KampungBerita.id
Kampung Raya Surabaya Teranyar

Predikat Surabaya Kota Layak Anak Tercoreng, Komisi D Dukung Langkah SMA Gloria 2 Lakukan Penegakan Hukum

Pihak SMA Gloria 2 Surabaya, Dinas Pendidikan Kota Surabaya, dan Perwakilan Dinas Pendidikan Jatim saat hearing di Komisi D.@KBID-2024.

KAMPUNGBERITA.ID-Viralnya video keributan di depan SMA Gloria 2 Surabaya yang beredar luas di media sosial (medsos) dan diduga buntut dari pertandingan Basket Next Gen di Mall Ciputra World akhir pekan lalu, Kamis (24/10/2024) siang, Komisi D DPRD Kota Surabaya memanggil Dinas Pendidikan Jatim, Dinas Pendidikan Kota Surabaya, DP5A Kota Surabaya dan Kepala Sekolah SMA Gloria 2 Surabaya dan para guru untuk memberikan klarifikasi terkait kasus tersebut.

Dalam rapat hearing, semua pihak yang diundang memberikan penjelasan yang mana di situ diduga ada kekerasan yang memang patut disayangkan terjadi.

Anggota Komisi D, Abdul Ghoni Mukhlas Niam mengatakan, beberapa sudah dijelaskan dengan baik oleh pihak yang diundang, termasuk guru dan Kepala Sekolah Gloria 2 Surabaya.

“Kita bisa melihat bahwa kasus bullying di Surabaya meningkat hampir 20 persen, ”
ujar Ghoni.

Untuk itu, politisi muda PDI-P ini menekankan kepada DP5A, Dinas Pendidikan dan yang lain untuk memberikan atensi agar Kota Surabaya ini bisa terjaga dengan baik. Artinya, Surabaya ini sudah menerima predikat Kota Layak Anak (KLA).

Kalau seperti ini, lanjut dia, harus menjadi evaluasi bersama. “Saya dengar kasus sudah ditanggapi oleh teman-teman Polrestabes Surabaya yang infonya masih dalam tataran mediasi,”kata dia.

Ghoni juga mengecam keras perihal tindakan orang tua yang melakukan tindakan semena-mena. Dari kaca mata hukum itu tidak diperkenankan. Untuk itu, Komisi D mendorong pihak sekolah Gloria 2 Surabaya untuk memproses kejadian ini agar bisa memberikan edukasi kepada warga kota Surabaya untuk tidak melakukan tindakan semena-mena.Dengan begitu, kekerasan terhadap anak tidak terjadi lagi di Surabaya.

“Dari awal saya sudah mengutarakan langsung kepada DP5A dan Dinas Pendidikan, dan sejauh ini mereka sudah melakukan tindakan yang luar biasa. Tapi kita tidak bisa menggeneralisir secara keseluruhan,” kata dia.

Ghoni menengarai problemnya  ada pada pola komunikasi. Dari awal, Ghoni sudah menekankan kepada Dinas Pendidikan, bahwa tugasnya tidak hanya mengedepankan transfer knowledge
saja, tapi juga transfer value juga penting. “Saya tekankan pendidikan corak karakter warga masyarakat Surabaya itu adalah corak yang humble, toleran, dan memiliki kebersamaan. Arek Suroboyo itu harus seperti apa? Harus memiliki kebersamaan karena membangun kota ini tidak berdiri sendiri,” tandas dia.

Ghoni menyebut bahwa pendidikan ini dipengaruhi oleh tiga hal, yakni orang tua, sekolah, dan lingkungan. Karena itu, dia amat menyayangkan pihak sekolah bahwasannya itu di luar sekolah.

“Perihal persoalan apapun itu, dengan dalih apapun, mungkin itu menjadi tanggung jawab bersama, ” tegas dia.

Apa dampak bagi SMA Gloria 2, Ghoni menjelaskan, dampak negatifnya, sejauh ini lembaga pendidikan SMA Gloria 2 dalam kacamata warga kota Surabaya ya “negatif”. Maka dari itu, dirinya mendukung langkah untuk penegakan marwah atau penegakan hukum terhadap orang tua yang bersangkutan sehingga ada efek.Dalam arti bisa memberikan edukasi kepada masyarakat warga kota Surabaya untuk tidak melakukan hal yang semena- mena seperti itu.

Hal senada diungkapkan anggota Komisi D lainnya, William Wirakusuma. Politisi PSI meminta Dinas Pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP5A)
Kota Surabaya untuk mendampingi penanganan atas bullying siswa SMA Gloria 2.

“Korban bullying siswa setelah diperlakukan tidak layak pasti ada trauma. Bahkan, orang tua korban bullying sampai kejang-kejang. Ini kan sangat tidak baik,” ujar dia.

William berharap ke depan tidak terulang lagi kejadian seperti ini di Surabaya. Komisi D pun mendesak Dinas Pendidikan Kota Surabaya agar memonitor sistem keamanan di sekolah. “ Ini agar siswa-siswi belajar di lingkungan sekolah dengan rasa aman,” ungkap mantan anggota Komisi C ini.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Yusuf Masruh berharap kejadian seperti ini tidak terjadi lagi di Surabaya. Bahkan pihaknya akan menginisiasi program sekolah dan orang tua agar dapat saling bersinergi.

“Contohnya di kegiatan pendampingan kekerasan anak itu akan kita tingkatkan, harapannya anak-anak bisa saling bersinergi satu sama lain dan hal-hal seperti ini tidak terjadi,” kata Yusuf Masruh.

Konsultan Hukum SMA Gloria 2 Surabaya, Sudiman Sidabukke bersama Kepala Sekolah SMA Gloria 2, Deborah Indriati usai hearing di Komisi D.@KBID-2024.

Sementara Konsultan Hukum SMA Gloria 2, Sudiman Sidabukke menyesalkan terjadinya kericuhan di depan SMA Gloria 2.

“Saya sudah puluhan tahun menjadi konsultan hukum SMA Gloria 2. Jadi, bukan karena peristiwa ini,” jelas dia, soal kehadirannya di hearing Komisi  D.

Menurut dia, permasalahan ini sudah viral bukan hanya regional, tapi sudah nasional.
“Terus terang kami sangat sesalkan peristiwa ini. Kenapa kok sampai terjadi,”kata dia.

Meski demikian, lanjut Sudiman, pihaknya akan tetap menindaklanjuti ini sampai persoalannya menjadi jelas. Karena itu, dia berharap nanti akan terbukti siapa yang salah dan siapa yang benar. Biarlah hukum yang berbicara.

“Ya, paling tidak ini harus ada sebuah kepastian agar tidak ditiru oleh yang lain. Karena Surabaya ini adalah kota pendidikan yang nyaman dan tenang dan membuat masyarakat tidak takut di Surabaya, khususnya anak-anak juga tidak takut ke sekolah. Kira -kira itu idealisme kami. Yang jelas kami tetap akan menindaklanjuti persoalan ini ke jalur hukum, ” ungkap dia.

Dia mengaku, sudah mempersiapkan semuanya.
“Laporan Ini akan kita sampaikan secara resmi ke Polrestabes Kota Surabaya pada Senin (28/10/2024), ” tandas dia.

Selain itu, kata Sudiman, dirinya bersama
sejumlah orang tua murid yang resah dan juga sejumlah guru.
sudah mengajukan permohonan audiensi dengan
Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan.

Ditanya soal materi yang akan dilaporkan ke Polrestabes, Sudiman menegaskan, tentang perlakuan yang tidak sebagaimana mestinya, memaksakan kehendak kepada orang lain. “Nanti pasal-pasalnya kita konkretkan,” imbuh dia.

Apa benar ada yang menodongkan senpi, Sudirman mengaku tidak tahu. “Ah… itu kita tidak tahu, ” tegas dia.

Yang jelas, lanjut dia, yang datang itu ada ancaman secara langsung, tapi juga ada ancaman secara tidak langsung yang membawa dampak psikologis bagi orang tua yang tinggal di rumah dan membaca berita-berita yang viral di medsos tersebut.

Selain itu, juga berdampak pada anak anak yang menyaksikan peristiwa tersebut. Karena kejadian itu terjadi pada saat bubaran sekolah dan orang tua jemput anaknya.

“Jadi mereka menyaksikan tindakan kekerasan itu secara langsung. Bahkan, mereka sekarang sangat khawatir dengan anak anaknya. “Ini mesti dipulihkan dengan penegakan hukum, “tegas dia.

Terkait Komisi D yang memberikan dukungan kepada pihak SMA Gloria 2 melakukan langkah hukum? Sudiman sangat mengapresiasi kepedulian wakil rakyat yang mendukung tindakan Gloria menindaklanjuti persoalan ini ke ranah hukum.

Soal kedua orang tua siswa yang yang ribut sudah berdamai dan kasus ini klir, Sudiman menyatakan, pengertian damai dan klir itu pihaknya tidak tahu. Mungkin di antara mereka bermasalah antara orang tua siswa yang memang anaknya diganggu dan orang tua siswa yang anaknya menganggu.

“Buat kami itu adalah persoalan mereka (kedua orang tua yang berselisih) dan saya pikir itu terserah mereka saja. Tapi buat kami, karena sudah membawa nama SMA Gloria 2 dan peristiwa itu terjadi di halaman Gloria. Dampaknya, para orang tua murid itu merasa khawatir, aman enggak sih sekolah di Gloria. Ini tentu akan kita sikapi, “pungkas dia.KBID-BE

Related posts

Komisi B Nilai Kinerja PD Pasar Kurang Bagus, John Thamrun: Harus Ada Perombakan Total

RedaksiKBID

Pantau Persiapan Natal, Whisnu Sakti Kunjungi GKI Diponegoro Surabaya

RedaksiKBID

Besok, DPRD Surabaya Gelar Sidang Paripurna Penetapan Raperda RTRW 2025-2045 Jadi Perda Kota Surabaya

Baud Efendi