KampungBerita.id
Surabaya

Cegah Kekerasan, Komisi D Minta Pemkot Perketat Pengawasan Liponsos

Reni Astuti

KAMPUNGBERITA.ID – Kasus kekerasan yang dialami Wahyu Afandi (24 tahun) warga Rejosari Benowo ketika ‘dipaksa’ masuk Liponsos Keputih, Sukolilo, Surabaya beberapa waktu lalu mendapat reaksi keras Komisi D DPRD Surabaya. Dewan yang langsung melakukan inspeksi mendadak (Sidak) pada Selasa (20/3) meminta Inspektorat Wilayah Kota Surabaya melakukan investigasi terkait peristiwa tersebut. Selain itu, Komisi D juga meminta sistem pengawasan diperketat sehingga bisa mengetahui dengan jelas peristiwa semacam itu apabila di kemudian hari terjadi lagi.

Seperti diketahui, Wahyu Afandi yang merupakan mahasiswa Teknik Eelektro Ubhara Surabaya ‘dipaksa’ masuk ke Liponsos. Dia mendapat kekerasan fisik hingga babak belur dan harus menjalani perawatan di rumah sakit Mitra Keluarga.

“Kami lakukan rapat klarifikasi terkait tindak kekerasan yang terjadi beberapa hari lalu yang menimpa Wahyu. Komisi ingin tahu permasalahan yang ada sehingga muncul kejadian itu,” ujar politisi PKS, Reni Astuti.

Reni meminta kejadian yang cukup memilukan itu harus dievaluasi Pemkot Surabaya. Agar di kemudian hari masalah ini tidak terulang lagi. “Kami minta Inspektorat turun melakukan investigasi di lapangan. Ini untuk memastikan apakah ada SOP yang dilanggar. Bila ditemukan pelanggaran harus ada sanksi,” ujar Reni.

Selain itu, Reni meminta agar CCTV yang dulu pernah ada di pasang di tempat rawan terjadi pelanggaran dipasang kembali. Sebab dulu sempat ada, namun kamera pengintai itu sekarang sudah berpindah tempat.

Hal yang sama disampaikan ketua komisi D Agustin Poliana. Politisi PDIP ini mengatakan sampai ada tindak kekerasan seperti itu karena ada keteledoran petugas jaga.

Liponsos harus lebih ketat melakukan pengawasan. Meski bukan petugas Liponsos yang melakukan tindak kekerasan namun penjagaan harus lebih diperketat. Tujuannya tak ada kasus serupa di kemudian hari.

“Selama ini jumlah petugas dengan penghuni tidak imbang, tidak ideal. Mestinya 1 penjaga dengan 10 penghuni, lha ini tidak, karena penghuninya cukup banyak. Petugas jaganya juga harus ada yang PNS jangan hanya outsourching saja,” katanya.

Jumlah petugas berstatus outsouching saat ini sebanyak 108 orang, sedangkan yang dijaga ternyata luar biasa banyaknya sampai 1.800 orang. Para penghuni tak hanya anjal tapi juga orang stres, gepeng, psk dan pmks lainnya.

Wakil ketua DPRD Surabaya Aden Dharmawan minta agar semua calon penghuni baru di Liponsos harus diteliti dan dicheck dengan cermat. Tujuanya agar tidak ada lagi orang yang sebenarnya sehat kemudian masuk Liponsos jadinya malah sakit.

“Kalau ada yang mencurigakan seperti linglung, kebingungan dan tanda mencurigakan lainnya agar diperiksakan dulu ke puskesmas atau dokter jaga Liponsos. Kasihan kalau kemudian ada warga yang ditangkap ehh…ternyata keliru,” ujar politisi Gerindra ini. (*)

Related posts

Konflik PT Gorom Vs Eks Karyawan, Komisi D DPRD Surabaya Desak Manajemen Membuka Diri

RedaksiKBID

Wakil Ketua DPRD: Kampung tangguh Jangan hanya Seremonial

RedaksiKBID

Nakad Buka saat Pandemi Covid-19, Pengunjung dan Pegawai Karaoke Diangkut ke Polrestabes Surabaya

RedaksiKBID