
KAMPUNGBERITA.ID-Dalam Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, 1 Oktober, kader senior PDI-P, Baktiono meminta pelurusan sejarah terkait lahirnya Pancasila. Dia menyebut narasi yang berkembang selama Orde Baru perlu dikoreksi.
“Yang harus dibumikan, yang diluruskan terutama mereka yang lulus sekolah tahun 1990 ke bawah itu adalah lahirnya Pancasila,” ujar Baktiono, Kamis (1/10/2026).
Dia membantah versi sejarah Orde Baru yang menyebut Pancasila disampaikan Dr. Mohammad Yamin. “Cetakan Orde Baru, penguasa Orde Baru bahwa Pancasila itu memang lahir 1 Juni tetapi oleh Dr. Mohammad Yamin, itu yang salah. Padahal yang benar yang menyampaikan tentang ideologi atau dasar negara Pancasila itu adalah Bung Karno atau Ir. Soekarno yang disampaikan dalam rapat
Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI),”jelas dia.
Menurut Baktiono yang juga anggota DPRD Kota Surabaya, pidato Bung Karno 1 Juni 1945 itulah yang diterima semua tokoh bangsa dan menjadi dasar negara hingga kini. “Yang lewat buku sejarah atau fakta yang ada yaitu Pancasila 1 Juni yang disampaikan oleh Bung Karno yang bisa diterima sampai sekarang,”tandas dia.
Lebih jauh, Baktiono menegaskan, Pancasila tetap relevan di era modern karena merupakan kultur bangsa yang digali oleh Bung Karno. “Jadi jangan ngomong relevan atau tidak relevan karena ini fondasinya, dasarnya. Kita sekarang tidak boleh utik-utik atau langsung mempersoalkan fondasi dasar negara ini,” tegas dia.
Baktiono mengibaratkan Pancasila sebagai fondasi bangunan negara. Kalau suatu bangunan sudah menjulang tinggi, kemudian dipermasalahkan dasar atau fondasinya, maka itu sama dengan menghancurkan bangunan di atasnya. “Ini yang diinginkan oleh kapitalis, imperialis,dan kolonialis agar Indonesia itu hancur dan dapat dikuasai kembali,”beber dia.
Bagaimana cara merawat Pancasila agar tetap membumi? Baktiono menyebut kuncinya adalah pengamalan. “Tidak perlu dirawat. Pancasila ini sudah hebat ideologi ini, tinggal diimplementasikan pada kehidupan sehari-hari, tinggal dilaksanakan dengan jujur, dengan benar, dan konsekuen,”tegas dia.
Baktiono juga menekankan pentingnya pendidikan ideologi bagi pemuda. “Ke depan, kita harus mempersiapkan anak-anak kita, para pemuda kita harus mantap ideologi ya, mantap berbangsa, bernegara, mantap dia sebagai pemuda seperti pemuda tahun 1928,”tutur dia.
Standar pemimpin ke depan juga harus merujuk Bung Karno dan Bung Hatta. “Kalau nanti memilih pemimpin itu standarnya Bung Karno dan Bung Hatta. Kalau ada bisa melebihi baik di tingkat nasional maupun internasional, wah itu orang hebat semua. Kalau memang masih belum ada paling tidak grade-nya turun sedikit. Misalnya kalau sekarang Bung Karno- Bung Hatta grade-nya 10, kalau tidak ada paling tidak ya grade 9, grade 8 lah itu minimal,” pungkas dia.
Pada kesempatan itu, Baktiono juga meluruskan tempat lahir Bung Karno. Berdasarkan data ITB dan arsip HBS Kebon Rojo, dia memastikan Bung Karno lahir di Surabaya. “Saya waktu itu pernah ditunjuk sebagai ketua panitia Bulan Bung Karno. Belum zamannya online, saya cari di ITB. Ternyata Hoogere Burgerschool (HBS) atau sekolahnya Bung Karno dulu di Kebon Rojo. Ketemu sekarang di Google, di YouTube, di internet, ada semua bahwa Bung Karno lahir di Surabaya,”ungkap dia.”Lha sekarang katanya lahir di Blitar ini kan ngawur, pelecehan dari sejarah,” pungkas dia.
Seperti diketahui Soekarno yang akrab disapa Bung Karno merupakan tokoh bangsa yang lahir pada 6 Juni 1901 di Peneleh, Surabaya. Meski begitu, ia tak menghabiskan masa kecilnya di Surabaya.
Soekarno menghabiskan masa kecilnya di berbagai daerah, di mana saja sang ayah Raden Soekeni ditugaskan untuk mengajar.
Selain itu, Baktiono juga meminta agar sejarah Gerakan 30 September 1965 diluruskan. Dia menilai narasi yang berkembang selama Orde Baru tidak sesuai fakta. “Kan ada gerakan 30 September waktu itu. Jadi kalau ngomong gerakan 30 September 1965 atau G30-S sekarang S-nya itu September atau Soeharto? Iya, karena data CIA sekarang sudah dibuka 60 persen,” kata dia.
Baktiono menyebut peristiwa 1965 merupakan kudeta Orde Baru terhadap Presiden Soekarno. Dia juga menyebut ada keterlibatan CIA. “Ternyata yang kudeta itu adalah Orde Baru. Terlibat dengan Central Intelligence Agency (CIA) Waktu itu orang tua saya pun marah wong Bung Karno dituduh kudeta. Masa presiden yang sah mengkudeta dirinya sendiri? Ini kan tidak masuk akal. Ini data ya,” ujar dia.
“Jadi kalau kita ngomong Gerakan 30 September sekarang gaungnya ya kurang karena itu adalah rekayasa. Kudeta yang dilakukan oleh Orde Baru terhadap presiden yang sah yaitu Ir. Soekarno,” tegas dia.
Untuk itu, dia mendorong pengungkapan sejarah berdasarkan dokumen. “Di Amerika sana itu dokumen-dokumennya itu kalau 25 tahun dia buka 25 persen. Kalau 50 tahun buka 50 persen. Lha ini kita baru buka 30 persen kan sudah ketahuan yang terlibat orang ini kan. Ya sekarang kan sudah berapa tahun ini? Sejak 1965 ini sudah 50 tahun lebih, sudah dibuka,”ujar dia. KBID-BE

