KampungBerita.id
Kampung Raya Madrasah Surabaya Teranyar

Perobek Bendera Belanda di Hotel Yamato Belum Diungkap, Prof Katjung Maridjan Sepakat Ada Revisi Penulisan Sejarah

Prof Katjung Maridjan.@KBID-2023.

KAMPUNGBERITA.ID-Siapa pemuda yang merobek kain biru pada bendera Belanda saat pertempuran 10 November 1945 di Hotel Yamato Surabaya (Hotel Majapahit saat ini), belum dijelaskan secara gamblang pada buku-buku sejarah yang selama ini beredar.

Hal ini diungkap Guru Besar Ilmu Politik Universitas Airlangga, Prof Katjung Maridjan saat berbicara pada Orasi Kebangsaan: Resolusi Jihad Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari Sebagai Fakta Sejarah Berdirinya Republik Indonesia di Aula Ternate Aseec Kampus B Unair Surabaya, Kamis (31/8/2023) lalu.

Menurut dia, langkah berani dan inisiatif tak terduga dari para pemuda yang naik ke atas hotel di mana bendera itu dikibarkan perlu mendapat tempat dalam catatan sejarah, terutama di buku-buku sejarah.

Alasannya, tidak semua pejuang saat itu memiliki inisiatif dengan tindakan berani melakukan hal tersebut. Mereka yang naik ke Hotel Yamato tahu betul risiko terkena timah panas penjajah yang ingin kembali merebut Surabaya.

Prof Katjung menjabarkan, saat itu perlawanan besar justru dilakukan oleh banyak organisasi masyarakat. “Di Jawa Timur perlawanan lebih besar lantaran didukung Fatwa Resolusi Jihad yang dikeluarkan Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari,” tutur dia.

Ulama dan Santri se-Jawa dan Madura tumpah ruah di Surabaya. Ini yang membuat pasukan sekutu terheran-heran lantaran perlawanan seakan tidak ada habisnya.

“Saya kira perlawanan rakyat yang dikomandani Bung Tomo tidak akan hebat kalau tidak ada peran ulama dan tidak didukung adanya Resolusi Jihad yang menegaskan berperang melawan penjajah wajib hukumnya,” kata dia.

Di sinilah kemudian, lanjut dia, peran pemuda-pemuda dari berbagai kalangan sangat menonjol, salah satunya pemuda Ansor yang melakukan perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato.

Namun, jelas dia,, ini tidak ditulis dalam buku sejarah. “Mungkin ulama dan santri waktu itu memang cukup ikhlas sehingga tidak memikirkan soal fakta sejarah ke depan,” kata dia.

Untuk itu, lanjut Prof Katjung, dirinya sepakat adanya revisi penulisan sejarah. Terutama mengenai adanya Resolusi Jihad yang berperan cukup vital dalam berdirinya Indonesia.

“Ada banyak buku sejarah, namun lagi-lagi peran ulama dan santri tidak dimunculkan, makanya perlu kita revisi,”pungkas dia. KBID-BE

Related posts

Tim Gabungan Polres Situbondo dan Polda Jatim Kembali Membekuk 15 Pelaku Pengerusakan dan Penganiayaan

RedaksiKBID

Banjir Bandang Terjang Kota Batu, 5 Desa di Bumiaji Terdampak

RedaksiKBID

Warga kembali Laporkan ‘Surat Risma untuk Warga’ ke Bawaslu

RedaksiKBID