KampungBerita.id
Kampung Raya Peristiwa Teranyar

Polisi Temukan 23 Senjata di Kamar Pelaku Penembakan Las Vegas

KAMPUNGBERITA.ID – Penembakan brutal yang terjadi di konser musik country Las Vegas disebut-sebut sebagai insiden teror era modern terparah dalam sejarah Amerika Serikat. Sebanyak 58 orang tewas sementara 500 orang lainnya terluka dalam insiden itu.

Pelaku penembakan diidentifikasi sebagai Stephen Paddock, pria kulit putih berusia 64 tahun, yang sebelumnya berprofesi sebagai akuntan.

Selang sehari pascakejadian, Polisi Las Vegas, Amerika Serikat, merilis jenis senjata yang digunakan oleh Stephen Paddock. Paddock melakukan aksinya sendirian dari kamar hotelnya di lantai 32 Mandalay Bay resort dan kasino.

Dia menembaki kerumunan massa dengan serampangan selama beberapa menit, hingga membuat orang-orang panik. Paddock diketahui memiliki 23 senjata, yang dibawa dengan 10 koper. Beberapa senjata itu berjenis senapan serbu dan sebagian lagi jenis senjata yang dimodifikasi menjadi senapan mesin.

Paddock punya dua alat yang menempel di senjata semi-otomatisnya yang bisa melepaskan tembakan secara otomatis.

“Senapan bump stock ini mengubah senapan semi otomatis menjadi senjata yang bisa menembakkan 400 sampai 800 peluru per menit,” kata Senator California Dianne Feinstein, seperti dikutip dari Washington Post, Selasa (3/10).

Senjata bump-stock ini telah menarik perhatian para ahli dalam beberapa tahun terakhir.

Tapi yang lebih menakutkan, dia memiliki lebih banyak senjata di rumahnya dan di mobilnya. Dia punya persediaan amonium nitrat, bahan kimia yang bisa digunakan untuk membuat bom, di dalam mobilnya.

Bahan kimia tersebut juga digunakan dalam peristiwa meledaknya sebuah truk pada 1995 yang membunuh 168 orang di Oklahoma City. Di rumahnya di Mesquite, polisi menemukan 19 senjata api lainnya, bahan peledak dan ribuan amunisi. Di rumah Paddock juga ada alat yang disebut “perangkat elektronik”.

Chris Sullivan, pemilik toko Guns & Guitars di Mesquite, mengatakan Paddock adalah salah satu pembeli yang tidak mau mengikuti standar umum prosedur pembelian senjata. Dan Chris mengatakan dia sedang bekerja sama dengan para penyelidik dalam kasus ini.

“Dia tidak pernah terlihat seperti orang yang tidak stabil atau tidak sehat,” kata Sullivan menyebut Paddock.

Chris tidak menyebutkan berapa banyak atau jenis senjata apa saja yang dibeli Paddock di toko dia.
Sementara Kakak Paddock, Eric Paddock, mengaku tidak menyangka adiknya tega melakukan pembantaian terhadap puluhan orang. Dia juga tidak melihat motif di balik penembakan yang dilakukan adiknya, mengingat selama ini hidupnya terbilang baik-baik saja.

“Dia hanya seorang pria biasa. Dia juga tidak memiliki masalah keuangan selama ini. Kami sama sekali tidak menyangka dan kami pun tercengang dengan kejadian ini,” aku Eric saat diwawancarai di Orlando, seperti dilansir dari laman metro.co.uk, Selasa (3/10).

Eric juga menyebut sikap adiknya terhadap keluarga selama ini baik. Dia juga rutin membantu ibunya dalam bentuk finansial.

“Baru-baru ini dia mengirim alat bantu jalan untuk ibu yang sudah berusia 90 tahun lewat jasa pengiriman,” paparnya.

Pada kesempatan tersebut, Eric juga menyampaikan rasa bela sungkawa terhadap para korban dan juga keluarga yang ditinggalkan.

“Kami turut berduka cita kepada para korban dan juga seluruh keluarga mereka,” sesalnya.

Sementara itu berdasarkan keterangan polisi, Paddock disebut sebagai mantan akuntan yang hidup berkecukupan. Dia juga disebut sebagai miliuner yang memiliki usaha di bidang properti.KBID-NAK

 

Di sisi lain, seorang saksi bernama Brianna Hendricks mengatakan dia mendengar seorang perempuan berteriak ‘kalian semua akan mati’ beberapa jam sebelum penembakan terjadi.
Wanita tersebut berteriak memberitahu kerumunan massa sekitar 45 menit sebelum konser dimulai. Akibat perbuatannya dia dan rekan prianya digiring pihak keamanan.

Kurang dari satu jam kemudian penembakan terjadi menyebabkan 58 orang tewas.
Brianna Hendricks mengatakan wanita yang berteriak itu berperilaku aneh.

“Ada seorang perempuan yang berlari dari belakang kami di konser itu dan dia memainakan rambut orang, bertingkah seperti orang gila dan dia bilang ‘kami semua akan mati’,” ujar Hendrick, seperti dilansir laman the Independent, Selasa (3/10).

“Seolah dia memberitahu kita untuk selalu waspada, atau dia terlibat dengan penembakan itu dan dia memberi tahu kita karena dia tahu kita akan mati. Itu menyeramkan. Dia seperti mengetahui apa yang akan terjadi,” katanya.

Nyonya Hendricks kembali ke Hotel Mandalay sekitar 15 menit sebelum penembakan, dan menyaksikan pembantaian itu dari kamar hotelnya.

“Itu membuatku tidak nyaman. Aku berpikir (peringatan wanita) itu ada hubungannya dengan penembakan,” katanya.

Dia menjelaskan wanita yang berteriak memberi peringatan itu dari ras hispanik, dengan tinggi badan 165 dan rambut coklat. Dan teman pria wanita itu juga hispanik.KBID-NAK

Related posts

Hadiri Sedekah Bumi, Eri Cahyadi Ajak Warga Sambikerep Lestarikan Budaya

RedaksiKBID

Hindari Klaster Baru, PSI Nilai Vaksinasi Door to Door Paling Tepat

RedaksiKBID

Pimpinan dan Anggota DPRD Kota Surabaya Mengucapkan Dirgahayu Republik Indonesia ke-77

RedaksiKBID