
KAMPUNGBERITA.ID-Anggota MPR RI dari Fraksi PDI-P, Mufti Anam, mengimbau masyarakat untuk semakin menghayati dan menerapkan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan dalam kehidupan sehari-hari. Seruan tersebut disampaikan dalam kegiatan sosialisasi yang berlangsung di kawasan Lekok, Pasuruan, Jawa Timur, pada 11 Maret 2026, dengan melibatkan berbagai lapisan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Mufti menilai Indonesia sedang menghadapi beragam tantangan yang tidak sederhana. Dia menyinggung situasi geopolitik global yang terus berkembang, isu ketahanan pangan, hingga tekanan ekonomi yang dirasakan masyarakat sebagai persoalan yang perlu dihadapi secara kolektif.
Mantan aktivis
Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) ini menegaskan bahwa Empat Pilar Kebangsaan tetap relevan sebagai pedoman dalam menjaga arah pembangunan nasional. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dinilai mampu memperkokoh persatuan sekaligus menjaga keseimbangan sosial di tengah perubahan zaman.
Mufti juga menyoroti pentingnya memperkuat solidaritas sosial, terutama saat kondisi ekonomi mengalami ketidakpastian. Menurut dia penerapan nilai-nilai kebangsaan dapat menjadi landasan untuk membangun kepedulian dan kebersamaan antar warga.
Lebih lanjut, dia menjelaskan, bahwa istilah Empat Pilar Kebangsaan mulai populer pada masa kepemimpinan Taufiq Kiemas sebagai Ketua MPR RI periode 2009–2014. Empat Pilar tersebut meliputi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Undang-Undang Dasar 1945, serta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Dia menekankan bahwa Pancasila memiliki peran utama sebagai fondasi negara sekaligus pedoman etika bagi masyarakat. Nilai-nilai tersebut, lanjut dia, digali oleh Soekarno dari kekayaan budaya Nusantara dan diperkenalkan dalam pidato bersejarah pada 1 Juni 1945.
Selain itu, Mufti mengajak masyarakat untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Dia menilai perhatian terhadap sesama, terutama tetangga dan warga sekitar, merupakan langkah nyata dalam memperkuat ketahanan sosial di tengah tekanan ekonomi.
Dia juga mengingatkan pentingnya menjaga keharmonisan antar umat beragama serta menjunjung tinggi sikap saling menghargai di tengah keberagaman suku, budaya, dan latar belakang sosial di Indonesia. Menurut dia, keberagaman merupakan aset bangsa yang harus dirawat bersama. “Perbedaan adalah kekuatan yang menyatukan. Dengan persatuan yang terjaga, pembangunan akan berjalan lebih optimal,” pungkas dia. KBID-BE
