KampungBerita.id
Headline Peristiwa Teranyar

Suran Agung, Polres Ngawi Sediakan Puluhan Truk untuk Angkut Ratusan Pendekar

Konvoi sepeda motor yang kerap dilakukan saat Suran Agung kali ini dilarang untuk menjaga ketertiban dan keamanan.

KAMPUNGBERITA.ID – Menjelang pelaksaan Suran Agung di Kabupaten Ngawi, Madiun, dan Ponorogo, pihak kepolisian di tiga daerah tersebut terus mengintensifkan persiapan. Salah satunya dengan menyediakan armada untuk mengangkut para pendekar yang akan melakukan nyekar saat Suran Agung.

Seperti yang dilakukan Polres Ngawi dengan mengkoordinir pendekar di Ngawi yang ingin ke Madiun melakukan suran agung dan nyekar diakomidir dengan disediakan truk. Hal ini lantaran konvoi kendaraan dilarang dalam kegiatan tersebut.

Kapolres Ngawi AKBP Nyoman Budiarja mengatakan, truk yang disediakan ada 50 truk. Itu khusus untuk pendekar di Ngawi. Nyoman mengklaim, ketersediaan roda empat sebanyak 60 truk sangat mencukupi. Karena dari data yang ada, tahun kemarin pendekar dari Ngawi hanya 800 orang saja.

“Karena satu truk bisa menampung 50 orang. Kalau 60 truk nanti dikalikan 50 jumlahnya 3000. Jadi sangat cukup,” tambahnya.

Sementara, Kabag Ops Ponorogo, Kompol Abdul Mukti, mengatakan, jika tidak akan menyediakan truk di Ponorogo. Namun akan ada kebijakan sendiri. “Tunggu saja. Ini belum final. Nanti Ponorogo akan ada kebijakan sendiri. Tapi yang jelas tidak menyediakan truk,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Keputusan baru dikeluarkan oleh aparat penegak hukum se-Bakorwil Madiun. Untuk kegiatan suran agung yang biasa terpusat di Madiun Kota, akan berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
“Sudah ditetapkan, Suran Agung kali ini para pendekar dilarang menggunakan roda dua. Diwajibkan menggunaan roda empat semua,” kata Kabag Ops Polres Ponorogo, Kompol Abd Mukti.

Dia mengatakan, roda empatnya pun harus ada tutupnya. Jadi tidak boleh roda empat terbuka. “Dilarang keras menggunakan roda dua. Nanti akan ada sweping di perbatasan-perbatasan. Jika di Ponorogo, sweping di perbatasan Wonogiri, Pacotan, Trenggalek dan Madiun sendiri,” katanya.

Hal itu, lanjut dia, mengurangi kecelakaan lalu lintas. Harapannya jika dijadikan satu akan lebih aman. Dan tidak ugal-ugalan. Pun, untuk pakaian, pendekar dari perguruan manapun dilarang memakai atribut selama perjalanan. Nantinya boleh dipakai jika sudah ada di lokasi.

“Atribut juga akan disweping. Karena sudah kesepakatan bersama. Jadi yang melintas wilayah Ponorogo harap diperhatikan,” katanya.KBID-NGW

Related posts

Persetujuan Mendagri tentang Perda 18/2017, Reses DPRD Jatim Mundur

RedaksiKBID

Rumkital dr Ramelan Kembangkan Fasilitas Layanan ICU dan Paru

RedaksiKBID

59 Persen JCH Kloter 1 dan 2 Embarkasi Surabaya Berisiko Tinggi

RedaksiKBID