Tinjau Persiapan Piala Dunia U-20, Menpora Tak Bisa Masuk GBT

Menpora Zainuddin Amali mendapati pintu terkunci saat sidak ke Stadion GBT, Minggu.@KBID2019

KAMPUNGBERITA.ID – Upaya Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali meluangkan waktu akhir pekan ini untuk melakukan sidak ke Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya terhalangi, Minggu (3/11) sore. Penyebabnya pintu masuk ke stadion tidak dibuka sama sekali oleh pemiliknya Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kota Surabaya.

Stadion GBT dipilih didatangi karena salah satu venue yang diajukan sebagai tempat lokasi pertandingan. PSSI sebelumnya sudah memantau langsung stadion yang berada di daerah Surabaya sebelah barat ini.

Zainudin tiba di GBT sekitar pukul 15.00 WIB. Dia datang dengan didampingi Kepala Dispora Provinsi Jatim Supratomo dan Ketua KONI Jatim Airlangga Satria Agung.

Sayang begitu turun dari mobil Zainudin tidak bisa melangkah jauh. Pintu stadion yang dia pegang tidak bisa terbuka karena dikunci.

Gagal masuk, Zainudin hanya bisa melempar senyum kecewa. Dia kemudian langsung memilih untuk diwawancarai awak media yang hadir di sana. “Saya tidak bisa terbang ini,” jelas dia mengungkapkan sindiran karena ingin masuk ke dalam.

Gagal masuk ke stadion ini Zainudin kemudian meminta agar wartawan bertanya lebih detail ke Dispora Provinsi Jatim. “Pak kadispora (provinsi) sudah minta dengan kadispora kota tidak dijawab. Padahal kita datang untuk melihat kalau ada yang masih bisa dibantu. Kita bantu perbaiki, tapi kita mau lihat saja tertutup. Kita mau bantu apa ya nggak tahu,” ujarnya.

Zainudin begitu penasaran dengan Stadion GBT karena juga sebelumnya ada peristiwa kerusuhan setelah laga Persebaya melawan PSS. “Kemarin sempat ada kerusuhan, ada kebakaran,” bebernya.

Dengan gagal masuknya ke stadion ini Zainudin menilai ada kebuntuan komunikasi antara pemerintah daerah. Yaitu, Pemerintah Kota Surabaya dan Pemerintah Provinsi Jatim. “Saya kira kebuntuan kebuntuan komunikasi seperti ini harus kita carikan jalan keluar. Kita harus bisa menurunkan ego masing-masing. Sepak bola ini milik kita,” jelas pria asal Sulawesi ini.

Menurut dia sepak bola di Indonesia tidak bisa dibangun seorang diri. Semuanya harus bersama-sama melangkah. “Apalagi kita mau jadi tuan rumah Piala Dunia. Belum tentu kita bisa 30 tahun lagi,” tegasnya.

Gagal masuk ke stadion Zainudin kemudian menyoroti soal bau sampah. Saat keluar dari mobil dia bahkan hendak langsung menutup hidung.

Soal bau sampah ini Zainudin berharap bisa jadi atensi pemerintah kota agar berkurang atau hilang sama sekali. “Masih tercium, belum hilang. Harus duduk antara pemerintah provinsi dan pemerintah kota. Harus dicarikan jalan keluarnya,” imbuh dia.

Terkait adanya kasus ini Dosen FISIP Universitas Airlangga Airlangga Pribadi menilai Pemerintah Kota Surabaya terlalu baper dan terkesan anti kritik terkait kondisi Gelora Bung Tomo (GBT). Bahkan pernyataan sejumlah pejabat Pemkot Surabaya terkesan terlalu emosional dalam menanggapi pernyataan Gubernur Jawa Timur perihal aroma sampah yang kerap tercium di stadion GBT.

Airlangga mengatakan semestinya pernyataan tersebut dimaknai sebagai rasa perhatian dan rasa sayang Gubernur Jatim terhadap pengelolaan Kota Surabaya, termasuk warga Surabaya dan supporter Surabaya, Bonek Mania.

“Bukan sebaliknya justru kembali menyerang Gubernur. Toh apa yang disampaikan itu adalah fakta sebenarnya mengingat posisi GBT berdekatan dengan TPA Benowo. Jangan baper, harusnya ini menjadi bahan introspeksi,” ujarnya.

Menurut Angga, komentar Khofifah semata-mata agar Pemkot Surabaya membenahi pengelolaan sampah, yang hanya berjarak sekitar 200 meter dari Stadion GBT. Mengingat GBT merupakan salah satu stadion yang diajukan ke FIFA untuk menjadi venue pertandingan Piala Dunia U-20 tahun 2021 mendatang.

“Sebenarnya hal itu tidak perlu direspon reaktif, karena response reaktif itu justru menghalangi pembenahan Kota Surabaya, yang saat ini sudah baik justru lebih baik lagi,” katanya. KBID-NAK