
KAMPUNGBERITA.ID-Dr. Herlina Harsono Nyoto, S.Psi., M.Psi., Psikolog berhasil mencapai jenjang pendidikan tertinggi dengan resmi menyandang gelar Doktor (S3).
Keberhasilan ini tidak hanya menjadi capaian akademis personal, tetapi juga membawa kontribusi nyata bagi dunia akademik dan peta politik nasional melalui hasil riset disertasinya yang berjudul “Momen Komitmen Efektif terhadap Partai Politik Ditinjau dari Kepemimpinan Transformasional Identitas Sosial dan Pertukaran Sosial sebagai Variabel Mediasi pada Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Kota/Kabupaten”.
Sebagai seorang anggota DPRD sekaligus akademisi, riset yang diangkat oleh Dr. Herlina berfokus pada tantangan besar dalam melembagakan partai politik agar tetap eksis dan relevan di mata masyarakat. Salah satu poin penting yang disoroti dalam ujian doktor ini adalah fenomena perubahan perilaku pemilih di Indonesia. Dewan penguji menggarisbawahi relevansi riset Dr. Herlina yang menyatakan bahwa masyarakat saat ini sudah semakin cerdas dalam menentukan pilihan politiknya. “Tantangan di luar sana sangat luar biasa. Fenomena saat ini menunjukkan bahwa pemilih itu pintar. Ada kalanya mereka diberi materi atau uang, tetapi pada saat di bilik suara, mereka tetap memilih opsi yang lain,” tutur Prof. Dr. Suryanto, M.Si., Psikolog.
Sebagai solusi atas dinamika tersebut, riset Dr. Herlina menekankan pentingnya membangun Komitmen Afektif (Affective Commitment). Berdasarkan hasil kajiannya, komitmen emosional dan loyalitas yang tulus tidak boleh hanya dibangun di internal kader atau anggota partai saja, melainkan harus diperluas hingga ke tataran konstituen (masyarakat pemilih). Kegagalan partai politik dalam menjaga komitmen afektif ini disinyalir menjadi salah satu penyebab utama mengapa beberapa partai politik perlahan kehilangan basis massa dan menghilang dari kontestasi pemilu.
Momen kelulusan ini juga diwarnai dengan ucapan selamat dari berbagai kolega dan institusi, termasuk dari Badan Narkotika Nasional (BNN) serta rekan-rekan sejawat di Partai Demokrat. Uniknya, dinamika sidang ini juga sempat diwarnai kelakar hangat mengenai kehadiran ketua partai yang turut bertindak selaku dewan penguji.
Di akhir sesi, Prof. Suryanto berpesan agar pencapaian gelar doktor ini tidak menghentikan langkah Dr. Herlina dalam melakukan riset. Sebagai anggota DPRD, proses belajar dan meneliti harus terus berjalan demi melahirkan kebijakan-kebijakan yang berbasis data (evidence-based policy) untuk kemaslahatan masyarakat luas.
Pihak keluarga, mulai dari suami hingga anak-anak, turut hadir memberikan dukungan penuh atas perjuangan panjang Dr. Herlina dalam menyelesaikan studi doktoralnya ini, yang diharapkan mampu menjadi inspirasi bahwa proses belajar tidak boleh mengenal kata berhenti.
Dalam sidang terbuka “Ujian Akhir Disertasi Terbuka” Program Studi Doktor Universitas Airlangga, Dr. Herlina menyampaikan pesan dan kesannya sebagai bekal dalam mendarmabaktikan ilmu pengetahuan demi kemajuan bangsa, negara, serta menjaga nama baik almamater Universitas Airlangga.
Suasana ruang sidang di aula Excellence with Morality lantai tiga Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Kamis (18/6/2026), siang terasa begitu khidmat sekaligus melegakan. Di hadapan dewan penguji, promotor, dan para kolega, Dr. Herlina Harsono Nyoto, S.Psi., M.Psi., Psikolog berdiri menyampaikan untaian kata sambutan sebagai doktor baru. Baginya, momen ini bukan sekadar panggung untuk mempertahankan sebuah gagasan ilmiah, melainkan sebuah titik balik dari sebuah perjalanan akademik panjang yang sarat akan makna, lelah, dan air mata.
Dalam narasinya, Dr. Herlina secara khusus menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada Ketua Sidang, Ibu Dr. Dewi Retno Suminar, M.Si., Psikolog, yang merupakan sosok pertama yang menyambutnya di rumpun doktoral tersebut.
Ungkapan takzim juga dia sematkan kepada tim promotor yang telah sabar membimbing dan menempa cara berpikirnya hingga ke titik tertinggi. “Setiap arahan dari beliau berdua bukan hanya memperbaiki kualitas disertasi saya, tetapi juga membentuk cara saya memandang dan menghargai ilmu pengetahuan,” ungkap Dr. Herlina.
Apresiasi tinggi juga dialamatkan kepada para penyanggah dan penguji yang memberikan dialektika berpikir yang tajam selama proses siding.
Kehadiran para undangan akademik serta rekan sejawat dari DPRD Kota Surabaya dan PT. Geopark, turut menjadi suntikan moral yang luar biasa bagi dirinya.
Dibalik senyum kebahagiaan, Dr. Herlina tidak menampik bahwa perjalanannya menempuh pendidikan S3 Psikologi ini penuh dengan kerikil tajam. Dia sempat mengalami fase jenuh hingga studinya mandek (stagnan) hampir tiga semester. Kesibukannya sebagai anggota DPRD dan dinamika hidup sempat membuatnya kehilangan momentum. Namun, roda nasib berubah ketika terjadi pergantian Kepala Program Studi (Kaprodi) S3 Psikologi Unair yang baru, Dr. Rudi Cahyono, M.Si.
Herlina mengenang momen krusial saat dirinya dipanggil menghadap. “Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan? Kamu kurang selangkah lagi,”ujar Herlina menirukan ucapan tegas sang Kaprodi.
“Saya katakan saat itu, ‘Iya, saya tahu, saya siap melanjutkan dan saya tidak akan berhenti lagi.’
Dan hari ini, drama itu akhirnya resmi berhenti di titik ujian terbuka ini.”
Berdasarkan laporan dari Kaprodi S3 Psikologi Unair, Dr. Herlina merupakan lulusan ke-8 dari 9 orang di angkatannya, sekaligus tercatat sebagai doktor ke-116 yang dilahirkan oleh Fakultas Psikologi Universitas Airlangga.
Sambil tersenyum, Herlina sempat berseloroh mengenai runtutan angka yang mengiringi kelulusannya. Sepanjang menempuh program doktoral yang ketat ini, dia harus melewati total tujuh kali proses ujian hingga akhirnya sampai di sidang terbuka.
“Bagi orang-orang terdekat, mereka tahu bahwa tujuh adalah angka favorit saya. Tapi jujur, melewati tujuh kali ujian doktoral psikologi itu sama sekali bukan hal yang favorit,” kelakarnya.
“Namun, saya mencoba melakukan sedikit cocoklogi. Saya angkatan ke-8, lulusan ke-8, dan hari ini saya ujian Nasional di tanggal 18. Ini adalah tanda-tanda baik yang patut disyukuri,” ungkap dia.
Setelah deretan apresiasi akademis tersampaikan, atmosfer ruang sidang berubah menjadi begitu hangat dan penuh emosi saat dia mulai melayangkan pandangan dan ucapan terima kasih kepada orang-orang di balik layar yang menjaga kewarasannya selama bertahun-tahun.
Herlina tak lupa menyapa mereka yang bekerja dalam senyap. Dedikasi luar biasa dia sampaikan kepada tim Sekretariat DPRD Kota Surabaya serta tim staf dan sekretariat fakultas yang selalu siaga memfasilitasi, membantu proses penelitian di tengah masyarakat, hingga mengurus segala kerumitan administrasi di tengah jadwalnya yang padat. “Terima kasih sudah selalu siaga melebihi semua keletihan yang selama ini terjadi. Kehadiran dan dukungan Bapak, Ibu, serta teman-teman sekalian adalah penguat yang luar biasa bagi saya,”tandas dia.
Suara Herlina sempat bergetar saat menyebut nama sang mama dan bapak tercinta. Bagi Herlina, sang mama adalah teladan hidup yang paling nyata. Seorang sosok yang selalu mengingatkan sebuah esensi penting tentang kerendahan hati.
“Mama selalu mengajarkan kepada saya, bahwa setinggi apa pun saya melangkah, kaki saya harus selalu menapak di bumi. Terima kasih juga untuk Bapak yang sejak kami kecil tidak pernah lelah memotivasi anak-anaknya untuk menempuh pendidikan setinggi dan sebaik-baiknya,” ucap dia.
Rasa terima kasih yang mendalam juga dia haturkan kepada orang tua mertuanya. Dengan penuh ketulusan, Herlina berterima kasih karena dari mendidik orang tua mertualah, lahir sosok suami yang luar biasa baik dalam hidupnya. “Doa-doa dari orang tua kami, yang mungkin tidak selalu terlihat wujudnya, adalah energi yang tidak pernah putus mendoakan dan mendukung tiap langkah demi mewujudkan hari ini.”
Senyum simpul dan tawa haru seketika pecah di ruang sidang saat Herlina menatap langsung ke arah suaminya. Dia menyadari betapa besar pengorbanan, cinta, dan kesabaran sang suami yang harus menghadapi ego dan ambisinya selama masa-masa sulit penyusunan disertasi. “Kepada suami saya, terima kasih atas cinta, kesabaran, dan pengertian yang terlalu besar. Di saat saya sempat ‘menghilang’ ke dunia saya sendiri demi tugas-tugas ini, kamu tetap hadir sebagai penyemangat dan penguat,” ucap Herlina.
Sambil tersenyum, Herlina pun mengucapkan sebuah janji yang paling ditunggu oleh keluarganya setelah melewati badai ujian akademis ini. “Suami, setelah tujuh kali ujian disertasi yang melelahkan ini, saya berjanji… nanti tidak akan ada lagi kalimat: ‘Pah, aku belajar di kamar dulu ya,’ atau ‘Pah, tolong jangan diganggu, aku mau di kamar anak-anak dulu.’ Saya janji, setelah ini tidak ada lagi masa-masa di mana saya egois dan ingin berada sendiri. Terima kasih sudah terus bertahan dan mendampingi istrinya yang keinginannya banyak sekali ini.”
Melalui penyematan gelar Doktor ini, Herlina berpesan pada anak- anaknya bahwa ada satu pelajaran hidup berharga yang ingin dia wariskan secara nyata kepada mereka. “Satu hal yang ingin Mama tunjukkan kepada kalian: bahwa cita-cita itu selalu layak untuk diperjuangkan,” pesan dia.
Bagi Herlina, anak-anak adalah alasan terbesar mengapa dia menolak untuk menyerah pada rasa lelah.
“Keberhasilan itu bukan hanya milik mereka yang berjalan paling cepat. Keberhasilan adalah milik mereka yang tidak pernah berhenti berjalan. Kalau kamu lelah, beristirahatlah sejenak. Tapi jangan pernah berhenti berjalan untuk meraih cita-cita,” tambah dia.
Bagi Dr. Herlina Harsono Nyoto, gelar tertinggi ini bukanlah akhir dari sebuah pencapaian, melainkan sebuah babak baru dari tanggung jawab yang jauh lebih besar. Sebuah amanah untuk memberikan manfaat, kontribusi, dan bakti nyata bagi dunia pendidikan serta perkembangan ilmu psikologi di Indonesia.
Di akhir narasinya, Dr. Herlina menekankan bahwa pencapaian ini adalah bukti nyata dari sebuah konsistensi. Bahwa setiap langkah kecil yang diayunkan dengan konsisten, seberat apa pun tantangannya, pada akhirnya akan membawa siapa pun sampai ke tujuan. Ilmu yang diraihnya kini siap didarmabaktikan sepenuhnya untuk masyarakat, bangsa, dan negara Indonesia. KBID-RLS/BE

