Drama Sujud Risma Berlanjut, Kali Ini di hadapan IDI

Risma saat akan bersujud di hadapan dokter.@KBID2020

KAMPUNGBERITA.ID – Drama sujud Walikota Surabaya, Tri Rismaharini kembali terjadi. Kali ini, Risma bersujud di hadapan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Tak hanya sujud Risma juga mengakui kalau dirinya goblok dalam menanganai penyebaran Covid-19 di Surabaya.

Sebelumnya, drama sujud juga dilakukan Risma di hadapan takmir masjid se-Surabaya saat membahas isu terorisme. Kala itu, Risma mengumpulkan takmir masjid se-Surabaya di Gedung Wanita, Jalan Kalibokor, Surabaya, 16 Mei 2018. Salah seorang takmir memprotes redaksional undangan yang berbunyi “pembinaan kepada takmir masjid”.

Menurut takmir asal Kecamatan Mulyorejo tersebut, kalimat itu seolah menunjukkan bahwa ada yang salah dari takmir masjid. Ia mengusulkan agar redaksional undangan diubah menjadi “silaturahmi takmir”.

Drama kedua terjadi saat di Balai Kota, Kamis, 2 Januari 2020 Dimana Pemkot Surabaya menandatangani nota kesepahaman dengan PT Astra Internasional Tbk terkait pengembangan sumber daya manusia untuk warga Surabaya. Risma terharu karena PT Astra bersedia membuka kesempatan kepada anak-anak putus sekolah untuk magang di perusahaan itu.

Risma kemudian melakukan sujud syukur dihadapan para pejabat PT Astra. Kontan suasana menjadi riuh. Salah seorang tamu meminta tamu undangan yang lain membantu mencegah Risma. Sejumlah orang akhirnya membantu Risma agar bangun dari posisi sujud.

Dan pada Senin (29/6) drama sujud kembali berulang. Kali ini Risma tak hanya sujud, selain mengaku goblok menangani Covid-19, Risma juga mengaku tak pantas jadi walikota.

“Saya memang goblok, saya tak pantas jadi wali kota,” kata Risma.

Saat itu, sejatinya IDI Jatim dan IDI Surabaya memberikan pemaparan mengenai kondisi pasien Covuid-19 di Surabaya. Dalam audensi itu, Risma mendengar keluhan ruang isolasi sudah penuh karena banyaknya pasien yang dirawat. Ketua Pinere RSU dr Soetomo, dr Sudarsono bahkan menyampaikan, rumah sakitnya overload pasien COVID-19 karena masih banyak warga yang tidak menerapkan protokol kesehatan.

Risma menangis lantaran tidak bisa berkomunikasi dengan RSU dr Soetomo, padahal dirinya sudah membuka dan membangun komunikasi berkali-kali. Namun hasilnya tetap nihil. Dia mengharapkan warganya yang terkena COVID-19 bisa dirawat di RSU dr Soetomo.

“Kami tidak terima. Karena kami tak bisa masuk ke sana (RSU dr Soetomo),” tambah Risma.

Menanggapi hal itu, Risma mengatakan bahwa pihaknya tidak bisa masuk ke rumah sakit milik Pemprov Jatim seperti RSU dr Soetomo. Pemkot Surabaya tidak bisa masuk untuk berkomunikasi.

“Tolonglah kami jangan disalahkan terus. Apa saya rela warga saya mati. Kita masih ngurus orang meninggal jam 03.00 pagi, bukan warga Surabaya. Kami masih urus,” lanjut Risma sambil menangis.

Bahkan Risma sudah menawarkan ruang isolasi yang masih kosong di RS Husada Utama untuk pasien RSU dr Soetomo. Di RS Husada Utama tersedia 100-an bed yang belum digunakan untuk pasien COVID-19. Bantuan dari Pemkot Surabaya berupa APD juga sempat ditolak RSU dr Soetomo.KBID-DJI