KampungBerita.id
Kampung Bisnis Kampung Raya Surabaya Teranyar

Jelang Idul Adha 1447 H, Komisi B Minta Dinas Pertanian Cek Ketat Kesehatan Hewan Kurban yang Masuk Surabaya

Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya, Moch Machmud.@KBID-2026.

KAMPUNGBERITA.ID-Menjelang Idul Adha 1447 Hijriah (H) yang jatuh pada Rabu (27/5/2026), Surabaya dipastikan dibanjiri hewan kurban (sapi dan kambing) dari luar daerah.

Untuk itu, Wakil Ketua Komisi B, Moch Machmud meminta Dinas Pertanian memperketat pengawasan terhadap hewan kurban yang masuk dari luar daerah.

Dia menegaskan, hewan kurban dari mana pun asalnya harus dipastikan dalam kondisi sehat sebelum dijual ke masyarakat. “Jelang Idul Adha Surabaya tentu dibanjiri hewan kurban dari luar daerah. Harapan Komisi B, sapi atau kambing itu harus sehat. Kalau masuk Surabaya harus ditelusuri dan dicek di tempat penjualan,”ujar Machmud di ruang Komisi B, Senin (4/5/2026)

Politisi Partai Demokrat ini menyebut Komisi B sudah mengingatkan Dinas Pertanian, khususnya bidang peternakan yang memiliki dokter hewan, untuk turun memantau penjualan hewan kurban sejak 1 Mei hingga 27 Mei 2026. Menurut dia tanda-tanda lapak penjualan sudah mulai muncul di jalan raya maupun permukiman warga. “Kami sarankan dinas turun ngecek satu per satu. Jangan sampai ada masalah dan menimbulkan korban di masyarakat. Kalau ada sapi yang bermasalah, segera diatasi,”tegas dia.

Machmud juga mengingatkan potensi masalah limbah penyembelihan, terutama darah dan jeroan. Dia menyarankan warga menitipkan penyembelihan ke Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya agar lebih aman dan higienis.
“Kalau di Surabaya harus dipikir ulang kalau darahnya dibuang sembarangan atau dikubur di tanah kosong. Di RPH sudah siap menerima, bahkan bisa dipotong-potong dan dikemas per kilo. Bersih dan praktis,” beber dia.

Mantan jurnalis ini menambahkan, RPH juga sudah menawarkan paket lengkap mulai dari penyembelihan, penimbangan, hingga pengemasan. Meski tarif per potong ada, menurut dia opsi ini lebih efisien dibanding penyembelihan secara gotong royong oleh panitia di lingkungan yang lahannya terbatas. “Budaya pakai panitia di kampung mungkin tidak masalah karena lahannya luas. Tapi di Surabaya, darah yang mengalir ke mana-mana bisa jadi masalah,” pungkas dia. KBID-BE

Related posts

Komisi B Berharap Pembukaan Pasar Turi Baru Bisa Dongkrak Ekonomi Surabaya

RedaksiKBID

Dorong Bansos untuk SMA/SMK/ Reni Sampaikan Interupsi Tertulis kepada Walikota

RedaksiKBID

Potong 39 Sapi dan 29 Kambing, Polda Jatim Distribusikan Daging Kurban untuk Masyarakat Terdampak Pandemi

RedaksiKBID