Empat Saksi Dihadirkan dalam Sidang Kasus Jual Beli Tanah Rp 1,2 Miliar di Kelurahan Buring

Dr. M Khalid Ali pengacara dari terdakwa Saiman. @KBID2020

KAMPUNGBERITA.ID – Jual beli tanah senilai Rp 1,2 miliar di kawasan Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang Kota Malang. Melibatkan empat orang, antara lain dua warga Buring yakni Nasi’ah dan Sugiarto Arifin, dengan Saiman (70) warga Desa Mangliawan, Kabupaten Malang.

Lanjut transaksi berikutnya antara Saiman dan PT STSA (sapta tunggal surya abadi) Malang. Senilai total Rp 1,8 miliar, pada tahun 2014 sampai 2016 silam. Hingga memunculkan permasalahan dan berakhir di meja hijau, karena dinilai ada kerugian sebesar Rp 600 juta.

Sidang tahap kesaksian dipimpin langsung oleh Ketua Majelis Hakim Nuruli Mahdilis, SH, MH ketua PN, didampingi dua hakim yakni Sri, SH dan Sugianto, SH. Serta jaksa penuntut umum (JPU) Ahmad Heriyanto.

Banyak pertanyaan disampaikan oleh hakim dan JPU. Terungkap dalam persidangan di PN Kota Malang. Salah satunya dari saksi Adji Prayitno (Direktur). Mengklaim mengalami kerugian sebesar Rp 600 juta. “Disebabkan luasan tanahnya tidak sesuai dengan faktanya,” kata Adji Prayitno di persidangan, Senin (16/03) malam.

Termasuk empat saksi lainnya turut dihadirkan seperti Hany Irwanto (Manajer), Erma Sriwedari (bagian akuntan), Valian (pengawas taman). Terakhir, saudara Zaenal Arifin (satpam) kesemuanya dari PT STSA.

Namun saat didengarkan kesaksiannya secara keseluruhan, kendati mengaku mengalami kerugian ratusan juta rupiah. Ternyata proses kerja di lingkungan PT STSA, hingga pembebasan lahan milik petani untuk perluasan kawasan.

Terinformasikan, menunjukkan perseroan terbatas tidak seperti pada umumnya. Satu contoh, dalam perekrutan karyawan kerja. PT STSA hanya bermodalkan saling percaya tanpa SK (surat keputusan) dari seorang Dirut.

Kedua, terbukti pada keterangan di persidangan, seorang Direksi menandatanganani dokumen penting. Untuk keperluan pengeluaran keuangan atau pembayaran, dalam jumlah nilai ratusan hingga miliaran rupiah.

Tanpa dilakukan kroscek lebih detail lagi plus tidak ada rapat internal sebelumnya. Justru dengan mudahnya langsung menandatanganinya sekaligus melepaskan uangnya (cek) begitu saja.

Ketiga, saksi satu sama lainnya saling mengingkari dan tidak sinkron dalam memberikan kesaksiannya. Keempat, ke lima saksi tidak memiliki keahlian tugas bidangnya. Kelima, banyak terjadinya kecerobohan dan kurangnya profesionalitas dalam menjalankan tugas kerja.

Hal itu menjadikan penasehat hukum dari Saiman yakni Dr M Khalid Ali dan Edy Nugroho, SH, MH merasa kurang yakin dengan tuduhan dakwaan yang disangkakan kepada kliennya. “Kesaksian yang disampaikan ke lima orang tersebut, khususnya saudara Erma Sriwendari. Patut dibatalkan oleh yang mulia majelis hakim,” ucap Khalid.

“Kesaksian yang disampaikan sangat jauh dari fakta yang sebenarnya. Menjadikan klien (Saiman) kami, akhirnya dikorbankan oleh oknum yang berkepentingan. Hanya demi meraup nilai rupiah semata,” pungkasnya. KBID-WAN