
KAMPUNGBERITA.ID – Kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) di jalan Kusuma Bangsa Surabaya dirasa sangat sepi akan pengunjung. THR merupakan icon kota Surabaya yang pernah ngetop di masa lalu.
Hal ini perlu dihidupkan kembali apalagi berkaitan dengan pertunjukan ketoprak maupun ludruk agar bisa mengangkat perekonomian warga masyarakat kota surabaya.
“Taman Hiburan Rakyat (THR) ini perlu diupayakan hidup kembali agar tidak terlihat terlalu sepi,” ujar anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Sugito , Rabu (3/4).
Menurut Politisi Partai Hanura ini, perlunya dihidupkan kembali kawasan THR karena merupakan icon kota Surabaya yang pernah ngetop masa lalu apalagi berkaitan dengan pertunjukan ketoprak dan ludurk sekarang jarang sekali terlihat.
“Kalau THR bisa hidup dan ramai seperti dulu tentu ini akan bisa tumbuh perekonomian warga kota surabaya,” katanya ketika ditemui ruang Komisi D DPRD Kota Surabaya.
Untuk itu, Ia meminta kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk berupaya menghidupkan kembali kawasan THR diisi dengan acara pertunjukan seperti ketoprak maupun ludruk yang merupakan seni budaya lokal surabaya maupun jawa timur.
“Masyarakat juga harus peduli dengan seni budaya lokal ini, agar kawasan THR bisa hidup dan bergairah lagi seperti masa-masa lalu dulu,” pungkasnya.
Seperti diketahui, THR saat ini sepi pengnjung. Gedung kesenian yang biasanya ramai kini cukup memprihatinkan. Bangunannya yang tua, fasilitas tak lengkap dan minimnya penerangan membuat tempat yang menjadi cikal bakal lahirnya seniman-seniman hebat dari Surabaya makin terkubur.
Sejumlah seniman ludruk berharap agar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memindahkan gedung kesenian ludruk ke depan.
Meimura, pegiat ludruk Irama Budaya Nusantara menjelaskan, Risma pernah melontarkan wacana itu di pertengahan tahun 2017. Tepatnya di bulan Mei, seusai ia dan kelompoknya menampilkan kesenian ludruk kepada anak-anak SD. Ia kala itu menyebutkan bahwa kontrak pemerintah kota dengan pengelola Hitech Mall yang berlokasi tepat di depan gedung THR ini tidak akan diperpanjang. Dan akan dibangun gedung kesenian untuk mewadahi seniman Surabaya dalam beraktivitas.
Meimura menjelaskan, pemindahan gedung kesenian ke depan bukan lagi harapan melainkan suatu keharusan. Pasalnya, sampai saat ini Surabaya belum memiliki ruang representatif untuk menampilkan kekayaan kebudayaan di Surabaya. KBID-PAR
