Pasar Genteng Baru dan Tambahrejo Disiapkan Jadi Pilot Project Pasar Tangguh

KAMPUNGBERITA.ID – Pasca pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya Raya tak diperpanjang dan kini memasuki masa transisi menuju new normal. Pasar tradisional mulai bergeliat lagi, tapi dengan catatan tetap mengikuti protol kesehatan.

Bahkan, pasar tradisional disiapkan menjadi pasar tangguh. “Ada dua pasar yang disiapkan menjadi pasar tangguh di Surabaya, yakni Pasar Genteng Baru dan Pasar Tambahrejo,” ujar Kepala Bagian Perekonomian dan Usaha Daerah Pemkot Surabaya, Agus Hebi Djuniantoro.

Menurut dia, dua pasar tersebut digagas menjadi pilot project pasar tangguh di Surabaya. Secara bertahap, pasar-pasar lain juga diharapkan dan disiapkan menjadi pasar tangguh.

Apa itu pasar tangguh? Agus Hebi menjelaskan, konsepnya seperti Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo. Yakni ada tim khusus atau satgas di pasar tersebut. Satgas ini adalah kolaborasi antara pengelola pasar dengan pedagang. Mereka memiliki job description yang sama pula dengan Kampung Tangguh Wani Jogo Suroboyo, yaitu sebagai Satgas Wani Sehat, Satgas Wani Sejahtera, Satgas Wani Jogo, dan Satgas Wani Ngandani.
“Kita libatkan pedagang untuk bersama-sama menjaga pasar. Untuk menjadi pasar tangguh bukan hanya tugas pemerintah atau PD Pasar Surya saj, tetapi tugas bersama, termasuk pedagang,” terang dia.

Agus Hebi mengatakan, ke depan setiap pasar akan menjadi pasar tangguh. Nantinya dalam struktur satgas atau kepengurusannya, bakal dimasukkan unsur dari pelaku-pelaku usaha di pasar.
“Ada unsur dari pedagang dan karyawan di pasar tersebut. Jadi ketangguhan pasar tergantung dari keaktifan dari kepengurusan untuk menjaga pasar guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19,” tandas Agus Hebi.

Sementara itu, Direktur Teknik dan Usaha PD Pasar Surya Muhibuddin menambahkan, konsep pasar tangguh adalah mengatur pasar sesuai protokol kesehatan. Misalnya, masuk pasar wajib pakai masker. “Kalau tidak pakai masker, tidak boleh masuk. Ini berlaku untuk pedagang maupun pengunjung,” kata dia.

Contoh lain, masuk area pasar harus melewati cek suhu badan. Pedagang atau pengunjung yang suhu badannya 38 derajat atau lebih, diminta balik. “Demikian juga jika ada pedagang yang sakit, dilarang berjualan,” tegas dia.

Sedangkan yang terbaru dengan konsep pasar tangguh ini adalah adanya pengaturan di dalam pasar. Dengan dijadikannya sebagai pasar tangguh, maka di Pasar Genteng Baru dan Pasar Tambahrejo diberlakukan sirkulasi untuk pengunjung dengan sistem one way. Maksudnya, pintu masuk dan pintu keluar pasar dipisahkan, sehingga ada beberapa pintu pasar yang akan ditutup atau dibuka dengan pemberlakuan jam operasional.

Selain itu, jumlah pengunjung pasar juga akan dibatasi. Jika kondisi di dalam pasar sudah ramai, maka pengunjung lain yang hendak masuk disetop dulu.

Di sisi lain, stan pedagang juga diminta ada gerai plastik agar pedagang dengan pembeli tidak berinteraksi langsung. Tak hanya itu, pedagang dan karyawannya diimbau mengenakan faceshield sebagai APD.

Dalam proses transaksi jual beli pun diatur. Agar tidak ada kontak langsung alat pembayaran (uang) dari pembeli ke pedagang, nantinya disiapkan nampan.

“Jadi uangnya ditaruh di nampan. Nampan itu bantuan dari Bu Wali (Wali Kota Tri Rismaharini, Red) dan akan dibagikan ke pedagang,” ujar Muhibuddin. KBID-BE