KampungBerita.id
Kampung Bisnis Kampung Raya Surabaya Teranyar

Tagih Janji Wali Kota, para Jagal RPH Pegirian Menolak Dipindahkan

 

Komisi B DPRD Kota Surabaya hearing dengan Dirut RPH Surabaya, mitra jagal dan OPD Pemkot Surabaya, terkait penolakan jagal pindah ke Tambak Osowilangun.@KBID-2025.

KAMPUNGBERITA.ID-Puluhan jagal menolak keras rencana pemindahan Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke tempat yang telah disediakan di Tambak Osowilangun, karena keberadaannya terlalu jauh dari tempat penjualan.

Mereka khawatir tentang keamanan dan kenyamanan di lokasi RPH baru yang dinilai rawan kecelakaan dan tindak kejahatan. “Pada intinya kita semua menolak kebijakan yang tidak aspiratif ini, dan kami akan melakukan perlawanan,” ujar salah seorang jagal, Abdullah usai hearing di Komisi B DPRD Kota Surabaya, Rabu (24/9/2025).

Dia menilai, kebijakan Wali Kota Eri Cahyadi ini hanya mementingkan orang atas saja, tidak mementingkan nasib orang bawah (kecil). Selain itu, tidak ada urgensinya. “Kalau kita bicara soal urgensi, tidak ada urgensinya sama sekali. Kami juga tak punya kepentingan apapun. Yang jelas, kalau mau mengeluarkan kebijakan seharusnya Pemkot Surabaya menyerap aspirasi dari bawah, mengingat yang menjalankan itu adalah para jagal. Kalau RPH ini tak ada jagalnya, siapa yang akan memotong sapi,” tandas dia seraya menambahkan masyarakat di sana yang diwakili RW juga tidak keberatan ada RPH di Pegirian.

Untuk itu, Abdullah menegaskan, para jagal yang beranggotakan sekitar 40 orang menagih janji politik pasangan Eri Cahyadi- Armuji (Er-Ji) ketika Pilkada Surabaya lalu, yang mengatakan tidak akan memindahkan RPH Pegirian ke tempat baru. “Itu janjinya saat kampanye pada pertengahan 2024. Tapi setelah terpilih kok sekarang digencarkan isu-isu pemindahan RPH Pegirian,”tandas dia.

Abdullah menambahkan, sampai sekarang para jagal belum tahu kalau RPH Pegirian mau direlokasi ke Tambak Osowilangun.

Terkait penolakan relokasi RPH Pegirian oleh para jagal ini, Direktur Utama (Dirut) PT Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya Perseroda, Fajar Arifianto Isnugroho menjelaskan, sebenarnya keberatan para mitra jagal dipindah ke Tambak Osowilangun yang lokasinya jauh, sudah disampaikan ke Pemkot Surabaya karena menjadi bagian penting untuk kelancaran di Tambak Osowilangun.

Hanya saja, kata Fajar, Pemkot beranggapan bahwa lokasi baru ini adalah pengembangan RPH untuk lebih representatif di lokasi yang baru. “Sesuai arahan Komisi B, ini akan kita rapatkan lagi. Kami akan mengidentifikasi kira-kira keinginan atau maunya para jagal ini seperti apa. Misalkan, kalau lokasinya jauh solusinya bagaimana, jam pemotongan apakah bisa dimajukan? Karena memang faktanya di lokasi jalan ke Tambak Osowilangun cukup padat, pihaknya bahkan sering macet,” ujar dia.

Fajar mengaku, pihaknya harus memahami itu dan berpikir realistis. Karena kalau para jagal tidak mau memotong, RPH juga tidak ada pendapatan. “Makanya, pertemuan ini menjadi penting sebagai titik awal komunikasi kami dengan mitra jagal untuk mencari solusi ke depannya,” ungkap dia.

Karena bagaimanapun faktanya,  tegas Fajar RPH Tambak Osowilangun sudah dibangun, maka harus bagaimana?”Kami ini kan tergantung pemkot. Kami ini operator. Prinsipnya sekarang pun di Tambak Osowilangun tahapannya adalah tahap belum selesai, ” jelas dia.

Menurut Fajar, pihaknya ingin ada beberapa perbaikan, termasuk kandang yang sedang dikerjakan. “Prinsipnya, sebelum selesai kami tak mau pindah. Karena percuma saja pindah kalau jagal tidak bisa memanfaatkan dengan baik,” tambah dia.

Apa rencana pemindahan ke Tambak Osowilangun ini sudah ada sosialisasi ke mitra jagal atau pedagang? Fajar menyampaikan permintaan para jagal itu satu, tidak mau dipindahkan. Dia sendiri memahami kenapa para jagal ini tak mau dipindahkan. Karena ketika itu lokasi di Tambak Osowilangun tidak mencukupi untuk menampung kebutuhan jagal kandang di Pegirian.

Pada rapat terakhir dengan Bagian Perekonomian Pemkot Surabaya awal September 2025, sebenarnya sudah menemukan solusi. Kandang akan direnovasi menyesuaikan dengan kebutuhan dan Fajar berpikir hitungannya cukup dengan komposisi 180 sapi impor dan 80 sapi lokal bisa memenuhi kebutuhan jagal.

“Ketika itu sudah siap dan selesai dibangun, kami rencananya akan berkomunikasi dengan para mitra jagal. Saya ajak ke Tambak Osowilangun sekalian. Ini belum terlampaui, para jagal sudah menyuarakan keresahannya. Saya memahami keresahan mereka. Yang penting harus ada titik temu bagaimana untuk proses ke depannya,” tegas Fajar.

Soal di awal yang diusulkan di tiga lokasi, Fajar mengaku tidak tahu, mengingat untuk pembangunan itu urusan Pemkot Surabaya. Pihaknya hanya sekadar mengusulkan ketika itu. Bagaimana jadinya dan seperti apa akhirnya, ya seperti sekarang ini.

Menurut dia, usulan tiga lokasi itu kan lokasi awal, yakni di Tambak Wedi, Kenjeran, dan Mulyorejo yang ke arah pantai dengan harapan pembuangannya gampang. “Lha itu dulu potret kami. Ada tanah kosong aset Pemkot Surabaya yang kami harapkan bisa dioptimalkan oleh RPH. Tapi belum bisa dimanfaatkan RPH dengan alasan akan digunakan untuk MBR (Masyarakat Berpenghasilan Rendah). Akhirnya, ya kami tak bisa berbuat apa-apa, wong tinggal menerima saja. Jadi, kami sudah usulkan tiga lokasi itu. Suratnya masih ada, “ungkap Fajar.

Lantas inisiasi siapa untuk pindah ke Tambak Osowilangun, Fajar menjelaskan, sebenarnya ini sudah desain awal kota. Karena pertama melihat wilayah Kawasan Wisata Religi Sunan Ampel yang pernah didengar dari Bappeko bahwa kawasan itu akan dikembangkan sebagai kawasan wisata religi, Masjid Agung Sunan Ampel, parkir bus dan lokasi di RPH yang akan digunakan untuk pusat oleh-oleh (jajanan). “Itulah kemudian dicarikan solusi untuk mengembangkan RPH di lokasi baru.Itu sudah sejak lama,” tandas dia.

Menanggapi keluhan para mitra jagal yang menolak pindah ke Tambak Osowilangun, Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya, Mohammad Faridz Afif menyatakan, sebenarnya mereka sudah merasa nyaman di Pegirian, dan jika pindah ke Tambak Osowilangun biaya operasional lebih tinggi. Yang ditakutkan harga daging sapi lebih mahal ketiga pindah. Selain itu, dagingnya nanti takut tidak fresh. “Kalau di Pegirian kan bisa langsung ke pasar. Kalau di Tambak Osowilangun nanti dioper-oper, akhirnya tidak fresh. Kekhawatiran para jagal kalau sudah seperti itu mau berhenti,” ujar dia.

Kalau para jagal ini berhenti, lanjut Afif, dari mana RPH bisa mendapatkan pemasukan. Kan selama ini dari tukang jagal. RPH kan tidak menyembelih sendiri, hanya pelaksana untuk memastikan hewan itu sehat, halal, bersih, dan memotongnya juga dengan cara syariat dan prosedur yang tepat.
“Urusan menyembelih dan penjualannya, itu bukan urusan RPH. Kalau para jagal ini melakukan boikot, kami khawatir peredaran daging jadi berkurang dan dimanfaatkan oleh daerah-daerah lain,” jelas Afif.

Solusinya bagaimana? Politisi PKB ini menyebut Pemkot Surabaya harus mengerti dan mencarikan jawaban terhadap keluh kesah dari mitra jagal. Contoh, bisa juga RPH di Tambak Osowilangun hanya untuk sapi BX, sapi impor. Sedangkan yang di Pegirian sapi lokal. Atau bisa juga separo- separo sambil proses berjalan. Banyak solusinya.

“Kesimpulan rapat, Komisi B meminta kepada RPH Surabaya melakukan rapat dengan mitra jagal dan Bagian Perekonomian Pemkot Surabaya. Tulis semua yang jadi keluhan, tuangkan dalam resume rapat dan diteken bersama,” tutur Afif.

Setelah itu, lanjut dia, hasil rapat tersebut dibawa ke Komisi B untuk dirapatkan bersama RPH Surabaya, DPR KPP dan Bagian Perekonomian.

Semula RPH mengusulkan di Tambak Wedi, Kenjeran, dan Mulyorejo, tapi oleh Pemkot Surabaya malah dipindah ke Tambak Osowilangun. “Jadi yang menentukan ke Tambak Osowilangun itu adalah DPRKPP. Bahasanya RPH, tiba-tiba lelang sudah dimenangkan dan pembangunan di Tambak Osowilangun. Makanya DPRKPP akan kita undang. Bagaimana kronologisnya, kenapa para jagal kok enggak diajak bicara dulu, ” tandas dia.

Pembangunan RPH di Tambak Osowilangun apa sudah selesai, Afif mengaku progressnya sudah mencapai 90 persen. Hanya saja, dulu ada permintaan dari Komisi B ke RPH untuk penambahan kandang sapi. Karena ketika sapi dari Kedurus dan Pegirian jadi satu, kandang tidak cukup.

Lebih jauh, Afif mengaku blak-blakan, sebenarnya jika RPH tetap di Pegirian limbahnya mengganggu juga. Karena itu, mestinya Pemkot dan RPH Surabaya sudah ada solusi. “Selama ini meski mengganggu, tapi aman-aman saja,”pungkas Afif. KBID-BE

Related posts

Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim Gelar Operasi Gabungan Pajak Kendaraan, Targetkan Kepatuhan hingga Akhir Tahun

DJUPRIANTO

KPU Surabaya Gelar Jalan Sehat Sadar Pilkada, Nur Syamsi: Mari Kita Kawal Sama-sama

RedaksiKBID

Lanjutkan Keberhasilan Pembangunan, Whisnu Sakti Paparkan Visi Misi Surabaya ke Depan

RedaksiKBID