KampungBerita.id
Nasional Peristiwa Teranyar

Ikut Kejuaraan di Palu, Atlet Paralayang Kota Batu Ikut Jadi Korban Gempa dan Tsunami

Hotel Roa Roa, Palu tempat dimana para atlet paralayang menginap. Tampak foto korban

KAMPUNGBERITA.ID – Ardhi Kurniawan, salah satu atlet paralayang dari Kota Batu, menjadi korban gempa di Palu. Ia diketahui meninggal dunia usai Hotel Roa-Roa tempatnya menginap roboh dan menimpa dirinya. Kabar meninggalnya Ardhi sontak saja membuat keluarganya kaget, kabar itu diterima keluarga pada Selasa pagi, saat melihat tayangan berita di televisi.

“Kita tidak menyangka Ardhi juga turut menjadi korban. Tapi melihat kehancuran hotel tempatnya menginap rasanya hanya mukjizat dia bisa selamat,” ujar Heru, salah seorang rekan atlet paralayang Kota Batu.

Ia menambahkan, sebelum berangkat ke Palu pihak keluarga dan rekan-rekan tak memiliki firasat apapun juga.
“Hanya dia sempat bilang ingin istirahat dulu karena kemarin ikut Asian Games. Katanya mau menyelesaikan rumah, kebetulan dia sedang membangun rumah di Pandesari Pujon,” jelasnya di kediaman Ardhi di Jalan Trunojoyo, Gang 3, Songgokerto, Kota Batu,

Ia mewakili pihak keluarga Ardhi Kurniawan juga mengaku telah pasrah, bagaimanapun keadaan jasad Ardhi apakah dapat dibawa pulang ke Kota Batu atau tidak. “Tapi harapannya memang bisa dipulangkan ya meskipun kecil,” bebernya sambil terisak dan sesekali mengusap air matanya.

Ardhi Kurniawan menjadi salah atlet paralayang yang ikut berkompetisi di Kejuaraan internasional paralayang di Kota Palu. Ia diketahui bersama dengan dua atlet paralayang Kota Batu menjadi bagian dari tim paralayang untuk mewakili Jawa Timur yang berangkat ke Palu.

Ardhi Kurniawan ditemukan meninggal dunia tertimpa reruntuhan bangunan Hotel Roa – Roa, pada Selasa pagi 2 Oktober 2018. Ia teridentifikasi berkat celana hijau yang bertuliskan KONI Jawa Timur.

Sementara Pembalap sepeda Downhill dari Kota Malang yang akan berlaga di Kota Palu Sulawesi Tengah Jum’at lalu ini luput dari bencana Gempa dan Tsunami. Mereka bersama satu rekannya merasa bersyukur setelah tertahan di hutan tanpa perbekalan, yang kemudian bisa pulang ke Kota Malang dengan selamat.

Meski masih trauma, namun Ananda Bagus dan Ismail Nurdin Anshori, dua di antara puluhan atlet balap sepeda Downhill yang akan berlomba dalam ajang Downhill Palu Nomoni Selena 2018, nampak mulai bisa tersenyum, setelah selama empat hari pasca bencana Gempa dan Tsunami di Palu Jumat pekan lalu.

Mereka berdua yang berada di lokasi kejadian mengaku, sangat bersyukur meski harus berlari dari Hotel tempat mereka menginap untuk menuju hutan yang berada di bukit sejauh satu kilo meter,” ungkap Ismail Nurdin.

Saat Gempa besar terjadi, lanjut dia, mereka pada berlari menuju ke hutan dengan tanpa membawa bekal apapun. Begitu Gempa usai, baru mereka turun bukit dan kembali ke Hotel untuk mengambil barang-barang mereka seperti, Handphone, baju, Dompet dll.

Tapi apa yang terjadi, saat mereka kembali ke Hotel itulah beberapa warga berteriak air laut naik itu sebagai tanda akan naik kembali. Saat itu terjadi Tsunami di belakang mereka.

Melihat hal itu, mereka pun berlarian sekencang dan sekuat tenaga menuju ke bukit lagi. Menurutnya, hutan berbukit itulah yang menurut mereka tempat yang paling aman untuk berpijak. Meski longsor juga di rasakannya hingga waktu subuh,” kata dia.

Akhirnya, mereka turun setelah tsunami selesai dengan minta bantuan warga setempat setelah bertahan di hutan selama 14 jam di hutan. Beruntung bagi kedua atlet ini, setelah turun dari bukit dengan ditolong warga, tidak lama kemudian ada kabar pesawat Herculles yang akan terbang ke Malang, dan pada akhirnya pesawat milik TNI AU itulah yang membawa mereka menuju lanud Addul Rahman Saleh Malang dengan selamat. KBID-MLG

Related posts

Susul Sang Janda, Pria Korban Penganiayaan Cinta Segitiga Meninggal Dunia

RedaksiKBID

Pangdam V Brawijaya dan Kapolda Tinjau Kegiatan Warga di Terminal Purabaya

RedaksiKBID

Kisruh PPDB terus Berlanjut, MKKS Datangi Gedung Dewan

RedaksiKBID