
KAMPUNGBERITA.ID – POLISI menemukan pakaian yang diduga dikenakan korban sebelum menjadi korban mutilasi di Pasar Besar, Kota Malang, Jawa Timur.Rok merah dan kemeja putih bermotif bunga ditemukan polisi di lokasi kejadian beserta barang bukti lain berupa sepasang sandal dan beberapa potong pakaian laki-laki.
“Kami menduga pakaian itu adalah pakaian yang digunakan korban sebelum dieksekusi,” kata Kasie Inafis Polda Jatim, Kompol Adrial, ketika ditemui di lokasi kejadian, Rabu (15/5/2019).
Ia menjelaskan, pakaian yang diduga digunakan korban ditemukan dalam kondisi tercecer di ujung tangga bagian atas. Di lokasi itu pula, ditemukan sebuah spanduk berlumuran darah yang diduga sebagai alas saat pelaku memotong tubuh korban.
“Di ujung tangga situ ada spanduk yang kami duga sebagai tempat eksekusi. Karena banyak darah di situ,” kata dia.
Hingga saat ini identitas mayat korban mutilasi tersebut belum diketahui. Pelacakan identitas melalui sidik jari korban pun terhambat karena kondisi jari korban sebagian besar telah membusuk. Adrial mengatakan Tim Inafis Polda Jatim memfokuskan penyelidikan dengan mencari sidik jari pelaku di lokasi pembunuhan.
Di sisi lain, Dinas Perdagangan Kota Malang dianggap kecolongan, terkait penemuan mayat Mrs X. Hal itu ditegaskan pedagang perlengkapan ABRI bernama Rudiyanto (24). “Masuk akal sekali jika Dinas Perdagangan
dianggap kecolongan atau kebobolan. Kami pedagang di PBM, mempertanyakan pengamanan di PBM,” tegasnya.
“Ini urusan nyawa lo, bukan soal kehilangan barang. Pengawasan maupun pengamanannya, kenapa kog kurang diperhatikan,” tandasnya.
Lebih jauh Rudiyanto mengatakannya, saya selaku pedagang saja. Sewaktu ada barang ketinggalan di bedak, manakala mau mengambilnya. Petugas sekuriti PBM dengan ketat mengawal pengambilan barang tersebut.
“Tapi anehnya, soal pembunuhan mutilasi kok bisa sampai tidak ketahuan. Sejauh mana pengamanan dan pengawasannya,” cetusnya.
“Ditambah lagi, pasca kejadian juga tidak ada tanda – tanda peningkatan keamanan dan pengawasannya,” tukasnya.
Terpisah, petugas kebersihan lingkungan PBM Suko Prasetyo menuturkan, bisa jadi eksekusi korban berlangsung pada kondisi sepi total. “Sangatlah tidak mungkin dilakukan pada jam aktifitas, ASN kantor PBM kerap mondar – mandir. Ditambah banyak orang lalu lalang,” tutur Suko.KBID-NAK
