KampungBerita.id
Kampung Raya Surabaya Teranyar

Program Pengentasan Kemiskinan Tumpang Tindih, Komisi D Minta Sinergi Antar OPD Pemkot Surabaya Ditingkatkan

Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya, Khusnul Khotimah.@KBID-2022@.

KAMPUNGBERITA.ID-Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya Khusnul Khotimah menilai program pengentasan kemiskinan dan pengangguran di Surabaya tumpang tindih. Dalam hal ini, program pelatihan kerja untuk para pemuda.

Karena itu, dia menekankan kepada organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemkot Surabaya agar meningkatkan sinergi, dalam menjalankan program pengentasan kemiskinan dan pengangguran tersebut.

Khusnul menilai, sebenarnya sinergi lintas OPD sudah berjalan. Namun dia mendorong ditingkatkan lagi agar penanganan kemiskinan dan pengangguran bisa maksimal.

“Tidak ada lagi tumpang tindih program antara satu OPD dengan OPD lainnya,” ujar Khusnul, Senin (31/10/2022).

Dia mencontohkan, di Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) dan di Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) ada yang namanya pelatihan barista. Pelatihan ini sama jenisnya. Namun mungkin di Disperinaker ada sertifikasi pelatihan kerjanya, tapi di Disbudporapar lebih kepada pelatihan kepemudaannya.
“Tapi intinya sama pelatihan barista,”ungkap dia.

Untuk jenis pelatihannya, Khusnul yang juga Wakil Ketua DPC PDI- P Kota Surabaya ini meminta OPD di pemkot melakukan analisa atau penelitian terlebih dulu sebelum menggelarnya. Sebab bisa jadi pelatihan yang digelar sudah tidak lagi sesuai minat pasar.

Jadi, lanjut dia, pelatihan yang digelar OPD sesuai dengan kebutuhan pasar. “Mungkin pada 2021 pelatihan barista ini masih jadi primadona. Namun pada 2023 nanti sudah ada pergeseran minat. Ini yang perlu diprediksi dan dianalisa. Sehingga pelatihannya tidak sia-sia dan bisa langsung diimplementasikan,” tegas dia.

Selain itu, Khusnul juga meminta ada pelatihan kerja bagi santri-santri di Surabaya. Sehingga saat mereka sudah selesai belajar di pondok pesantrennya, bisa memiliki keahlian bekerja atau memiliki kemampuan untuk mendirikan usaha sendiri.

“Di Surabaya ada banyak santri. Mereka perlu juga mendapatkan pelatihan kerja atau menjadi pengusaha. Jadi setelah kembali ke masyarakat, mereka bisa menjadi santripreneur. Tentu mereka memiliki kelebihan, karena pandai dalam bidang agama juga pengusaha. Tentu juga ini bisa mengurangi jumlah pengangguran di Surabaya,” pungkas dia. KBID-PAR

 

 

Related posts

Bojonegoro Optimis Naik Tingkat, Dari Kabupaten Layak Anak Katagori Madya ke Nindya

DJUPRIANTO

Pelanggar Opreasi Zebra Semeru 2020 di Sidoarjo Jalani Hipnoterapi

RedaksiKBID

Kejar-kejaran, Pencuri Motor Tertangkap di Jembatan Layan Waru

RedaksiKBID