
KAMPUNGBERITA.ID – Banjir yang terjadi di Surabaya akibat hujan deras Jumat (31/1) tidak terkendali. Sejumlah titik yang sebelumnya bisa diminimalisir atau bahkan tidak lagi terjadi banjir, pada Jumat kemarin kembali terendam air cukup parah.
Sejumlah masyarakat pun menyoroti kinerja Pemkot Surabaya terkait penanganan banjir. Pemkot (Risma-red) yang kerap menyebut banjir hanya sebatas genangan air dan akan segera cepat surut, dibuat kelabakan dengan melimpahnya air ke perkampungan-perkampungan, jalan raya, dan tempat-tempat umum termasuk fasilitas publik seperti rumah sakit dan perkantoran.
Mereka (masyarakat, red) menilai, banjir yang terjadi kali ini seolah kembali di era 90-an. Masyarakat bingung lantaran penyebab banjir tiap hujan tidak juga diungkapkan. Apakah faktor meraknya pembangunan, atau yang lainya, masih belum jelas.
”Entahlah, alasanya yang kami dengar selalu pompa air macet lah, rusak lah, kalaupun ada banyak pompa kalau saluran airnya tidak menampung ya tetap banjir,” kata salah satu pengendara motor yang terjebak banjir saat melintas di kawasan Makodam V Brawijaya.
Menurutnya, banjir kali ini cukup parah, dan mirip tahun 90-an. Sebab, kawasan Makodam V Brawijaya, teramsuk Jl Ciliwung, Kutai, Hayam Wuruk, Gajahmada, Karangan, ikut terendam air hampir setinggi lutut orang dewasa. Sebelumnya, kata dia, kawasan tersebut sempat tidak lagi terjadi banjir. ”Lha kali ini banjir lagi,” katanya.
Dia menambahkan, banjir yang merata bahkan di Jl Ahmad Yani juga terendam banjir mengingatkan pemadangan pada tahun 90 an. Tahun-tahun itu, kata dia, Surabaya terkenal dengan kota yang kerap mengalami banjir.
Tak hanya disekitaran Makodam V Brawijaya, banjir yang ‘gagal’ surut cepat juga terjadi kawasan Gayungan. Di Gayungsari misalnya, air banjir masih belum surut hingga pukul 23.00 WIB. demikian pula di kawasan Jl A Yani.
Kondisi ini membuat Anggota DPRD Surabaya M. Machmud geram. Menurutnya, banjir tetap banjir, bukan lagi genangan namanya kalau seperti yang terjadi pada Jumat (31/1).
Machmud yang berdomisili di Surabaya Barat juga menerima laporan ratusan masyarakat terkait banjir yang melanda wilayanya. Menurutnya, Pemkot hanya memindahkan titik banjir dari satu sisi ke sisi lainya.
Machmud berharap kinerja pemkot benar-benar didasarkan pada perencanaan yang matang. Bukan sekadar pada pencitraan ke publik. Sebab, kata dia, yang dicitrakan Pemkot ke luar terkesan baik-baik saja, padahal kondisi di dalamnya ambruradul.
”Salah satunya banjir ini,” katanya.
Dia meminta pemkot fair, apabila banjir yang terjadi memang benar-benar banjir sehingga perlu penanganan serius, bukan lagi genangan sebagaimana yang kerap didengungkan dan menjadi meme-meme lucu para netizen.
”Sabar, itu hanya genangan, bentar lagi surut,” demikian meme kalimat yang kerap muncul menyikapi banjir di Surabaya di sejumlah media sosial.KBID-NAK
