
KAMPUNGBERITA.ID-Ratusan massa yang tergabung dalam Paguyuban Jagal dan Pedagang Daging Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian berunjuk rasa di depan Gedung DPRD Kota Surabaya, Senin (12/1/2026). Aksi ini sebagai bentuk protes terhadap rencana Pemkot Surabaya merelokasi operasional RPH Pegirian ke Osowilangon.
Unjuk rasa para mitra jagal RPH Pegirian ini cukup unik. Selain membawa poster-poster berisi tuntutan, di antaranya bertuliskan: Tolong Pak Presiden! Tempat Kami Berjualan Mau Digusur dan Mau Dipindah, Tolong Pak Eri! Kami Hanya Mencari Sesuap Nasi di RPH Pegirian dan lain sebagainya, para mitra jagal juga membawa sejumlah sapi sebagai simbol perlawanan ke halaman Gedung DPRD Kota Surabaya.
Suasana sempat memanas karena tidak ada perwakilan DPRD yang menemui para pendemo. Bahkan, massa berniat menerobos masuk gedung dewan, namun dilarang oleh korlap unjuk rasa. Mereka juga kecewa anggota Komisi B DPRD Surabaya tidak berpihak kepada para mitra jagal yang sudah puluhan tahun menggantungkan hidup di Pegirian. ”Kami datang karena kecewa. Seharusnya DPRD memfasilitasi rakyat, bukan justru terkesan bersama-sama mengusir kami. Ingat, kalian dipilih oleh rakyat. Suara rakyat suara Tuhan,” teriak salah satu orator dari atas mobil komando.
Massa menegaskan bahwa penolakan ini bukan sekadar masalah lokasi, melainkan soal keberlangsungan ekonomi keluarga yang sudah diwariskan turun-temurun. Mereka bahkan mengancam akan kembali dengan massa yang lebih besar jika aspirasi mereka tetap tak digubris.

Menanggapi tekanan tersebut, Ketua Komisi B DPRD Surabaya, Muhammad Faridz Afif yang dikonfirmasi lewat handphone menjelaskan, bahwa relokasi RPH sebenarnya merupakan kebijakan lama yang sudah direncanakan secara matang oleh Pemkot Surabaya. Menurut, Afif, sapaan akrab Muhammad Faridz Afif, penolakan seharusnya disampaikan sejak awal pembangunan, bukan ketika proses sudah berjalan.
Dia menyebut, Komisi B telah berulangkali memfasilitasi dan memediasi pertemuan antara mitra jagal dengan Pemkot Surabaya. Bahkan, dalam rapat-rapat, DPRD bersama Pemkot Surabaya telah menawarkan sejumlah solusi atas keluhan para mitra jagal, termasuk penyediaan kendaraan operasional agar distribusi daging dari RPH Osowilangon ke Pasar Arimbi tetap tepat waktu. “Ketika kami tawarkan solusi dan Pemkot Surabaya sudah menyetujui, justru teman-teman mitra jagal menolak dan tetap pada pendirian ‘harga mati’ tidak mau pindah,”ungkap Afif.
Politisi muda PKB ini juga mengungkapkan bahwa pada pertemuan mediasi ketiga, perwakilan paguyuban memilih untuk walk out (WO) sebelum pembahasan selesai, meski instansi terkait sudah hadir untuk memberikan penjelasan.
Lebih jauh, Afif menegaskan, relokasi tetap akan dilakukan sesuai rencana karena pembangunan sudah berjalan. Namun, dia memastikan DPRD dan Pemkot Surabaya akan terus memfasilitasi dan menutup berbagai keluhan yang muncul agar proses relokasi tidak merugikan para jagal dan pedagang daging. KBID-BE
