KampungBerita.id
Headline Kampung Raya Surabaya Teranyar

Bosan’ Wilayahnya Tergenang, Warga Perumahan Puri Gunung Anyar Regency Ngadu ke Komisi C, Ini Solusinya…

Warga Perumahan Puri Gunung Anyar Regency mengadu ke Komisi C karena bertahun-tahun wilayahnya tergenang.@KBID-2026.

KAMPUNGBERITA.ID-Warga RT-06/ RW-07, Perumahan Puri Gunung Anyar Regency, Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Kecamatan Gunung Anyar ‘bosan’ bertahun-tahun wilayahnya tergenang. Akhirnya, Rabu (25/2/2026), mereka mengadukan ke DPRD Kota Surabaya.

Dalam hearing di Komisi C DPRD Kota Surabaya yang dihadiri Lurah Gunung Anyar Tambak, Dinas Sumber Daya Air dan Bina Marga (DSDABM), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Surabaya, Bagian Hukum dan Kerja Sama Pemkot Surabaya, Ketua RT-06/RW-07, Mukani menjelaskan, bahwa Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi pernah menginstruksikan tidak ada genangan dan kegelapan di Surabaya, ternyata di Perumahan Puri Gunung Anyar Regency luar biasa sekali genangannya. Satu wilayah RT saja genangannya ada  tujuh titik. Namun untuk mengatasi persoalan tersebut ada secercah titik terang, ketika Lurah Gunung Anyar Tambak dalam penjelasannya menyampaikan jika dana kelurahan (dakel) tahun ini bisa menyelesaikan persoalan genangan di gunakan ang I atau dua titik.

Pertanyaannya, mengapa tidak langsung tujuh titik? “Ya, karena terbentur ketersediaan anggaran yang ada. Karena anggarannya kurang lebih Rp 1 miliar. Di tempat saya saja, dua titik, estimasinya menyerap anggaran sekitar Rp 750 juta. Satu RT ada 11 gang dan tiga gang sudah tercover, sehingga menyisakan delapan gang yang panjangnya sekitar 1.000 meter,” ujar dia.

Mukani menjelaskan, wilayahnya yang dihuni sekitar 300 rumah menjadi titik terendah sehingga kerap terdampak genangan hingga mencapai 50 hingga 70 sentimeter saat hujan deras bersamaan dengan air laut pasang atau rob. Kejadian seperti ini dialami warga bertahun-tahun. Karena itu, Mukani mengaku bersyukur karena Pemkot Surabaya sudah ada solusi, yaitu membantu perbaikan pintu air dan bantuan pompa air.

“Kalau terjadi genangan, pompa-pompa ini fungsinya untuk mempercepat surutnya air. Tapi kalau turun hujan dengan intensitas tinggi, terus air laut pasang, maka pintu air ditutup. Kemudian kita pompa dan untuk bisa surut memerlukan waktu lima jam,”ungkap dia

Lebih jauh, Mukani menjelaskan, dari delapan titik genangan, yang parah ada dua titik yang nantinya akan dilakukan pembangunan. Untuk itu, perlu adanya percepatan pengerjaan pembangunannya. “Insyaallah sekitar Juni 2026, pekerjaan dimulai,” tandas dia.

Sebenarnya apa yang menjadi penyebab utama terjadinya genangan di perumahan tersebut, Mukani menjelaskan, jika penyebab utamanya karena perumahan tersebut letaknya rendah. Selain itu, lokasinya ada di sebelah timur pompa Kebon Agung. “Lima tahun yang lalu saya sudah mengajukan ke Wali Kota, tapi belum bisa disetujui karena fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial ( fasos) perumahan belum diserahkan kepada Pemkot Surabaya. Alhamdulillah tiga tahun terakhir fasum dan fasos sudah diserahkan. Akhirnya, PJU masuk secara bertahap. Dari 11 gang, tiga gang sudah tercover,” beber dia.

Sementara perwakilan Bappeda Kota Surabaya, Windo Gusman Prasetyo menjelaskan, jika kawasan Gunung Anyar Tambak memang belum masuk dalam sistem drainase utama kota, sehingga belum terintegrasi dalam Surabaya Drainase Master Plan (SDMP). Dengan begitu, sistem saluran yang ada belum mampu mengakomodasi perkembangan permukiman baru.”Karena ini penambahan kawasan hunian maka saluran tersiernya belum terbangun secara sistematis. Tahun ini, kami akan lakukan kajian menyeluruh, termasuk kemungkinan merevisi sistem Kebon Agung atau membangun sistem drainase baru. Kajian tersebut kita targetkan rampung dalam satu dua bulan ke depan. Setelah itu kita lanjutkan survei lapangan bersama konsultan,” beber dia.

Kabid Pematusan DSDABM, Adi Gunita menyampaikan, pihaknya sedang meninjau ulang efektivitas Rumah Pompa Kebon Agung. Bahkan, tidak menutup kemungkinan dilakukan reposisi atau optimalisasi pompa, termasuk pemaksimalan tiga pompa di kawasan terdampak serta satu pompa tambahan di wilayah sekitar.

Dia juga menyoroti pentingnya penyerahan fasum dan fasos agar intervensi Pemkot Surabaya dapat dilakukan secara menyeluruh.

Aning Rahmawati.@KBID-2026.

Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Surabaya, Aning Rahmawati menyebut wilayah pesisir Timur Gunung Anyar setiap hujan pasti banjir. Ketika dirinya sidak ke lokasi menemukan belum ada sistemnya. Artinya, sistem pengendalian banjir di wilayah Gunung Anyar Tambak memang belum masuk Surabaya Drainase Master Plan (SDMP), meski di situ sudah ada sistem Kebon Agung.

Parahnya, lanjut Aning, wilayah Gunung Anyar Tambak tidak masuk di dalam sistem Kebon Agung, sehingga bisa dipastikan kasus langganan banjir itu tidak akan selesai. “Saya sempat sidak ke sana untuk mencari solusi jangka pendek dan jangka panjang. Karena kalau hanya dibangun gorong-gorong kemudian rumah pompa, itu tidak menyelesaikan kalau sistemnya tidak dibangun. Air itu akan muter terus dari rumah warga ke sungai, kemudian muter lagi dan balik lagi ke rumah warga,” beber dia.

Dalam hearing kemarin, akhirnya ditemukan solusi, yakni akan dibuatkan sistem pengendalian banjir khusus wilayah Gunung Anyar Tambak. Di mana nantinya sistem Kebon Agung akan dievaluasi, rumah pompanya bisa dipindah atau tidak, atau digeser.

Lantaran ketika Aning menelusuri rumah pompa dari wilayah Gunung Anyar Tambak sampai ke rumah pompa itu, airnya peres. Namun setelah rumah pompa kering, kering kerontang. “Ini kan kasihan. Artinya masyarakat menjadi korban. Di mana ketika rumah pintu air ditutup, air akan meluber ke rumah permukiman warga. Di wilayah Gunung Anyar Tambak bukan lagi wilayah lindung, tapi wilayah perumahan atau permukiman. Sehingga mereka berhak juga untuk ditata sistem pengendalian banjirnya,” tandas dia.

Salah satu penyebab wilayah Gunung Anyar Tambak banjir adalah akibat rob atau air laut pasang. Apa solusinya? Politisi PKS ini menegaskan, kalau membangun tanggul laut jelas APBD Kota Surabaya akan jebol, tidak akan kuat. Kalau dari APBN juga pasti akan bertahap atau mungkin juga tidak diberikan. Maka dari itu, di Raperda Pengendalian Banjir yang dibahas di Komisi C, pihaknya minta di setiap outlet menuju ke laut itu ada satu bozem. Kemudian pintu air ditutup setiap kali hujan pada saat rob. Lantas airnya lari ke mana? Ya, ke bozem. Begitu air pasang tersebut sudah selesai atau surut, maka air yang ditampung di bozem dipompa keluar. Makanya harus ada pompa, pintu air, dan ada bozem di setiap outlet menuju laut. “Ini sudah ada di perda kita dan Insyaallah ketika perda itu nanti diselesaikan, maka Pemkot Surabaya harus segera mengerjakan itu di setiap outlet menuju ke laut, tempat-tempat keluarnya air, dan tempat-tempat resisten terhadap banjir rob,”ungkap dia.

Apa tidak ada tindakan meninggikan jalan (pavingisasi) di Gunung Anyar Tambak. Aning untuk antisipasi genangan, Aning menyatakan Gunung Anyar Tambak itu kalau memakai dana dakel jelas tidak mungkin karena nilainya hanya Rp 1 miliar untuk menangani 40 titik genangan. Sementara yang dibutuhkan bisa mencapai Rp 5,5 miliar. Makanya, harus ada intervensi dari Pemkot Surabaya melalui dana dari OPD. “Peninggian paving juga tidak berdampak signifikan ketika sistemnya belum selesai. Makanya, saya menawarkan jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendeknya yang darurat itu harus diselesaikan lebih dulu. Baik itu dengan memperbaiki saluran airnya maupun yang mempunyai elevasi lebih rendah itu dibenarkan. Sedangkan jangka panjang sistemnya,” pungkas dia. KBID-BE

Related posts

DLH Bojonegoro Launching Pembayaran Retribusi Persampahan Melalui QRIS dan Virtual Account

RedaksiKBID

Jelang Idul Adha 1447 H, Komisi B Minta Dinas Pertanian Cek Ketat Kesehatan Hewan Kurban yang Masuk Surabaya

Baud Efendi

Berhasil Tangani Konflik Sosial Tahun 2019, Jatim Raih Penghargaan Provinsi Terbaik Timdu

RedaksiKBID