KampungBerita.id
Headline Peristiwa Teranyar

Gerhana Bulan Total Terlama Terjadi Setelah 100 Tahun

Salah satu gambar fase saat terjadi gerhana bulan

KAMPUNGBERITA.ID – Gerhana bulan terlama terjadi Sabtu 28 Juli 2018 malam hingga pagi. Hal itu dianggap sangat spesial bagi sebagian besar masyarakat Indonesia karena hanya akan terjadi lebih dari seratus tahun lagi.

Gerhana bulan terlama berikut akan terjadi dalam waktu yang sangat lama. NASA mengungkap, gerhana bulan paling lama selanjutnya akan terjadi pada 9 Juni 2123.

Gerhana bulan terlama ini terjadi pada pukul 01:24 hingga 05:19 WIB. Sementara, fase total berlangsung pukul 02.30 – 04.13 WIB. Semua diperkirakan akan terjadi dalam durasi satu jam 43 menit. Banyak warga mengabadikan peristiwa tersebut.

Indonesia menjadi salah satu negara sebagai saksi bagi fenomena Gerhana Bulan Total (GBT) terlama tersebut.

Menanggapi hal tersebut, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mewaspadai adanya gaya pasang surut air laut yang menjadi dampak gerhana.

“Gerhana bulan total di Indonesia berlangsung dini hari sampai subuh. Tidak ada dampaknya, selain pasang surut maksimum yang biasa terjadi saat purnama,” kata Kepala LAPAN, Thomas Djamaluddin.

Lebih lanjut, hal tersebut juga didukung oleh peneliti LAPAN , Rhorom Priyatikanto mengatakan jika gaya pasang surut dan naik air laut memang biasanya meningkat menjelang gerhana bulan.

“Memang ada kontribusi gaya pasang surut dan naik yang meningkat menjelang bulan purnama atau gerhana besok, Sabtu dini hari. Namun, sebenarnya gaya pasang surut bulan kira-kira hanya 85% dari rata-rata,” imbuh Rhorom.

Lebih lanjut, Rhorom menjelaskan jika pasang naik dan surut yang terjadi pada 28 Juli 2018, siklusnya terjadi setiap 12 jam.

“Jumat (kemarin), puncak pasang terjadi sekitar tengah malam. Waktu tepatnya bervariasi, bergantung kondisi lokal,” ujarnya.

Terkait prediksi terjadinya gelombang pasang surut dan naik, dia mengatakan jika wilayah pesisir di belahan dunia manapun mengalami pasang surut air laut. Namun, untuk besarnya menurut dia akan berbeda dan bervariasi setiap wilayah.

Pakar fisika Teori Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Dr rer nat Bintoro Anang Subagyo menyebut gerhana bulan total yang terjadi di Indonesia pada Sabtu, (28/7) merupakan fase totalitas terlama sepanjang abad terakhir.

Pria yang akrab disapa Bintoro ini mengatakan, fase totalitas gerhana bulan kali ini akan berlangsung selama 103 menit.

Fase penumbra mulai terlihat pada 00.14 dini hari. Gerhana sebagian akan nampak sejak 01.24, sedangkan gerhana total mulai terlihat pada 02.30 dan berakhir setelah waktu salat subuh.

“Gerhana ini sebenarnya berakhir pada 06.28, tetapi sudah tidak dapat diamati karena posisi bulan sudah tenggelam,” tambahnya.

Berdasarkan siklus, gerhana bulan dengan fase totalitas terlama akan kembali terjadi pada 9 Juni 2123 dengan durasi 106 menit. Hal ini serupa dengan Super Blue Blood Moon pada Januari lalu, yang akan kembali terulang 100 tahun kemudian.

“Ini merupakan kali kedua fenomena gerhana bulan langka yang mampu diamati di Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, durasi waktu yang cukup panjang ini dikarenakan lintasan bulan pada saat itu hampir mendekati garis tengah lingkaran bayangan gelap (umbra) bumi, sehingga bulan akan berada dalam bayangan tersebut dalam waktu yang relatif lebih lama.

Fenomena aphelion, yaitu bumi berada pada titik terjauh dari matahari yang terjadi bulan Juli ini juga diduga menjadi penyebabnya.

“Saat puncak gerhana itu berlangsung, jarak bumi-matahari lebih dekat sekitar 184 ribu km daripada saat aphelion, atau menjadi sejauh 151,8 juta km,” tutur Bintoro.

Layaknya gerhana bulan pada umumnya, gerhana dapat disaksikan dengan mata telanjang. “Tidak perlu menggunakan kaca mata seperti saat gerhana matahari,” ucapnya.

Menurutnya meskipun Surabaya tidak termasuk dalam daftar 20 titik pantau yang diumumkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca di Surabaya cukup mendukung untuk melakukan pengamatan sendiri.

Didukung peralatan yang tersedia, Laboratorium Fisika Teori dan Filsafat Alam Departemen Fisika ITS juga akan melakukan pengamatan di lantai 4 gedung F Departemen Fisika ITS.

Ia menilai, alat yang dimiliki laboratoriumnya sudah cukup mumpuni untuk menghasilkan dokumentasi terbaik.

“Saya harap dengan pengamatan yang nantinya dilakukan, ITS dapat memiliki video atau gambar atas fenomena sekali se-abad ini,” ucap Bintoro. KBID-NAK

Related posts

Pasar Tradisional Tak Terdampak Jam Malam saat PSBB di Surabaya

RedaksiKBID

Komisi C Dukung Langkah Pemkot Surabaya Perluas Akses Transportasi Publik

RedaksiKBID

Usut Dugaan Korupsi Seragam Batik Sekolah, Kejari Periksa Sejumlah Pihak

RedaksiKBID