B a l o n

Tidak ada komentar
B a l o n,5 / 5 ( 1voting )

SUASANA damai di desa yang menggelar pemilihan kepala desa (pilkades) tiba-tiba berubah mencekam. Orang-orang tampak berlarian, berteriak histeris, menangis ketakutan, pintu dan jendela rumah pun serempak ditutup, mencekam.

Tak bisa dibayangkan Emen yang sebelumnya akrab bercengkerama dengan Tantowi kini saling bersitatap bengis. Muna yang kerap minta terasi saat akan membuat sambal kesukaan suaminya, tiba-tiba harus bersitegang sikap dengan Rodiyah tetangga sebelah kanan rumahnya. Bahkan Mail, yang saban hari terlihat asyik ngopi bareng Burhan di pangkalan ojek perempatan desa tersebut pun harus berbeda sikap hanya gara-gara beda pilihan.

Sementara Pak Guru Soleh yang keseharianya bersahaja, cukup dihormati, kini menjadi orang nomor satu yang paling dicari warga. Maklum, Pak Guru adalah Ketua Pemilihan Pilkades yang memunculkan dua kandidat berlogo Kacang dan Jagung.

Siang itu 31 tahun lalu, pesta demokrasi di level terkecil pemerintahan, pemilihan lurah, sedang berlangsung di sebuah desa. Warga pun tampak berbondong-bondong menuju lapangan yang sejak semalam sudah disulap menjadi deretan Tempat Pemungutan Suara (TPS).

”Kacang!,” teriak Mudin salah satu panitia penghitungan suara saat mulai melakukan penghitungan.

”Sah!,” jawab anggota panita yang lain.

”Jagung!,” teriak Mudin lagi sembari menunjukan surat suara yang tercoblos tepat di tengah gambar jagung.

”Sah!,” jawab panitia lainya menimpali.

”Kacang!,” teriak Mudin dan dijawab sama oleh panitia lainya.

”Kacang!,” teriaknya lagi terus hingga lebih dari 20 kali Mudin menerikkan kata kacang sembari menunjukan surat suara sah. Saat itu, penghitungan kotak ke 9 dari 10 kotak yang disediakan panitia dan calon Lurah bergambar Kacang sudah unggul cukup jauh.

Tiba-tiba, suasana menjadi kacau lantaran muncul balon yang diterbangkan sekelompok pendukung. Sekumpukan balon udara yang di bawahnya disertai sepanduk bergambar kacang itu mengudara di tengah lapangan saat proses penghitungan suara masih berlangsung. Orang-orang terlihat berteriak-teriak histeris.

”Belum selesai, belum selesai, kok sudah terbangkan balon!,” teriak mereka sembari menunjuk-nunjuk balon yang terus mengudara.

”Ini kacau, ini tidak beres, mana Pak Guru!?,” teriak Emen menatap liar ke seluruh penjuru lapangan. Emen memang pendukung fanatik calon bergambar Jagung. Dia menduga ada ketidakberesan panitia dalam penghitngan suara. Tak heran, Pak Guru Soleh pun menjadi sasaran sebagai ketua panitia.

Pak Guru yang sebelumnya sudah melihat gelagat kurang baik saat balon diterbangkan, entah oleh siapa, langsung beringsut untuk mengamankan diri bersama sejumlah panitia lainya. Emen pun kelimpungan mencarinya dan memrovokasi warga untuk menggeruduk rumah Pak Guru.

Tak ayal, ratusan orang pendukung calon bergambar Jagung serempak menuju rumah Pak Guru yang berada di tengah desa, tepat di samping musala tua. Penuh emosi, ratusan warga berjalan setengah berlari menuju rumah Pak Guru. Teriakan, makian, hinaan, tumpah ruah dari mulut mereka sepanjang jalan.

”Bangsat keluar!, ini ada kecurangan, masak belum selesai dihitung sudah teriak-teriak menang!,” teriak Emen diantara kerumunan massa sesampainya di depan rumah Pak Guru.

Tantowi yang berusaha meredam amarah Emen beserta ratusan warga lain justru menjadi bulan-bulanan. Massa sangat paham, Tantowi pendukung bersat calon lurah bergambar Kacang. ”Apa kamu!, kamu mau bela dia, bisa dimassa kamu!,” teriak Emen sembari menunjuk rumah Pak Guru saat bersitegang dengan Tantowi. Tantowi pun didorong sejumlah orang untuk menyingkir hingga terjengkang, tak kuasa.

”Keluar Pak Guru!, keluar!, jangan sembunyi, kalau tidak kita dobrak saja!,” teriak massa makin beringas.

Pak Guru sendiri diketahui tidak berada di rumah. Dia yang begitu sadar akan terjadi hal-hal tak terduga memilih mengamankan diri bersama panitia lainya ke rumah salah seorang warga. Aman. Namun, sebaliknya, rumah Pak Guru terus digedor-gedor, dilempari batu, kayu, bahkan mulai ada yang menendang pintu dan jendela hingga suasana di depan rumah tua tersebut pun bising, kacau, dan mencekam.

Maryam istri Pak Guru yang sedari tadi bersabar untuk diam di rumah sembari menahan ketakutan luar biasa tampak menangis tanpa suara. Demi melindungi anak-anaknya yang masih kecil-kecil dari rasa trauma, Maryam pun menguatkan hati untuk membuka pintu.

Saat dibuka, ratusan orang dengan mata nanar dan pandangan bengis menatapnya. Hampir semuanya dia mengenal wajah-wajah itu, maklum, satu desa sudah pasti saling mengenal satu dan lainya. Namun kali ini, Maryam hampir tak mengenali sikap mereka yang jauh berbeda dari sebelumnya. Dia pun berusaha menahan nafas, sejenak kemudian bertariak lantang.

”Ada apa?!, Pak Guru tidak ada di rumah!,” teriaknya membuat ratusan massa bertambah emosi.

”Tidak percaya, ayo kita geledah saja rumahnya!,” teriak seorang dalam kerumunan yang belakangan diketahui bernama Mail, tukang ojek yang identik dengan rompi ala wartawan saat bekerja di pangkalan.

Sontak semuanya berusaha masuk rumah Pak Guru, Maryam pun terdorong hingga terjerembab. ”Masya Allah, laknat semua kalian!,” teriaknya saat jatuh terjengkang.

Tak peduli dengan teriakan Maryam, massa pun masuk mengobrak-abrik isi rumah, mencari Pak Guru hingga ke kolong-kolong tempat tidur dan kamar mandi. ”Tidak ada!,” teriak mereka.

Maryam yang sudah tak kuasa membendung amarah warga memilih merangkul ketiga anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Dia dekap ketiganya sembari berurai air mata. Dua anak perempuan terkecilnya terlihat menyembunyikan wajah di dada Maryam, ketakutan melihat mata-mata nanar penduduk desa yang sebelumnya cukup ramah dan berubah bengis hanya karena jago mereka untuk sementara kalah unggul suara dibanding calon lain.

Sementara Nanak, anak laki-laki Maryam yang sudah duduk di kelas 1 SMP tampak tegar. Dia berusaha mengamati wajah orang-orang yang mengobrak-abrik rumahnya dengan seenaknya. berkali Maryam meminta Nanak memalingkan wajah, namun tidak dilakukan. Tampak sorot matanya tajam, menahan amarah. Sayang, Nanak tak bisa berbuat banyak lantaran usianya masih belia.

”Kelak, kalian akan terima pembalasanku,” batinya berkecamuk untuk membuat perhitungan dengan orang-orang itu, kelak apabila sudah besar.

”Saya tidak terima, hak demi Allah, kalian telah membuat ibuku dan adik-adiku menangis tak berdaya di hadapan penduduk,” batinya terus berujar sembari mengepalkan tanganya disertai nafas memburu.

Sejurus kemudian, terdengar orang-orang di luar rumah berteriak-teriak mendapati Pak Sodik salah satu panitia yang mengamankan diri di dalam musala. Mereka memegang erat-erat Pak Sodik, menarik-narik tanganya, pundaknya, kerah lehernya, hingga Pak Sodik terlihat ketakutan setengah mati.

”Kita sate saja!, kita sate,” teriak seseorang dalam kerumunan.

”Kita panggang saja!,” teriak lainya. Suasana pun menjadi kacaua balau. Teriakan, makian, cacian silih berganti ditujukan ke Pak Sodik yang terlihat jelas dari mulutnya terus melantunkan salawat nabi, memohon keselamatan. Dia terus diseret-seret.

”Kita bawa ke balai desa,” teriak Emen.

”Kita adili di sana,” lanjutnya.

Mendengar rencana orang-orang yang sudah di luar kendali, Maryam berlari keluar berusaha menahan massa membawa Pak Sodik ke balai desa. Berteriak sembari menangis, Maryam meminta orang-orang sadar dengan apa yang dilakukan. Berharap massa sadar bahwa mereka semua masih saudar sekampung, justru makian dan celaan yang didapat Maryam.

‘”Dipanggang sekalian dua-duanya!, ayo dibawa ke balai desa!,” teriak mareka sembari menyeret keduanya.

Maryam yang berusaha meronta, tak cukup tenaga melawan ratusan orang beringas layaknya kesetanan tersebut. Maryam pasrah. Di sampingnya tampak Pak Sodik berusaha menguatkan Maryam.

“Tenang, tidak akan terjadi apa-apa, mereka hanya tidak sadar,” ujar Pak Sodik lirik. Keduanya pun digelandang ke balai desa.

Di situ, ribuan massa sudah menunggu. Bahkan sebagian sudah merusaka balai desa tempat pertemuan warga. Balai yang dibangun susah payah dengan gotong royong itu pun rusah parah, berantakan.

”Bakar!,” begitu teriakan bakar muncul dari kerumunan, massa pun merangsek masuk ke balai desa menyiram minyak, membakar balai desa hingga luluh lantak.

Saat kerumunan terpancing untuk membakar balai desa, Pak Sodik dan Maryam mengambil kesempatan untuk menyelinap masuk ke rumah salah seorang warga di sekitar lokasi. Keduanya meminta perlindungan. Massa baru sadar setelah puas membakar balai desa, ternyata Pak Sodik dan Maryam sudah tidak ada di lokasi. Mereka pun mencari kesana kemari, tidak ditemukan.

Selang berapa lama kemudian, ratusan personel kepolisian dan tentara berhamburan memasuki desa. Ribuan orang yang sebelumnya beringas, lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Mereka sembunyi di rumah masing-masing, ada yang memilih lari ke luar desa.

Aparat pun merazia desa. Sepi. Tidak ada kerumunan. Massa yang sebelumnya banyak berkumpul di sejumlah titik bubar. Mereka memilih lari dari kejaran aparat. Desa pun lengang untuk sesaat.

Hingga larut malam, saat personel keamanan masih menjaga situasi desa, Pak Sodik dan Maryam baru keluar dari persembunyian rumah warga. Keduanya pulang dan disambut anak-anaknya yang sedari siang kebingungan mencari keberadaan ibunya.

Nanak yang masih memendam cita-cita dendam tak bergeming saat ibunya meminta untuk tidak memasukan peristiwa tersebut ke dalam hati dan pikiran. ”Tidak bisa, ribuan orang berbuat onar, tidak ada yang ditangkap, saya yang akan memberesi kelak,” demikian cita-citanya tergumam dalam hati.

Belakangan, setelah kotak ke-10 dihitung, bahkan melalui proses penghitungan yang sangat ketat. Suara calon lurah bergambar Kacang tetap unggul jauh dibanding calon bergambar Jagung. Tidak ada yang salah, tudingan kecurangan pun tak terbukti, salah balon yang terlalu dini mengudara. (*)

(Inyong Maulana, penulis adalah cerpenis yang saat ini bekerja sebagai Redaktur Pelaksana HARIAN BANGSA)