
KAMPUNGBERITA.ID – Jelang pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kalangan DPRD Surabaya menanyakan sejumlah langkah yang bakal diambil Pemkot dalam penanganan Covid-19 (Corona), termasuk ketersediaan lokasi karantina untuk observasi pasien.
Klaim pihak Pemkot Surabaya yang menyatakan sudah ada hotel dan rumah susun (Rusun) yang bakal dijadikan lokasi karantina Covid-19 dipertanyakan keberadaanya.
Sebelumnya dalam rilis yang dikelurkan Humas Pemkot Surabaya pada Senin (20/4), Koordinator Protokol Komunikasi Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Surabaya M Fikser mengatakan sudah
menyediakan rusun dan hotel untuk fasilitas karantina khusus agi Orang Tanpa Gejala (OTG) dan kontak erat dengan Orang Dalam Pemantauan (ODP) dan Pasien Dalam Pemantauan (PDP) untuk memastikam physical distancing.
Sekretaris Komisis B DPRD Surabaya, Mahfudz meminta Pemkot Surabaya terus terang dalam penanganan wabah Covid-19 (corona).
“Jangan main teka teki, langsung saja disebutkan lah dimana lokasinya biar masyarakat mengetahui,” ujar dia.
Menurutnya, masyarakat saat ini dalam kondisi resah seiring dengan terus bertambahnya pasien posotif corona di Surabaya. Untuk itu, kata dia, pemkot harus terbuka termasuk soal lokasi yang bakal dijadikan tempat karantina dalam masa PSBB ini.
“Ini urusan kemanusiaan, harus kompak, ayolah yang tranparan saja, ” kata dia.
Sementara Anggota Fraksi PKB, Camelia Habibah menyayangkan sikap pemkot yang kabarnya akan memanfaatkan rusun Babat Jerawat sebagai lokasi karantina.
Dia juga menyebut adanya informasi mengenai hotel yang akan dijadikan lokasi karantina. Namun, karantina dikhususkan bagi para OTG yang negatif. Sementara keluarganya yang positif dikarantina di rumah.
“Saya kira tidak pas kalau seperti ini. Mending Pemkot memanfaatkan sarana utilitas milik pemkot dan pemprov yang bisa digunakan,” kata dia.
Pihaknya (Fraksi PKB) menyarankan pemkot menggunakan Asrama Haji Sukolilo dan Rusun Romokalisari yang masih kosong.
“Kenapa rusun Romokalisari bukan Babat Jerawat seperti yang digagas pemkot? Alasanya rusun Romokalisari jauh dari permukiman penduduk, sementara Rusun Babat Jerawat kanan kirinya padat penduduk, ini berpengaruh terhadap psikologis masyarakat,” kata dia.
Dan lagi, lanjut Habibah, nantinya yang dikarantina adalah mereka yang OTG dan ODP. “Jadi bukan malah yang negatif yang dikarantina, yang negatif tetap di rumah, jaga imun biar ndak stres,” katanya. KBID-DJI
