
KAMPUNGBERITA.ID
Memasuki musim kemarau dengan suhu panas ekstrem disertai angin kencang, anggota Komisi B DPRD Kota Surabaya, Yuga Pratisabda Widyawasta mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
Menurut dia, kondisi cuaca anomali saat ini membuat Surabaya rawan kebakaran, baik di permukiman maupun di lahan terbuka. Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya, penyebab kebakaran terbanyak masih didominasi oleh korsleting listrik. “Kita berkaca pada kejadian kemarin. Ada dua anak usia 5 dan 7 tahun meninggal dunia. Indikasi awal dari exhaust fan yang merambat ke kipas angin lalu ke kasur. Korban diduga meninggal bukan karena terbakar, tapi karena menghirup asap berlebihan,” ujar Yuga saat dikonfirmasi, Rabu (16/9/2026).
Dia menekankan pentingnya kebiasaan sederhana untuk mencegah musibah. Warga diminta mencabut semua colokan listrik saat meninggalkan rumah, mematikan lampu yang tidak perlu, dan tidak memaksakan satu stop kontak untuk banyak alat elektronik. “Kalau memang listrik tidak kompatibel ya jangan dipaksakan. Satu colokan jangan dijadikan banyak,”kata dia.
Selain korsleting, politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ini juga menyoroti bahaya puntung rokok yang dibuang sembarangan. Dia meminta perokok memastikan puntung benar-benar padam dan membuangnya di tempat yang disediakan, bukan di taman atau lahan kosong yang rawan memicu kebakaran lahan.
Lebih jauh, Yuga menyebut akses mobil pemadam kebakaran di kampung padat penduduk masih menjadi kendala. Selain gapura dengan pilar rendah, banyak warga yang memarkir mobil di badan jalan sehingga menghambat laju mobil damkar. Untuk itu, dia menyarankan agar gapura yang ada pilar, atasnya jangan dipasang cor-coran.
“Jika toh dipasang harus tinggi dan bisa dibongkar cepat. Warga juga jangan parkir mobil di depan rumah, lebih baik di garasi masing-masing agar akses darurat lebih cepat,”ungkap dia.
Dia mencontohkan kejadian di wilayah Bronggalan beberapa waktu lalu yang aksesnya cukup sulit. Namun berkat jangkauan selang yang panjang, kebakaran berhasil diatasi.
Sementara melihat luas wilayah dan kepadatan penduduk Surabaya, Yuga mendorong DPKP untuk segera menambah pos-pos baru. Dia menyebut tahun ini sudah ada rencana pembangunan pos di daerah Lontar yang anggarannya telah disiapkan sejak tahun lalu. “Mitigasi bencana harus berbasis sektor. Setiap permukiman padat minimal ada pos yang bisa menjangkau. Kita ngejar golden time, setahu saya tidak boleh lebih dari 10 menit,” tegas dia.
Yuga juga mengapresiasi pengadaan armada khusus busa untuk menangani kebakaran di kawasan industri seperti Margomulyo. Menurut dia, Surabaya sebagai kota industri perlu peralatan yang sesuai. Dia memastikan kebutuhan alat pelindung diri (APD) dan kendaraan operasional damkar saat ini sudah terpenuhi.
Lebih lanjut, Yuga menyebut DPKP Surabaya tidak hanya menangani kebakaran di kota, tapi juga sering diminta bantuan ke daerah lain di Jawa Timur. “Contohnya kemarin kebakaran di Bromo, teman-teman DPKP Surabaya juga berangkat,” terang dia.
Ditanya soal program sosialisasi dan pelatihan untuk warga guna mengatasi kebakaran kecil sejak awal? Yuga menyebut DPKP Surabaya rutin menggelar sosialisasi setiap bulan, terutama kepada ibu-ibu dan pengurus RT. Materinya meliputi penanganan kebocoran LPG dan korsleting sejak dini.
“Kalau kebocoran LPG sudah di atas 10 menit itu sudah merambat ke mana-mana. Tapi kalau baru 3-4 menit masih bisa diatasi sendiri. Ini yang harus digencarkan. Ibu-ibu di rumah paling banyak, jadi mereka yang bisa menjaga,”tutur Yuga.
Dia juga mengapresiasi langkah DPKP yang turun langsung memberikan praktik agar warga tidak panik saat menghadapi kebakaran kecil. “Apalagi cuaca seperti ini, kesebul dikit iso api. Itu yang harus diwaspadai,” pungkas dia. KBID-BE
