KampungBerita.id
Teranyar

Kadinkes Surabaya: Hasil Lab Dugaan Keracunan MBG Keluar Senin Depan, Temukan Kejanggalan Proses Pengolahan Daging

Kadinkes Surabaya, dr Billy Daniel Messakh.@KBID-2026.

KAMPUNGBERITA.ID-Kepala Dinas Kesehatan Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menyebut hasil uji laboratorium sampel dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) baru bisa diketahui Senin (18/5/2026). Sampel daging yang diduga paling bermasalah sudah dikirim ke laboratorium mikrobiologi. “Kami ambil sampel yang paling suspicious, yaitu daging. Proses pengambilan sudah steril. Muntahan juga kami ambil sesuai prosedur,” kata Billy dalam hearing di DPRD Surabaya, Rabu (13/2026).

Dari investigasi lapangan, Dinkes menemukan sejumlah kejanggalan dalam proses pengolahan. Daging beku didefrost selama 2 jam di area yang tidak bersih. Saat itu, banyak lalat berkeliaran karena alat perangkap serangga tidak standar. “Lampunya ada, tapi tidak ada trapnya. Jadi lalat bisa datang dan pergi lagi,” jelas dia.

Billy juga menyebut pintu dapur tidak dilengkapi penghalang plastik sehingga serangga mudah masuk. Bahkan ada lubang yang berpotensi dilalui tikus. Semua temuan itu, kata dia, sudah didokumentasikan, baik foto maupun video.

Sampel yang diambil kini sedang dibiakkan di laboratorium untuk mengidentifikasi jenis kuman. Prosesnya memakan waktu 5-7 hari sejak Senin lalu. “Kalau ditanya kapan hasilnya, paling cepat Senin depan bisa kita cek,”ungkap dia

Lebih jauh, dr Billy menjelaskan, munculnya gejala 30-60 menit setelah konsumsi makanan mengarah pada kemungkinan keterkaitan dengan makanan MBG yang dikonsumsi bersamaan. “Dasar masa inkubasi singkat 30-60 menit serta gejala dominan mual dan muntah, kemungkinan penyebab sementara mengarah pada kontaminasi kimiawi pada makanan. Ini masih teori dan perlu pembuktian laboratorium,” kata dr. Billy.

Hasil investigasi kesehatan lingkungan menemukan beberapa faktor risiko yang berpotensi menyebabkan kontaminasi, yakni pertama
prosesi thawing daging, dilakukan pada suhu ruang selama 2 jam dengan perendaman dan aliran air, berisiko meningkatkan pertumbuhan bakteri.

Kedua, jeda waktu panjang pada proses perebusan, pendinginan, pengisian, hingga pemasakan akhir daging. Ketiga, penyimpanan tidak aman. Nasi matang disimpan bercampur dengan bahan pangan mentah dalam chiller, memungkinkan kontaminasi silang. Keempat, sanitasi lingkungan buruk. Ditemukan lalat di beberapa area dapur produksi, akses terbuka untuk vektor penyakit, dan insekt trap belum berfungsi optimal. Kelima, higiene penjamah makanan belum sesuai standar keamanan pangan.

Inspeksi pada 11 Mei 2026 memberi nilai 81,85 dengan kategori tidak memenuhi syarat (TMS).

Dinkes Surabaya menyatakan penetapan penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan dan sampel klinis pasien. Proses ini diperkirakan membutuhkan waktu 7 hari.

Langkah selanjutnya adalah memantau perkembangan kondisi pasien yang masih menjalani observasi dan memastikan perbaikan standar hygiene sanitasi di SPPG.

Dia menegaskan, semua temuan saat ini merupakan faktor risiko. “Sekali lagi ini teori, perlu pembuktian nanti setelah 7 hari kita lihat,” pungkas dia. KBID-BE

Related posts

KKN di Sumur Welut, Mahasiswa Unair Ungkap Cerita Pasutri Sukses Wirausaha Keripik Pisang

Baud Efendi

Kurir Sabu dan Ganja Asal Surabaya Dibekuk di Gresik

RedaksiKBID

Khofifah Minta Mahasiswa Umsida Inovatif dan Berani Bersaing

RedaksiKBID