KampungBerita.id
Headline Kampung Raya Surabaya Teranyar

Tolak Pindah ke RPH TOW, Mitra Jagal Tagih Janji Wali Kota 

Para mitra jagal RPH berunjuk rasa di halaman Gedung DPRD Kota Surabaya.@KBID-2025.

KAMPUNGBERITA.ID- Puluhan massa yang tergabung dalam Paguyuban Para Jagal dan Paguyuban Pedagang Daging se-Kota Surabaya ngluruk Gedung DPRD Kota Surabaya, Selasa (9/12/2025). Mereka menolak keras rencana pemindahan
Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke tempat baru di Tambak Osowilangun (TOW) yang lokasinya jauh dari tempat penjualan.

Koordinator Jagal RPH dan Pedagang Daging se-Kota Surabaya Abdullah Mansyur, menuntut Wali Kota Surabaya agar membatalkan pemindahan RPH Pegirian ke tempat baru di TOW. “Bukan tanpa alasan kami melakukan penolakan itu. Apalagi, kami tidak pernah dilibatkan atau diajak bicara dalam rencana pemindahan tersebut. Sebagai mitra dan pengguna RPH seharusnya kami diikutsertakan dalam penentuan lokasi RPH yang baru. Tiba-tiba kami disodori tempat baru dan sudah dibangun,” ujar dia.

Untuk itu, Abdullah menegaskan, para jagal menagih janji politik pasangan Eri Cahyadi- Armuji (Er-Ji) ketika Pilkada Surabaya lalu, yang mengatakan tidak akan memindahkan RPH Pegirian ke tempat baru. “Itu janjinya saat kampanye pada pertengahan 2024. Tapi setelah terpilih kok sekarang digencarkan isu-isu pemindahan RPH Pegirian,”tandas dia.

Lebih jauh, Abdullah menyebut, jika Pemkot Surabaya memaksakan pindah ke RPH TOW, maka dipastikan akan ada 500 hingga 1.000 akan terputus mata penghasilannya karena tidak mau lagi bekerja di RPH. Bayangkan, dengan gaji Rp 50-70 ribu, jika harus pindah ke tempat baru harus mengeluarkan uang lebih banyak lagi. Untuk BBM, makan dan kejadian tidak terduga di sepanjang jalan. “Lalu apa yang akan dibawa ke anak istri di rumah “tegas dia.

Abdullah menyebut, jika para mitra jagal ini tak mau bekerja lagi di RPH, dipastikan perekonomian di Surabaya akan terhambat atau bahkan lumpuh. Karena salah satu indikator dari perekonomian di Surabaya adalah sektor perdagangan. Sedangkan para pedagang daging dan mitra jagal juga termasuk di dalamnya. “Kita, para pedagang daging ini menyuplai daging ke mal, rumah sakit, hotel, restoran, UMKM dan segala macam lapisan di Surabaya. Distribusi daging kita hampir beredar di Jatim, bahkan nasional, ” ungkap dia.

Untuk itu, lanjut dia, kalau tuntutan para mitra jagal ini tak diindahkan oleh Pemkot Surabaya, maka mereka akan melakukan aksi besar-besaran. ” Kita pastikan ada sekitar 5.000 orang yang akan memadati jalanan Kota Surabaya. Bahkan, para jagal akan membawa ekor sapi untuk diarak dari RPH ke Kantor Wali Kota, ” kata dia.

Untuk itu, lanjut dia, Pemkot Surabaya harus mempertimbangkan rencana pemindahan RPH. Karena dampaknya akan langsung dirasakan oleh wong cilik.

Abdullah mengaku, para jagal dan pedagang daging sepakat jika tuntutan mereka tak dipenuhi, maka pihaknya akan melakukan langkah-langkah ekstrem. Bahkan, para jagal akan melakukan unjuk rasa besar-besaran dengan mengerahkan 5.000 orang yang akan memadati jalanan Kota Surabaya. “Setiap jagal akan membawa semua ekor sapi untuk diarak dari RPH hingga ke Kantor Wali Kota. Ini untuk memastikan bahwa kami benar-benar serius menuntut upaya pembatalan rencana tersebut,” tambah dia.

Selanjutnya, jelas Abdullah, para jagal dan pedagang daging akan melakukan ‘Mogok Kerja’ selama sebulan. Artinya, tidak akan melakukan pemotongan dan menjual daging sapi. “Jika ini terjadi dapat dipastikan perekonomian Surabaya akan lumpuh dan akan menjadi konsumsi berita nasional. “Kami akan membawa masalah ini ke tingkat nasional agar Gubernur Jatim, DPR RI, Kemendagri, dan Presiden Prabowo bisa tahu,” terang dia.

Terkait penolakan relokasi RPH Pegirian oleh para jagal ini, Direktur Utama (Dirut) PT Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya Perseroda, Fajar Arifianto Isnugroho menjelaskan, sebenarnya keberatan para mitra jagal dipindah ke Tambak Osowilangun yang lokasinya jauh, sudah disampaikan ke Pemkot Surabaya karena menjadi bagian penting untuk kelancaran di Tambak Osowilangun. “Intinya kami menyerahkan sepenuhnya ke Komisi B untuk mengelola situasi ini karena memang mempertemukan kepentingan mitra jagal yang menolak pindah dengan kepentingan RPH. Pemkot Surabaya
memberikan solusi terbaik untuk kepentingan mitra jagal ke depan biar ketemu, bagaimana caranya, ” ungkap dia.

Fajar menyebut dinamika terjadi seperti ini ya dilalui saja. Karena memang mencari solusi tidak bisa cepat, apalagi situasinya menjelang libur akhir tahun dan sebentar lagi bulan suci Ramadan. “Jadi kita harus paham situ psikologi para mitra jagal.Terlebihnpasokan sapi sekarang ini agak sulit karena harganya mahal,” jelas dia.

Apa tak ada opsi lain selain pemindahan? Fajar menandaskan, prinsipnya RPH TOW yang dibangun Pemkot Surabaya sudah jadi, ya harus digunakan. Karena memang itu adalah rencana pengembangan tata kota Surabaya, di mana saat ini Ampel sudah tidak lagi di kawasan pinggiran. Maka, Pemkot Surabaya punya rencana untuk menata makam Sunan Ampel menghubungkan masjid, kemudian terminal bus dengan lokasi RPH Surabaya yang menjadi tempat wisata kuliner dan belanja.

Kemudian perpindahan tempat pemotongan sapi ke OTW itu sebuah keharusan dan sebagai solusi penataan kota lebih baik lagi. “Mengingat di tempat pemotongan itu kan ada limbah, ada bau, dan ada kotoran yang mau enggak mau tidak nyaman kalau itu menjadi tempat wisata religi Sunan Ampel, ” tutur dia.

Sementara Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya, Muhammad Faridz Afif mengaku, sebenarnya mitra jagal sudah diberikan solusi terbaik, tapi masih tidak mau dengan perpindahan ke RPH TOW. Mereka bersikeras tetap memotong di RPH Pegirian. Kenapa? ” Ya karena mereka sudah turun temurun di situ. Tapi karena Pemkot Surabaya sudah memfasilitasi tempat yang lebih bagus dan layak, maka Komisi B juga menyarankan seperti itu. Ini karena RPH TOW sudah memenuhi standarisasi. Mulai dari kandang, kantor, IPAL, dan bangunannya semua sudah memenuhi standarisasi untuk pemotongan sapi. ” Makanya kami berikan solusi-solusi kepada teman-teman mitra jagal agar mereka nyaman pindah ke sana (RPH TOW, ” tegas dia seraya menambahkan jika Pasar Arimbi tidak akan dibongkar, tetap menjadi pusat distribusi daging di Surabaya.

Dia menyampaikan, kendalanya terkait transportasi, maka Pemkot Surabaya harus menyiapkan transportasi untuk pengiriman daging dari TOW ke Pasar Arimbi.

Politisi muda PkB ini berharap kepada Pemkot Surabaya dan Rumah Potong Hewan selaku BUMD yang mengurusi pemotongan sapi. Dia berharap sosialisasi dilakukan bertahap, step by step dan menjelaskan secara runtut untuk menerangkan bagaimana para mitra jagal ini hanya butuh kepastian dan kenyamanan dalam perusahaan. Karena mereka sudah nyaman di Pegirian karena sudah berpuluh-puluh tahun. ” Saya minta Pemkot Surabaya yakinkan para mitra jagal ini agar mereka mau dan puas untuk pindah ke TOW,” jelas dia.

Soal para mitra jagal yang menagih janji Wali Kota? Afif mengakui tidak tahu. “Kalau itu, saya tidak tahu ya. Janji-janji Wali Kota yang mana, saya juga tidak tahu,” pungkas dia. KBID-BE

.

Related posts

Golkar Sodorkan Arif Fathoni Jadi Wakil MA di Pilwali Surabaya

RedaksiKBID

Korem 083/ Baladhika Jaya Raih Predikat Satker dengan Kinerja Terbaik di Wilayah Malang

RedaksiKBID

Tak Kantongi Izin, Proyek Perumahan Diamond Dihentikan Warga Damarsi

RedaksiKBID