Sia-sia, Proyek Jembatan Bambu Bernilai Rp 1,2 Miliar Tak Layak Pakai

Jembatan bambu di kawasan Ecowisata Mangrove rusak tak bisa digunakan.@KBID2020

KAMPUNGBERITA.ID – Berniat ingin menjadikan kawasan Mangrove Wonorejo sebagai lokasi wisata andalan dengan ikon jembatan gantung bambu setinggi 12 meter, Pemkot Surabaya justru dinilai membuang anggaran pembangunan secara sia-sia.

Bagaimana tidak, jembatan bernilai proyek Rp 1,2 miliar tersebuat hancur berantakan, tidak layak dipakai, terlebih untuk rombongan wisatawan dalam jumlah banyak. Sekadar diketahui, pembangunan jembatan bambu di Ecowisata Mangrove, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Surabaya menelan anggaran Rp 1,2 miliar.

Jembatan bambu setinggi 12 meter di Ecowisata Mangrove ini dibangun mulai Mei 2018 dan dilanjutkan Desember 2018 (tahap 1). Kemudian dilanjutkan (tahap 2-4) pada pertengahan 2019.

Jembatan gantung bambu yang menghubungkan MIC (Mangrove Information Center) hingga kawasan jogging track sepanjang 600 meter ini, semula diharapkan Pemkot Surabaya menjadi spot wisata andalan di pesisir Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya). Tapi baru berumur dua tahun jembatan bambu kondisinya sangat memprihatinkan.

Jembatan gantung bambu ini awalnya diperkirakan aman, karena berbahan dasar bambu petung. Yakni, jenis bambu yang memiliki ukuran lingkar batang yang besar. Prediksi pemkot waktu itu, kekuatan bambu ini tak akan rusak 2 hingga 3 tahun.

Selain itu, jembatan gantung bambu ini diperkirakan mampu dinaiki sampai maksimal 15 orang. Namun, proyek Pemkot Surabaya itu dinilai salah dalam perancangan konstruksinya yang berbahan dasar kayu bambu.

“Ide Bu Risma memang bagus dari segi keindahan (estetika). Hanya saja, saya melihat pemkot tidak memperhitungkan kondisi cuaca di Indonesia. Bagaimanapun kalau bambu (kayu) kena hujan, ya lama kelamaan pasti akan lapuk dan rusak. Apalagi konstruksinya setinggi itu, sangat berbahaya dan tidak aman bagi pengunjung,” ujar salah seorang warga Surabaya, Samuel Teguh Santoso.

Menurut dia, Pemkot Surabaya harus segera melakukan perbaikan agar kawasan Ekowisata Mangrove Wonorejo yang jadi andalan pariwisata Surabaya bisa ramai dikunjungi wisatawan.

“Saya nilai pembangunan jembatan bambu ini proyek sia-sia. Karena baru dibangun 2018, sekarang sudah rusak,” ujar Samuel yang juga Ketua DPD Partai Perindo Surabaya.

Sementara Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Pemkot Surabaya Yuniarto Herlambang, menyatakan, jika jembatan bambu itu sampai sekarang masih belum bisa dibenahi. “Untuk saat ini belum ada pembenahan. Anggaran untuk perbaikan belum ada,” ujarnya.

Ditanya kemungkinan dilakukan pembenahan pada 2021, Herlambang belum bisa memastikan. “Kalau anggaran sudah normal, mungkin bisa. Ya, semoga,” imbuhnya.

Sejak awal pembangunan, jembatan tersebut memang sudah menuai kontroversi. Saat itu, Armuji yang masih menjabat sebagai Ketua DPRD Surabaya mempermasalahkan konstruksi dan kondisi proyek bernilai miliaran rupiah tersebut.

Menurutnya waktu itu, penanggungjawan proyek bernilai miliaran rupiah yang mangkrak tersebut harus bertanggungjawab. Armuji juga mengkritisi bahan bambu yang digunakan dengan ketinggian jembatan yang dinilai membahayakan. KBID-DJI