
KAMPUNGBERITA.ID-Pemkot Surabaya sedang menggodok rencana penerapan sistem pengelolaan limbah domestik terpusat yang terintegrasi dan ramah lingkungan. Melalui sistem ini, limbah rumah tangga, baik dari cucian, mandi, dan septic tank pribadi maupun septic tank komunal, akan diolah menjadi energi terbarukan berupa gas, listrik, serta pupuk.
Hal ini diungkapkan Ketua Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pengelolaan Air Limbah Domestik, Baktiono. Menurut dia, pengelolaan air limbah domestik ini adalah hasil kajian dari
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Pengembangan (Bappedalitbang) Kota Surabaya untuk membuat limbah domestik yang banyak dikelola setempat, sekarang akan dipusatkan di satu titik yang dikelola oleh Pemkot Surabaya. “Jadi isinya limbah-limbah rumah tangga, baik cucian, mandi, dan septic tank. Sementara ini beberapa pengelola swasta yang semula ada di daerah Keputih, nanti akan dikelola lebih baik lagi seperti daerah lain,”ujar dia.
Baktiono yang juga anggota Komisi B ini menjelaskan, bahwa konsep tersebut merupakan pengembangan dari program septic tank komunal yang selama ini telah diterapkan di kawasan permukiman padat dan gang sempit.
“Selama hampir 10 tahun terakhir, Pemkot Surabaya sudah membangun septic tank komunal di wilayah yang tidak memungkinkan memiliki septic tank mandiri. Ke depan, seluruh sistem itu akan disalurkan ke pengolahan limbah terpusat,”ungkap Baktiono.
Menurut politisi senior PDI-P, sistem baru ini akan mengintegrasikan septic tank komunal dan septic tank milik warga ke dalam satu jaringan saluran yang bermuara di pusat pengolahan limbah. Limbah tidak hanya diolah agar aman bagi lingkungan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber energi dan pupuk yang bernilai ekonomi.
Baktiono menyebutkan, konsep pengelolaan limbah terpusat tersebut mengadopsi sistem yang telah diterapkan di Kabupaten Badung hingga Denpasar, Bali. Di wilayah tersebut, limbah domestik berhasil diolah menjadi gas dan energi listrik. “Di Bali, limbahnya bisa dimanfaatkan menjadi gas, listrik, dan pupuk. Surabaya ingin menuju ke arah itu, tetapi dengan teknologi yang lebih modern dan tanpa mengganggu aktivitas masyarakat,” tandas dia.
Dari sisi teknis, Baktiono menegaskan bahwa Surabaya tidak akan menggunakan metode lama yang mengharuskan pembongkaran jalan, seperti pemasangan box culvert beton di tengah jalan. Sebagai gantinya, akan digunakan pipa berbahan polyurethane (PU) yang dipasang dengan metode penarikan. “Teknisnya mirip pemasangan pipa PDAM. Jadi tidak merusak jalan dan tidak mengganggu pengguna jalan,”tambah dia
Selain limbah rumah tangga, limbah industri juga tetap menjadi perhatian. Baktiono menegaskan bahwa setiap industri di Surabaya telah diwajibkan memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). “Untuk limbah industri, kewajiban IPAL sudah berjalan. Contohnya di kawasan industri Surabaya Industrial Estate Rungkut
(SIER) yang memiliki IPAL terpusat. Limbahnya tetap dikelola agar aman dan bahkan bisa dimanfaatkan,” tutur Baktiono.
Dengan sistem ini, masyarakat juga tidak lagi dibebani kewajiban menguras septic tank secara mandiri. Pemkot Surabaya akan melakukan pengelolaan dan pengambilan limbah secara berkala melalui sistem kontrol terpadu.”Jadi bukan menunggu septic tank penuh. Pemkot yang akan mengatur jadwal pengambilan secara rutin,” tegas Baktiono.
Terkait pendanaan, dia menyampaikan bahwa proyek pengelolaan limbah terpusat ini membuka peluang kerja sama dengan pihak ketiga, baik BUMN maupun swasta. Skema kerja sama seperti Build Operate Transfer (BOT) masih akan dibahas lebih lanjut sesuai dengan regulasi yang berlaku. “Di Palembang sudah ada kerja sama dengan swasta, di Bali bahkan melibatkan pemerintah Jepang. Surabaya juga membuka peluang kerja sama agar pengelolaan limbah bisa berjalan optimal,” pungkas Baktiono.KBID-BE
