
KAMPUNGBERITA.ID
Pengelolaan reklame selama ini ditangani secara sampingan oleh bidang yang juga mengurus sembilan jenis pajak lain, mulai pajak hiburan hingga parkir. Akibatnya, fokus terhadap reklame menjadi minim.
Di kalangan masyarakat muncul agar dibentuk Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau BUMD khusus yang mengelola reklame di Surabaya. Ini juga untuk memangkas birokrasi perizinan reklame yang berbelit.
Menanggapi ini, Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya, Moch Machmud menilai masukan itu cukup baik. Sebab, dari data yang ada pendapatan dari sektor reklame itu sudah menyentuh hampir Rp 200 miliar per tahun.
Dia menyebut saat ini pengelolaan reklame kurang fokus. Kenapa demikian? Menurut mantan jurnalis ini, karena reklame ditangani oleh bidang yang juga mengurus sembilan jenis pajak lain, mulai pajak hiburan hingga parkir. “Kenyataannya hari-hari ini, karena reklame itu ditangani sampingan, Pemkot Surabaya saja saja tidak tahu mana reklame yang bodong, yang tidak ada izin atau yang ada izin, tidak tahu. Karena memang tidak fokus,”tegas dia, Senin (25/5/2026).
Politisi senior Partai Demokrat ini menilai jika reklame ditangani OPD tersendiri, maka seluruh proses bisa lebih fokus dan profesional. Mulai dari perizinan hingga penertiban bisa selesai dalam satu pintu, tanpa perlu mengurus surat sembilan hingga sebelas dinas berbeda.
“Kalau ada dinas reklame, orang mau bangun reklame di tanah milik Dinas Lingkungan Hidup atau PU, orangnya ada di dinas itu. Semua selesai di situ, tidak perlu lagi ke PU. Jadi bisa memangkas birokrasi, meningkatkan pendapatan,” tegas dia.
Bagiamana jika ditangani BUMD khusus reklame, Machmud mengakui jika dibentuk BUMD, seluruh uang masuk ke BUMD dan Pemkot Surabaya hanya mendapat deviden. Namun jika dibentuk OPD khusus, fokus pengelolaan akan lebih kuat. “Orangnya bangun tidur sampai mau tidur ngurusi reklame saja dengan segala macam masalahnya. Sehingga bisa fokus,”ungkap dia.
Meski belum ada daerah lain yang memiliki dinas khusus reklame, Machmud mendorong Surabaya menjadi pelopor. “Surabaya harus menjadi pelopor yang baru-baru seperti itu. Tidak ada kata tidak bisa. Karena potensinya tinggi,” pungkas dia. KBID-BE

