
KAMPUNGBERITA.ID – Anggota Komisi C DPRD Surabaya, Vinsensius Awey bersikukuh menolak perubahan dua jalan tersebut. Awey mengatakan, alasannya karena dua jalan tersebut mempunyai nilai sejarah yang panjang.
“Sejak Jaman (Penjajahan) Daendels jalan tersebut tak diubah,” tuturnya
Ia mengaku, tak mempermasalahkan alasan rekonsiliasi antara Jawa timur dan Jawa Barat. Seperti yang tercantum dalam sejarah dua daerah ini hubungannya kurang harmonis pasca perang bubat antara Kerajaan Majapahit dan Sunda. Awey mendukung upaya rekonsiliasi tersebut.
“Tapai kalau ada perubahan nama jalan yang sudha mempunyai sejarah sedikit atau panjang, sama saja merubah sejarah,” ujar Politisi Partai Nasdem.
Awey menyarankan, dari pada mengganti nama jalan yang bersejarah, lebih baik mengganti nama jalan lain yang tak mempunyai nilai historis seperti Jalan Darmo Boulevard yang ada di sekitar PTC, Kawasan Surabaya Barat.
“Di situ hampir nilai sejarahnya kecil dan banyak tanah kosong sehingga dampaknya tak besar,” katanya
Upaya lain yang bisa ditempuh, menurutnya, dua nama jalan yang diusulkan yaknni Jalan Sunda dan Prabu Siliwangi bisa dijadikan nama Jalan Lingkar Luar Barat (JLLB) dan Lingkar Luar Timur (JLLT).
Awey menyampaikan, langkah lain yang bisa dilakukan untuk merealisasikan rekonsiliasi adalah dengan membangun monumen “The Battle of Bubat”. Monumen tersebut bisa dibangun di daerah Trowulan, Mojokerto, atau di Ibu kota Jawa Timur, yakni Surabaya. Kemudian dijadikan panggung budaya, sehingga menarik kunjungan waisatawan.
“Di panggung itu digelar tari-tarian atau budaya Jawa Timur dan Jawa Barat,” usulnya
Ia mengaku, sebenarnya banyak alternatif yang ditempuh guna mewujudkan rekonsiliasi du daeah Jawa Barat dan Jawa timur. Namun, untuk merubah nama jalan Dinoyo dan Gunungsari, ia tetap menolaknya. KBID-NAK

