KampungBerita.id
Surabaya Teranyar

Masih Tercantum di RTRW Nasional dan Provinsi Jatim, Komisi A Dorong Pemkot Surabaya Realisasikan Jalan Tol Tengah Kota

Anggota Komisi A, Imam Syafii.@KBID2021

KAMPUNGBERITA.ID – Rencana pembangunan jalan tol tengah kota di Surabaya memang sudah menjadi polemik sejak lama. Bahkan, pada 2014 pernah ditolak Tri Rismaharini ketika masih menjabat Wali Kota Surabaya.

Meski demikian, pembangunan jalan tol tengah kota yang konon membutuhkan anggaran Rp 6, 5 triliun itu masih tercantum dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional dan RTRW Provinsi Jatim.

Hal ini terungkap ketika Komisi A DPRD Kota Surabaya hearing dengan Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) Kota Surabaya, terkait RTRW Kota Surabaya di ruang Komisi A, Kamis (20/5/2021).

“RTRW itu sendiri bisa 30 tahun digunakan, tapi kan per lima tahun dievaluasi, ” ujar anggota Komisi A DPRD Kota Surabaya, Imam Syafi’i, Kamis (20/5/2021).

Bahkan, lanjut Imam Syafi’i, dalam diskusi dengan DCKTR, Komisi A menanyakan apakah rencana pembangunan jalan tol tengah kota tidak sebaiknya dibahas lagi. Mengingat warga Surabaya sangat membutuhkan jalan tol tengah kota.

Seperti diketahui jalan tol tengah kota yang dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan di tengah kota itu berupa jembatan layang sepanjang 25 km yang menghubungkan wilayah Waru -Wonokromo- Tanjung Perak. Bahkan, sudah tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Jawa Timur.

“Saya rasa rencana pembangunan tol tengah kota ini perlu direalisasikan. Kenapa demikian? Karena kenyataannya sampai saat ini lalu lintas di Surabaya masih sering macet, meski sudah ada ring road di timur,” ungkap Imam Syafi’i.

Politisi Partai Nasional Demokrat (NasDem) Kota Surabaya menjelaskan, kemacetan di Kota Surabaya tidak hanya pada jam-jam pagi atau sore, ketika orang berangkat dan pulang kerja, tapi hampir setiap jam.
Karena itu, Komisi A memandang rencana pembangunan jalan tol tengah kota itu harus dihidupkan lagi.

Apalagi, lanjut Imam Syafi’i, pihaknya membaca di media-media, kalau dulu investor jalan tol tengah kota menyerahkan desainnya kepada Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim.
Misalnya, harus dekat atau di pinggir rel kereta api atau apa sajalah. Yang penting jalan tol tengah kota bisa dibangun.

Menurut dia, kalau memang jalan tol tengah kota itu masih dibutuhkan, kenapa tidak direalisasikan? “Karena ini penting bagi warga. Bayangkan saja warga dari Sidoarjo mau ke tengah kota, meski frontage road (FR) di beberapa jalan seperti di sepanjang Jalan Ahmad Yani sudah tidak macet, tapi sampai hari ini masih ada bottleneck. Itu terjadi di Wonokromo dan Joyoboyo.

Sebaliknya ketika pulang, menjelang flyover Wonokromo sering macet hingga Margorejo. Karena itu, siapa tahu dengan adanya jalan tol tengah kota lalu lintas di Surabaya makin lancar dan bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi, ” tegas dia.

Ditanya soal proyek ini pernah ditolak Tri Rismaharini ketika masih menjabat Wali Kota Surabaya?
Imam Syafi’i yang mantan jurnalis ini menuturkan, dulu dirinya juga mengamati rencana proyek tersebut. Bu Risma, panggilan Tri Rismaharini, dulu menolak dengan alasan tak jelas. Misalnya, takut mematikan toko-toko yang dilewati jalan tol tengah kota, tapi kenyataan di lapangan tidak demikian.

Menurut Imam Syafi’i, Pemkot Surabaya bisa belajar dari flyover Pasar Kembang.
“Dulu waktu flayover Pasar Kembang akan dibangun oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur kan ditolak karena takut nanti toko-toko di bawahnya akan mati. Kenyataannya kan tidak, ekonomi tetap jalan dan lalu lintas di atasnya lancar. Jadi tak ada masalah kan, ” papar dia. KBID-BE

Related posts

Terima Kunjungan Mahasiswa Unesa, Ketua Golkar Surabaya Ajak Kawal Proses Pemilu 2024

Baud Efendi

Desa Pajeng-Gondang Wakili Bojonegoro di Lomba Pelaksanaan Gotong Royong Tingkat Jatim 2024

DJUPRIANTO

Dituduh Memukuli Bocah, Dua Remaja jadi Korban Perampasan

RedaksiKBID