota Surabaya harus kehilangan atlet emasnya, Dhea Safitri dan Ameliasih yang pindah ke Kabupaten Bangkalan.

Akibat kehilangan dua pecatur putri andalannya yang kini justru berkibar dan menyumbangkan medali emas untuk Kabupaten Bangkalan di ajang Porprov VII/2022, membuat Kota Surabaya gagal mempertahankan prestasinya. Tidak hanya gagal merebut medali emas, tapi juga tidak mampu menembus 5 besar perolehan medali cabor catur di Porprov VII/2022. Kota Surabaya hanya kebagian dua medali perak dan tiga medali perunggu.

Kegagalan ini diakui Ketua Percasi Surabaya, Budi Leksono. Dia pun meminta maaf kepada masyarakat Surabaya dan pemkot, karena cabor catur gagal mempersembahkan medali emas, seperti Porprov sebelumnya yang menyabet tiga medali emas.

Karena itu, ke depan Buleks, panggilan Budi Leksono, berharap ada perhatian dari Pemkot Surabaya terhadap cabor asah otak ini.
“Catur ini dianggap olahraga kampung, tapi di sisi lain kita dituntut berprestasi dan menyabet medali emas. Kita sudah beberapa kali mengajukan surat ke pemkot untuk minta bantuan sarana dan prasarana, seperti papan catur atau jam catur, tapi semua tak pernah terealisasi,” ungkap dia, Selasa (5/7/2022).

Buleks mengakui, tidak digelarnya Piala Wali Kota dan Piala KONI karena pandemi Covid-19, juga ikut memengaruhi performa atlet yang butuh banyak pertandingan untuk menambah pengalaman tanding dan jam terbangnya.
“Ya, akhirnya kita adakan Piala Percasi Surabaya. Ini sebagai bentuk upaya kita menjaga kesinambungan prestasi dan mencari bibit-bibit atlet, ” jelas dia.

Buleks yang juga Sekretaris Komisi A DPRD Kota Surabaya mengaku, jika dirinya tak pernah berhenti turun ke kampung-kampung mengadakan turnamen.Tujuannya hanya satu, mencari bibit atlet potensial yang nantinya akan dibina untuk membela Kota Surabaya di berbagai event.
Bahkan untuk tujuan tersebut , Buleks akan keliling ke sekolah-sekolah di Surabaya.

Yang jelas, lanjut dia, kegagalan cabor catur di Porprov VII/2022 ini membuat dirinya kian bersemangat untuk melakukan evaluasi dan instropeksi diri agar ke depan prestasi atlet Surabaya bisa berkibar lagi. Dan, terpenting mereka bisa merasa nyaman di Surabaya.

Soal atlet-atlet catur andalan Surabaya banyak pindah ke daerah lain, Buleks menyatakan, mereka yang keluar dari Surabaya ini memang atlet yang berprestasi. Dirinya tidak akan pernah nggandholi hak seseorang untuk mengembangkan prestasi dan mencari masa depannya yang lebih baik. Namun, dia
berharap ke depan ada klausul-klausul sendiri agar mereka ini benar-benar diperhatikan oleh Pemkot Surabaya dengan tuntutan-tuntutannya, sehingga tidak lari ke daerah lain.

“Ya pasti, seseorang setelah besar dan berprestasi akan mencari tempat yang lebih baik dengan jaminan masa depannya. Apakah kita harus menahan hak-hak tersebut, ini adalah sebuah pilihan. Tapi seandainya mereka nyaman di Surabaya, tentu tidak akan keluar dari Surabaya,”beber dia.

Lantas Buleks mencontohkan, ada beberapa atlet, meski prestasinya hanya di Piala KONI Surabaya atau Piala Wali Kota Surabaya, kemarin- kemarin ingin mendapatkan atau masuk sekolah ke SMA Negeri saja susah. Apakah ada perhatian seperti ini? Sementara di daerah lain mereka langsung difasilitasi dan dijamin masa depannya.

“Terus terang, daerah-daerah banyak mengincar atlet Surabaya yang berprestasi dan punya potensi nomor satu dengan iming-iming lebih besar dan jaminan masa depan. Ini untuk mengubah daerahnya di peta persaingan Porprov,”imbuh dia.

Seandainya Kota Surabaya bisa sama-sama, artinya bisa memberikan fasilitas dan jaminan masa depan kepada atlet yang berprestasi seperti yang dilakukan daerah-daerah lain, sehingga mereka merasa nyaman di Surabaya, Buleks yakin Porprov ke depan Kota Surabaya akan lebih hebat. Karena barometernya catur itu adalah Kota Surabaya. “Ini yang jadi jeritan saya,” tandas politisi senior PDI-P ini.

Dia mengaku akan membuktikan kalau di Surabaya olahraga catur akan tetap hidup. Bahkan, sampai saat ini catur masih selalu menghiasi sudut-sudut kota.
“Saya berupaya menggelar turnamen sampai tingkat kecamatan dengan dana pribadi. Dan saya sampaikan kepada semua orang tua yang memiliki anak dan punya hobi catur, kita butuh pecatur anak-anak yang berprestasi, khususnya anak perempuan. Nanti kita akan gelar turnamen khusus anak-anak untuk persiapan Porprov berikutnya,” pungkas dia.

Sementara Sekretaris Percasi Surabaya, Heznut Daullah menambahkan, untuk mencegah atlet berprestasi pindah ke daerah lain, memang harus ada perhatian dan jaminan masa depan dari Pemkot Surabaya.
Selain itu, atlet catur yang sudah mengikuti pemusatan latihan cabang (puslatcab) harus teken kesepakatan. “Kalau mereka keluar ke daerah lain, harus mengembalikan semua biaya yang dikeluarkan selama mereka menjalani latihan,” tandas dia.

Seperti diketahui, pecatur Surabaya yang pindah ke daerah lain, selain Dhea Safitri dan Ameliasih yang pindah ke Kabupaten Bangkalan, juga ada Meidy yang hijrah ke Sumatra.KBID-BE

Related posts

Walikota Mojokerto Takziah ke Keluarga Linmas yang Meninggal Saat Tugas Pemilu

RedaksiKBID

Kasus Covid-19 di Surabaya Meningkat, Wali Kota Eri Cahyadi Keluarkan Surat Edaran Kesiapsiagaan

RedaksiKBID

Bersama Kiai, PKB Jatim Gelar Tasyakuran Perpres Dana Abadi Pesantren

RedaksiKBID